Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 116. TANGIS RIAN


__ADS_3

Malam itu juga, Herlan langsung menuju rumah kekasihnya yang sudah beberapa kali Ia datangi.


Herlan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis berwarna biru muda itu.


Herlan langsung mengetuk pintu tiga kali dan Tak lama kemudian, keluar seorang wanita yang mengenakan gaun tidur berwarna merah muda.


Senyum mengembang pada wajah wanita itu saat melihat wajah Herlan yang menjadi kekasihnya.


"Selamat malam sayang, tumben kamu mau datang ke sini nggak ngasih tahu aku dulu? tanya seorang wanita cantik dengan senyuman manisnya.


Herlan dan Larissa sudah menjalin hubungan satu tahun yang lalu. Namun, keduanya masih menyembunyikan hubungan mereka dari keluarga.


Mereka bekerja di kantor yang sama dengan pekerjaan yang sama.


"Larissa aku mau bicara penting sama kamu." ucap Herlan dengan sedikit ragu.


Herlan berusaha memberanikan diri untuk menyampaikan niatnya.


Walaupun dia tahu kedua orang tua Larissa sedang tidak ada di rumah karena memiliki pekerjaan di luar kota.


"Bicara apa? kita ngobrol di dalam saja." ajak Larissa.


"Tidak usah, aku mau kita segera menikah." ajak Herlan dengan suara yang hampir tercekat. Jujur saja, ia masih ragu untuk mengatakan itu.


"Segera menikah? maksudnya kapan? tanya Larisa dengan dahi mengerut.


Minggu ini, kalau bisa besok juga tidak masalah. Ini terdengar sangat mendadak. Opa aku yang meminta. Beliau sedang dirawat di rumah sakit. Kamu mau kan menikah sama aku? tanya Herlan yang membuat wajah Larissa langsung berubah ekspresi.


"Herlan, bukankah kita sepakat untuk menunda pernikahan? Kenapa harus secepat ini? minimal tahun depan lah baru kita menikah."


"Tidak bisa Larisa, Opa meminta aku untuk segera menikah." Herlan menggenggam kedua tangan kekasihnya.


"Aku tidak bisa, Karena aku belum siap menikah. kecuali.....


"Kecuali apa? Herlan menatap wajah cantik kekasihnya dengan intens.


"Kecuali Kamu mau ngasih aku mahar Mobil mewah, satu unit rumah, berlian satu set dan satu butik untuk aku kembangkan." Larissa tersenyum angkuh.


"Kamu, kok ngomong gitu sih?" wajah Herlan terlihat kesal


"Kalau nggak bisa, ya udah aku nggak mau nikah sama kamu."


"Larissa, please.....jangan banyak drama. Kamu tahu aku ini bukan berasal dari kaya raya. Kamu juga tahu aku hanya seorang karyawan, bukan seorang CEO. Tapi aku masih bisa memberikan kamu mahar lima puluh juta. Uang ini sudah sejak lama aku tabung.


"Sorry Herlan, lima puluh juta tidak ada apa-apanya. Aku tidak ingin sengsara setelah menikah." Larissa menarik tangannya dari genggaman Herlan.

__ADS_1


"Larissa, Aku pasti bisa membahagiakanmu. Percayalah!" Herlan akan menggenggam kembali tangan wanita itu, tetapi Larissa langsung menipisnya.


"Aku tidak percaya. Sorry aku tidak bisa menikah secepat ini!"


"Aku mencintai kamu, menikahlah denganku." ucap Herlan dengan wajah serius


"Sekali lagi, aku tidak bisa." Larissa segera masuk dan menutup pintu rumahnya.


"Larissa....,tunggu! Herlan akan mengejar langkah wanita itu. Namun, sayangnya pintu di hadapannya sudah tertutup rapat.


"Larissa!!!! teriak Herlan meluapkan amarahnya


"Kenapa Larissa seperti itu? Padahal selama ini ia selalu memberi apa yang kekasihnya minta.


Bahkan terkadang ia memberikan sebagian gajinya untuk wanita itu. Sungguh keterlaluan, ternyata Larissa tidak benar-benar mencintai Herlan. Dia hanya memanfaatkan Herlan saja.


Sementara di tempat lain, seorang wanita langsung menghampiri sahabatnya ketika mengetahui Andini sedang berada di rumah sakit.


