Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 174. BERBOHONG


__ADS_3

"Ekhem.....Kok tenggorokan Aku tiba-tiba serak begini ya?"Dimas berdehem beberapa kali.


"Kamu haus kali, Mas. Biar aku ambilkan minum!"Andini beranjak dari tempat duduknya.


"Nggak usah, biar aku aja." cegah Dimas sebelum istrinya membuka pintu kamar.


"Sudah Mas diam aja, lagian Biarkan Aku melakukan sesuatu hal kecil untuk kamu Mas."Andini membuka pintu dan keluar dari kamar.


Wanita itu berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum. Namun, sebuah tangan yang menepuk bahunya membuat Andini hampir terlonjak kaget.


Andini langsung membalikkan badan. Ia cukup kaget ketika melihat Erin sedang berdiri tepat di hadapannya.


"Astaga!Erin! kamu Ternyata. Kamu buat kakak kaget aja." ucap Andini sambil mengusap dadanya.


"Sorry, aku boleh minta sesuatu nggak?" tanya wanita itu dengan wajah ragu.


"Sesuatu apa?" tanya Andini dengan dahi mengerut.


Sejak tadi siang, Erin mengurung diri di kamar dan tidak berbicara dengan siapapun. Namun, tiba-tiba wanita itu keluar dan menemuinya.


"Aku bisa nggak meminta kunci rumah?" tanya Erin kembali dengan wajah memelas.


Selepas makan malam Dimas memang langsung mengunci pintu rumah. Agar Erin tidak bisa keluar.


"Kunci rumah? buat apa?" Andini balik bertanya.


"Buat apa, aja. Aku janji nggak akan kabur lagi kok. Tapi please....tolong ambilkan kunci rumah dari Kak Dimas, ya." Erin memegang kedua tangan Andini dengan wajah memelas.


"Tapi, kakak harus tahu dulu Apa alasan kamu keluar rumah?"


"CK... kepo banget sih!" Erin melepaskan kembali tangan Andini dengan wajah kesal.


"Kalau nggak mau, ya udah Kakak mau balik ke kamar lagi."


"Iya, iya. Aku mau ngambil baju aku." tutur Erin sedikit ragu.


"Baju? maksud mengambil baju dari jemuran gitu? nggak masuk akal banget. Mana ada baju di jemuran malam-malam begini." cerocos Andini membuat adik iparnya itu membuang nafas kasar.


"Bukan begitu, Aku mau ngambil baju dan barang-barang aku dari Bima." jelas Erin yang membuat dahi Andini kembali mengerut. "Jangan salah sangka dulu. Aku mau mengambil baju aku yang kemarin. Bima sudah ada di depan rumah. Please, Aku minta kunci rumah ya! jendela kamar aku digembok sama Kak Dimas." tutur Erin kembali dengan wajah memelas.


" Ya udah, tapi aku antar ya, keluarnya."


"Oke terima kasih Kak." Erin kegirangan Sampai memeluk tubuh Andini. Wanita itu tersenyum, ketika mendapat pelukan pertama dari Erin.

__ADS_1


"Upss... Maaf aku sampai memeluk segala." Erin melepaskan kembali pelukan itu.


"Oke, nggak apa-apa. Aku coba minta kunci dulu ya, sama Mas Dimas." ucap Andini kepada Erin.


"Iya, tapi jangan bilang kalau ada Bima di luar, ya. Aku takut Kak Dimas marah dan mukul dia lagi."


"Oke." Andini mengacungkan jempolnya ke arah Erin, dan kembali ke kamar.


Tak lupa wanita itu membawa segelas air minum untuk suaminya.


"Mas, ini minumnya." Andini meletakkan segelas air itu di atas nakas dekat ranjang tempat suaminya duduk santai.


"Terima kasih sayang." ucap Dimas Seraya mengambil gelas itu dan langsung meminumnya.


"Emmm..... Mas, aku minta kunci rumah dong." Pinta Andini dengan ragu.


"Kunci? buat apa?" Dimas meletakkan kembali Gelas itu, dan menatap istrinya dengan mengerutkan keningnya.


"Aku mau buang sampah. Tadi sore kayaknya Bibi lupa buang sampah. Jadi di dapur agak bau."


"Ya udah, aku antar kalau gitu."


"Nggak usah Mas, cuman buang sampah ke depan doang sebentar juga." tahan Andini dengan segera.


"Nggak Mas, cuman sebentar doang. Udah, sini mana kuncinya." Andini menengadahkan tangannya ke arah Dimas.


"Nih, Jangan lama-lama. Dimas mengambil kunci itu dari saku celananya, dan langsung menyerahkan kepada Andini."


"Sip, terima kasih Mas."


Setelah itu, Andini segera keluar dari kamar dan menemui Erin yang sudah menunggunya di ruang tengah.


"Bagaimana, berhasil?" tanya wanita itu dengan tak sabar.


"Taraaa......" Andini menunjukkan kunci itu yang membuat Erin langsung mengembangkan senyuman.


Wanita itu akan mengambil kunci tersebut dari tangan Andini. Tetapi Andini langsung menyembunyikan kunci ke belakang.


"Ingat, kamu tidak boleh keluar sendiri."


"Iya iya, cepetan sebelum serigala yang bernama Dimas bangun." ucap Erin yang membuat bibir Andini tersenyum merekah


Andini membuka kunci pintu rumah.Tanpa menunggu lama lagi, Erin langsung keluar dan menemui Bima yang sedang menunggunya di halaman.

__ADS_1


"Sayang, aku kangen." Erin memeluk tubuh Bima tanpa ragu. Pria itu akan membalas pelukan Erin. Tetapi ia melihat Andini yang berdiri di ambang pintu dan menurunkan kembali tangannya yang sudah terangkat.


"Erin, jangan seperti ini. Aku takut kalau kamu melihat kita." ucap Bima Seraya melepaskan pelukan Erin.


"Aman kok. Wanita itu kembali memeluk tubuh Bima yang tak terbalas.


"Nah, ini tas kamu! gara-gara ini aku jadi dipanggil mbak." Ricky menyerahkan tas milik wanita itu.


"Terima kasih, ya." Erin mengambil tasnya dari tangan Ricky


"Ehemmm......Erin, masuk yuk. Ajakan Andini yang membuat Bima langsung menatap ke arahnya.


"Erin, kamu masuk ya. Aku takut kakak kamu tahu." ucap Bima Seraya melepaskan kembali pelukan wanita itu.


"Ya udah, Padahal aku masih kangen sama kamu. Hati-hati ya." Erin melambaikan tangannya dan berjalan ke arah pintu dengan langkah perlahan.


Andini segera menarik tangan Erin dan menutup kembali pintu rumah. Namun, yang membuat kedua wanita itu terkejut, ketika mereka kembali membalikkan badan bertepatan dengan Dimas yang membuka pintu kamar.


Mata keduanya membulat Erin segera berlari ke kamar sambil membawa tasnya.


"Erin! panggil Dimas dengan tatapan penuh curiga.


Erin yang sudah masuk ke dalam kamar hanya menimbulkan kepala di balik pintu.


"Ada apa Kak?"


"Kenapa kamu keluar?" tanya Dimas dengan mata semakin menatap intens.


Wajah wanita itu langsung terlihat pias, takut kakaknya tahu dan kembali murka.


"Emmm... Mas, tadi aku yang minta Erin buat nganter aku buang sampah." ucap Andini sambil melangkah ke arah suaminya.


"Kenapa minta antar Erin? Kan, aku sudah bilang kalau aku mau antar kamu." tutur Dimas dengan dahi mengerut.


Andini meremas jemarinya sendiri. Ia melihat ke arah Erin yang masih menimbulkan kepala di balik pintu.


"Aku pikir aku berani keluar sendiri, Mas. Tapi pasti ingat kalau aku ini lagi hamil, tiba-tiba merinding. Kebetulan ada Erin yang mau ke dapur. Ya udah aku minta antar dia aja." jelas Andini dengan sedikit ragu.


Sebenarnya ia merasa bersalah, karena telah membohongi Dimas. Namun, Ia juga tak ingin melihat suaminya kembali marah, toh Erin juga tidak kabur lagi.


"Terus, apa yang dibawa Erin tadi?" tanya Dimas dengan wajah curiga dan tatapan penuh selidik.


"Emmm... yang aku bawa tadi itu tempat sampah Kak." jawab Erin sekenanya.

__ADS_1


"Tempat sampah? ngapain kamu bawa tempat sampah ke dalam kamar? bukannya kalau mau buang sampah tinggal ambil plastiknya saja? kenapa harus dibawa sama tempatnya? cerocos Dimas yang membuat wajah kedua wanita itu terlihat tegang.


__ADS_2