Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 140. ANDINI PINGSAN


__ADS_3

Air matanya luruh begitu saja ketika melihat wajah tua itu, pucat dengan nafas yang sudah tidak ada.


"Opa!!! teriak Andini sambil menjatuhkan diri di atas tempat tidur, samping sang Opa dengan mengguncangkan tubuh renta itu.


Berharap ada keajaiban, agar lelaki tua itu yang menyayanginya dengan tulus itu kembali membuka mata.


"Opa!!! bangun Opa!!!!Jangan tinggalin Andini, Opa bangun!! teriak Andini histeris air mata sudah tak terhitung lagi membanjiri wajahnya yang memerah.


Dimas mendekat dan merangkul tubuh istrinya. " Andini, kamu tenang ya sayang."


"Mas, Opa! nggak mungkin pergi, Opa masih hidup. Opa bangun, Opa!!!" Andini kembali mengguncang tubuh sang kakek yang sudah tak bernyawa lagi.


"Ma! kenapa oppa bisa begini? bukannya Opa sehat-sehat saja? sergah Andini kepada Nyonya Laras yang juga sedang sibuk dengan tangisnya.


"Andini, Opa memang sehat. Bahkan Opa tidak mengeluh sakit apapun. Setelah sholat, Opa bilang mau tidur, dan Mama bantu naik ke atas kasur. Tapi ...."Nyonya Laras menjeda ucapannya. Ia tak bisa menahan tangisnya.


"Tapi apa Ma? tanya Andini kembali dengan Tak sabar.


"Setelah tubuh Opa berbaring, Opa malah menghembuskan nafas terakhir. Sebelumnya Opa mengatakan kepada Mama, kalau dirinya sudah puas mendengar kabar kehamilan kamu, dan saat ini kakakmu Herlan sudah menikah. Dia juga mengatakan kalau dirinya bahagia, sudah menyaksikan pernikahan kamu dan juga Herlan. Jadi Opa pamit dengan tenang kepada Mama, sebelum Opa menghembuskan nafas terakhirnya." jelas Nyonya Laras dengan suara tercekat.


Andini kembali mengalihkan pandangannya ke arah tubuh Tuan Pratama dengan tatapan nanar.


Teringat kembali di saat ia masih kecil.

__ADS_1


Tuan Pratama yang masih giat bekerja, pulang dari pekerjaannya membawa es krim atau jajanan lainnya oleh-oleh untuk cucunya.


Saat Andini yang mendengar deru mobil Tuan Pratama, Andini akan langsung berlari keluar menyambut kedatangan sang Opa dan meminta digendong, lalu Tuan Pratama memberikan es krim ataupun jajanan.


Tuan Pratama yang sangat menyayangi cucunya, selalu menggendong tubuh Andini dan membawa cucunya ke taman belakang rumah untuk memakan es krim.


"Opa Bangun!!! teriak Andini kembali lalu menjatuhkan bobot tubuhnya dan memeluk sang Opa dengan erat yang sudah terbujur kaku.


Tubuhnya semakin terasa lemas, tangannya bergetar dengan air mata semakin tak terbendung. Andini ikut ambruk dan kehilangan kesadarannya.


"Andini bangun! Dimas mengguncang istrinya yang terlihat lemas.


"Dimas, Andini pingsan." ucap Nyonya Laras dengan wajah panik.


"Biar aku bawa ke kamar, Ma. Dimas mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar.


Beberapa orang mulai berdatangan untuk melakukan takziah dan memberikan ungkapan bela sungkawa. Para tetangga sudah sibuk untuk membantu membereskan agar barang-barang yang ada di ruang tengah dipindahkan terlebih dahulu keluar.


Tak lupa pula bendera kuning langsung dipasang di depan rumah itu. Walaupun proses pemakamannya akan dilakukan besok pagi, karena sekarang hampir larut malam.


Dimas mengoleskan minyak angin ke berapa area tubuh Andini yang terasa dingin, hingga Tak lama kemudian mata wanita itu kembali terbuka.


"Alhamdulillah, Kamu sudah sadar."Dimas membuang nafas lega ketika melihat istrinya membuka mata.

__ADS_1


"Mas, Opa...."lirih Andini dengan Tatapan matanya yang sayu. Andini Menatap suaminya. Dimas menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. Khawatir terjadi sesuatu kepada Andini, apalagi saat ini Andini sedang hamil muda. Seperti anjuran dokter, kalau Andini tidak boleh terlalu stress yang dapat mengganggu janin yang ada di rahimnya.


Dimas berusaha menenangkan Andini. Dimas mengingatkan kembali kepada Andini kalau dirinya saat ini tidak sendiri lagi, bahkan di tubuhnya ada benih cinta mereka. Andini kembali mengusap perutnya masih terlihat rata. Ia meneteskan air matanya ada rasa kecewa, Tuan Pratama tidak sempat menunggu kelahiran buah hati mereka.


"Ikhlaskan kepergian Opa, semua makhluk yang bernyawa pasti akan berpulang kepada Sang khalik. "Dimas mengusap lembut punggung tangan sang istri.


"Tapi kenapa Opa pergi secepat ini? aku merasa belum bisa membahagiakan Opa." air mata wanita itu kembali mengalir dengan deras.


"Doakan saja yang terbaik untuk Opa, karena tidak ada hal yang lebih baik selain doa bagi orang yang sudah tiada."


Lagian seperti yang mama katakan tadi, Opa sudah bahagia melihat kamu menikah dengan Mas. Itu adalah salah satu impian Opa dan juga Papa Anggara yang merupakan sahabat sejak dulu."Dimas mengingatkan kembali apa yang diucapkan oleh Nyonya Laras, Kalau sebelum pergi Tuan Pratama mengatakan kalau dirinya sudah bahagia telah menyaksikan pernikahan Herlan, dengan Andini . Apalagi setelah mendengar kabar kehamilan Andini. Membuat Tuan Pratama merasa sangat bahagia.


Andini hanya mengangguk dan menghela nafas berat.


"Ya sudah, kamu istirahat saja di sini. Aku mau ikut membacakan surat Yasin untuk opa." Dimas melepaskan genggaman tangannya.


"Mas, nanti tolong suruh Rian ke sini, ya. Aku nggak mau sendiri." ucap Andini dengan suara para.


"Iya, kamu istirahat saja. Kalau ada apa-apa panggil aku, ya." Dimas mengusap kepala istrinya dengan lembut. Lalu ia keluar dari kamar itu, meninggalkan adiknya yang kembali memecahkan tangisnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2