
Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa Andini beserta teman-teman satu angkatan dengannya, akan segera mengadakan sidang skripsi.
"Mas lagi ngapain?" tanya Andini kepada Dimas saat ia melihat Dimas sedang sibuk berkutat di layar laptopnya.
Dimas mengangkat jari telunjuknya di atas bibir dan hidungnya.
"Ssst...."Mas lagi mengadakan meeting zoom bersama para dosen untuk membahas sidang skripsi nanti." sahut Dimas dengan setengah berbisik.
"Masya Allah, aku hampir lupa sebentar lagi ternyata sudah sidang skripsi. mudah-mudahan aku lulus dengan nilai yang bagus ya Mas."ucap Andini kepada sang suami dengan nada sedikit kecil takut mengganggu suaminya sedang melakukan Meeting zoom.
Kemudian Andini hendak berlalu ke dapur karena dirinya merasa sedikit haus. Biasanya, asisten rumah tangga akan menyediakan air minum di atas nakas sebelum Andini memberikan tubuhnya di atas ranjang.
Tapi kali ini, karena salah satu asisten rumah tangga yang bertugas mengurus segala keperluan yang ada di kamar Andini dan Dimas telah meminta izin untuk pulang ke rumah putranya, sehingga asisten rumah tangga yang lain mungkin mereka lupa melakukan hal itu.
"Kamu mau ke mana Sayang? tanya Dimas kepada istrinya.
"Aku mau ke dapur mengambil air minum Mas, bukan mau ke mana-mana." sahut Andini.
"Biar mas temani."
"Tidak perlu Mas, Andini bisa sendiri kok. lagian kan Mas sedang mengadakan meeting zoom."
Dimas tidak mengindahkan jawaban istrinya. dia langsung bangkit dari tempat duduknya, mendekati sang istri.
"Tapi Mas sedang mengadakan meeting zoom, aku tidak apa-apa sendiri hanya ke dapur saja kok."
"Tidak, Mas harus tetap temani kamu. nanti ada nyamuk yang mendekati."
"Masya Allah Mas, nyamuk aja pun takut tinggal dipukul saja nyamuknya sudah mati."
"Ini berbeda, nyamuknya sangat besar. kakinya dua." sahut Dimas membuat Andini mengerutkan keningnya. Beberapa detik kemudian Andini baru paham, ternyata nyamuk yang dimaksud oleh suaminya itu adalah Bima yang merupakan adik iparnya saat ini.
"Astagfirullah Mas, tidak bagus suudzon seperti itu sama adik ipar sendiri."
"Lebih baik dari awal berjaga-jaga. daripada terjadi nantinya." jawab Dimas sekenanya. Andini hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap overprotektif suaminya, Apalagi setelah Bima ada di rumah utama keluarga Anggara. Sekalipun Bima sudah menikah dengan Erin.
****
Rian setengah berlari ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia yakin itu adalah suaminya yang baru pulang bekerja, malam ini Herlan kembali lembur.
Hal itu pula yang membuat Rian ketar-ketir tak karuan. Bahkan, dia tak bisa bernafas dengan lega, ia takut kejadian saat malam itu terulang kembali.
Namun, saat mendengar suara ketukan pintu seolah sedikit mengurangi kekhawatirannya. wanita yang lagi hamil muda itu membuka pintu rumah dengan tak sabar.
"Assalamualaikum,"ucap Herlan setelah pintu itu terbuka dan ia melihat wajah istrinya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Kamu nggak apa-apa kan Bang?"tanya Rian macam punggung tangan suaminya.
"Memangnya kenapa?"Herlan balik bertanya.
"Aku hanya takut kejadian malam itu terulang kembali. Aku takut ada wanita yang yang menodai kamu." carocos Rian dengan wajah tegang.
"Astaga, Rian. mana ada wanita mau menodai laki-laki, ada-ada saja kamu."Herlan masuk dan menutup pintu kembali.
"Iya, aku takut aja Bang. Mantan kamu yang ganjen itu gangguin kamu lagi."
"Sudah, jangan takut. Aku baik-baik saja, peliharaanmu juga baik-baik saja."
"Peliharaan apa, Bang? perasaan aku nggak memelihara apa-apa." Rian menautkan kedua alisnya.
"Nih! Herlan memegang tangan Rian dan mengarahkan tangan wanita itu pada area sensitif miliknya."
"Bang Herlan, Mesum ikh!" Ryan segera menarik tangannya kembali.
"Hahaha.... sudah, jangan cemberut. mending sekarang kamu makan sate aja." Herlan menyodorkan sebuah plastik yang sedari tadi ia bawa kepada istrinya.