Rian menghampiri sahabatnya dengan mata sebab dan wajah kacau.


Andini yang mengetahui sahabatnya akan datang ia keluar dari ruang rawat inap Tuan Pratama, dan menyambut kedatangan Ran.


"Andini!!! teriak Ran yang langsung menghambur ke dalam pelukan wanita itu.


"Rian, Kamu kenapa nangis kayak gini? tanya Andini Seraya mengusap punggung sahabatnya yang bergetar.


"Kita duduk dulu! baru kamu cerita."Andini mengajak Rian duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat inap Tuan Pratama.


Ran mengusap air mata dengan kasar.


"Ran sekarang kamu cerita! Ada apa sebenarnya? Andini menatap wajah sembab sang sahabat.


"Din, sorry banget ya. Aku sampai datang ke sini. Padahal Opa Kamu lagi sakit. Habisnya aku nggak tahu lagi mau cerita ke siapa. Aku coba hubungi si Mariska, tapi dia malah nggak aktif. Suara Mariska terdengar bergetar.


"It's okay, sekarang kamu cerita Ada apa? tumben kamu nangis kayak gini.


Rian yang notabennya jarang sekali terlihat sedih dan dia selalu kocak dan periang, saat ini Dia terlihat rapuh. Ran melihat ke kanan dan ke kiri. Pandangannya tertuju ke arah Dimas yang berdiri di depan pintu.


"Din, suami kamu nggak bisa pergi sebentar dari sini?" tanya Rian berbisik.


"Nggak bisa! itu sudah jadi CCTV abadi untuk aku. Udah kamu cerita saja, suamiku aman kok, nggak apa-apa." sahut Andini


"Maaf Pak Dimas, saya pinjam istrinya sebentar ya untuk bercerita." ucap Rian meminta izin dengan wajah canggung.


Dimas hanya mengangguk dengan senyum tipis.

__ADS_1


Terimakasih Pak Dimas. Bapak makin tampan deh, seru Rian yang langsung mendapat tatapan horor dari sahabatnya.


"Nggak usah. Mending sekarang kamu cerita, ada apa? Andini memalingkan wajah Rian agar tidak menatap ke arah suaminya.


"Din, ternyata papa aku punya hutang cukup besar sama bosnya. Dan papa Aku belum bisa bayar." jelas Ran dengan air mata yang kembali mengalir.


"Terus?


"Terus aku mau dinikahkan sama anak bosnya sebagai pelunas hutang."Rian menyeka air matanya dengan kasar.


"Jadi, kamu mau dinikahkan sama anak Bos Ayah kamu? tanya Andini dengan mata yang sedikit membulat.


"Enggak!"


"Lah, kenapa? katanya mau jadi alat bayar hutang."


"Anak bosnya nggak mau nikah sama aku. Huaaaa...."Rian kembali menumpahkan tangisnya.


Sementara Andini menutup mulut, menahan tawa yang seakan memecah.


"Din, please kamu jangan ketawa."Rian mencebik kesal menatap sahabatnya itu.


"An, Ini konyol banget. Aku pengen ketawa kencang tapi nggak tega lihat air mata kamu."Andini berusaha menahan tawanya.


"Miris banget, kan? orang tuh kalau mau dijadikan pelunas hutang, biasanya ceweknya yang menolak. Nah ini malah laki-lakinya yang menolak. Aku jadi merasa nggak berharga banget. Memangnya aku jelek banget ya Din?


"Memangnya kamu mau, dinikahkan sama anak bos itu?"


"Ya mau lah! secara kan dia tajir, ganteng lagi. Ya meskipun hatiku tetap buat babang Herlan, tapi aku mau aja asal hutang Ayah aku lunas.


"Hmmmm ... Pantesan itu anak Bos nggak mau, pasti dia merasa nggak selevel sama kamu."


"Din, please jangan tambah menjatuhkan aku dong."


"Iya sorry. Terus sekarang kamu mau gimana?


"Rumah kami disita Din. Dan untuk sementara waktu keluarga aku tinggal di rumah sederhana yang dikontrak Ayah aku.


"Sabar ya, An.. Aku cuman bisa bantu doa."


"Din, sekarang aku pusing banget pikiran aku kacau. Kalau bisa nggak apa-apa deh aku nikah sekarang. Asal ada yang biayai hidup aku, biar aku nggak jadi beban keluarga,"ucap Rian dengan putus asa.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2