"Kamu beli sate bang?" tanya Rian dengan mata berbinar.
"Iya, belakangan ini kamu kan suka pengen ngemil malam-malam, kebetulan Abang melewati penjual sate, jadi keinget kamu."
"So sweet nya my husband. Terima kasih Bang." Rian segera mengambil plastik itu dari tangan suaminya.
"Temani dong bang. Masak aku makan sendirian, Mama, Papa pasti sudah tidur."
"Ya, sudah kita makan dulu satenya." Herlan merangkul bahu istrinya dan melangkah menuju meja makan.
"Kamu duduk dulu Bang, aku mau ambil piring!"ini satenya banyak banget, kayaknya nggak bakalan habis sama kita berdua."Rian menarik kursi untuk suaminya duduk, setelah itu dia mengambil piring untuk meletakkan martabak yang akan mereka makan.
"Mau aku suapi?"tawar herland setelah keduanya duduk dan menghadap sate tersebut.
"Boleh Bang, suamiku semakin manis saja."Rian terkekeh.
Herlan pun menyuapi istrinya. Membuat hati Rian seperti kebun bunga. Rian langsung melihatnya.
"Bang, jujur satenya enak banget. Apalagi kamu yang bawa untuk istri tercinta kamu ini."ucap Ryan sambil menikmati makanan tersebut.
"Alhamdulillah kalau kamu suka."Herlan tersenyum ketika melihat istrinya menikmati makanan yang ia bawa.
"Bang, sebenarnya seorang istri itu akan merasa lebih senang saat suaminya pulang membawa makanan. Mau makanan itu murahan, sekalipun hanya cilok rasanya tetap senang ketika melihat suami datang membawa oleh-oleh untuk istrinya. Itu artinya sang suami selalu mengingat istrinya di manapun ia berada."ucap Ryan sambil menikmati sate yang dibawa suaminya.
"Seperti Abang, setiap melihat makanan pasti ingat kamu."
__ADS_1
"Masa iya?"
"Iya, karena Abang tahu Kamu doyan makan."
"Bang Herlan ih!"
"Doyan makan tapi badannya tetap kecil."Herlan tersenyum mereka.
"Biarin, yang kecil itu imut dan gampang digendongnya. Lagian, bukan badannya yang gemuk tapi perutnya yang sudah gemuk."karena Bang Herlan memberikan satu sosis 2 telur yang dapat membuat Rian kenyang permanen selama 9 bulan."ucap Mariska sambil terkekeh.
Keduanya menikmati sate yang dibawa Herlan malam itu. Pasangan suami istri yang baru beberapa bulan menjalin hubungan rumah tangga, terlihat begitu bahagia.
****
Pagi ini, Andini bangun sangat pagi sekali.
Selain menyiapkan sarapan, hari ini ia juga bangun lebih pagi karena akan melaksanakan sidang skripsi di kampus.
Semuanya sarapan dengan cepat, karena mereka akan memulai aktivitas masing-masing.
Termasuk Tuan Anggara yang usianya sudah mulai senja, dia hendak pergi ke perusahaan untuk memantau perkembangan perusahaan. karena sudah beberapa minggu Tuan anggaran tidak pergi ke kantor, mengingat kondisi kesehatannya akhir-akhir ini semakin menurun.
"Sayang , sudah siap? tanya Dimas ketika mereka berada di dalam kamar.
"Iya Mas. Rasanya aku kangen sama seragam almamater ini."Andini memakai almamater kampus tempatnya menimba ilmu. Yang merupakan kampus milik suaminya sendiri. sayangnya sampai saat ini Andini belum mengetahui itu.
Wanita itu berdiri di depan cermin besar yang hampir memperlihatkan semua bagian tubuhnya.
"Kok perasaan ada yang beda ya Mas?"ucapkan dini Sambil boleh nggak lenggokkan tubuh di depan cermin.
"Apa hayo yang berbeda?"timple Dimas yang juga ikut berdiri di samping istrinya.
"Apa ya? perasaan aku makin gendut deh."Andini mengusap perutnya.
"Kan, sekarang kamu sudah berdua sayang, di dalam perut kamu ada dedek bayi yang tumbuh."tutur Dimas dengan Tatapan yang tertuju ke arah perut sang istri.
"Ih, iya lupa. aku nggak sabar pengen cepat lahiran.
"Ngak lama lagi kok. semoga dedeknya tetap sehat ya!"Dimas mengusap lembut perut sang istri.
"Amin. udah yuk sekarang kita berangkat. Aku jadi deg-degan nih, mau sidang skripsi tapi kok rasanya kayak mau sidang di pengadilan ya."celoteh Andini sambil menggandeng tangan Dimas keluar dari kamar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN