
Dimas segera melaksanakan ritual mandinya, Setelah itu mereka segera bersiap menuju rumah sakit.
"Mas, nanti di jalan kita mampir dulu ya ke toko baju anak. Aku mau beli hadiah buat anaknya mereka,"ucapkan dini saat mereka telah berada di dalam mobil menuju tempat tujuan mereka.
"Siap, sayang. Kamu mau beli baju buat anak mereka?"Dimas melirik ke arah istrinya yang duduk santai di kursi sebelah.
"Iya, Mas. anak mereka katanya laki-laki, jadi aku mau nyari baju untuk anak laki-laki."
"Wah, anak pertama langsung laki-laki aja, hebat!"tutur Dimas dengan nada sumringah. namun hal itu malah membuat Andini menatap ke arah suaminya dengan dahi mengerut, tetapi sorot mata wanita itu terlihat tajam.
"Kok hebat? maksud kamu Kalau anak pertama perempuan nggak hebat, gitu? sergah Andini dengan wajah kesal.
"Enggak, maksud aku bukan gitu. anak laki-laki kan bisa jadi pemimpin. Kalau anak pertama laki-laki bagus dong, biar bisa jadi pemimpin, menjaga adik-adiknya juga nanti,"jelas Dimas yang membuat Andini semakin terlihat kesal.
"Oh, jadi kamu pengen anak pertama laki-laki gitu, biar bisa jadi pemimpin? Terus kalau anak pertama perempuan seolah nggak berguna, gitu? cacar Andini kembali yang membuat Dimas menatap ke arah istrinya dengan heran.
"Enggak, maksud aku nggak gitu kok,"enak Dimas.
"Udah, ngaku aja kalau kamu pengen anak laki-laki kan, biar bisa kamu banggakan," ketus Andini.
Dimas hanya menghela nafas berat sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Laki-laki atau perempuan yang penting sehat dan selamat, segitu juga aku sudah bersyukur banget,"panas Dimas yang tetap berusaha tenang.
"Iya, kamu ngomong kayak gitu, biar aku nggak marah. Aku ngerasa kok, Nggak usah nyindir-nyindir kayak gitu."Andini menunduk dengan tangan yang bergerak cepat, mengusap sudut matanya yang terlihat berembun.
"Sayang, aku sama sekali nggak ada niatan kayak gitu, sumpah. mau laki-laki atau perempuan aku tetap mensyukurinya. perihal kandungan kamu, tidak ada yang tidak normal, kamu masih sehat, anak kita juga sehat. Jangan berpikir seperti itu ya!"maaf, kalau aku salah bicara."Dimas meraih tangan Andini dan menggenggam erat jemari sang istri.
"Ya sudah nggak apa-apa. aku juga minta maaf aku terlalu sensitif."Andini kembali mengusap air mata yang mengenang di sudut matanya.
"Sudah, Jangan sedih lagi. Kita lewati ini sama-sama ya! di depan ada toko baju anak, kita berhenti di sana aja ya!"Dimas mengusap lembut kepala istrinya.
Setelah itu, mereka membeli beberapa style baju bayi laki-laki dan kembali menaiki mobil, menuju tempat tujuan.
Mobil mereka tiba di rumah sakit hampir berbarengan dengan mobil Herlan dan Rian, sehingga mereka memilih untuk berjalan bersama menuju ruangan di mana Mariska berada.
__ADS_1
Dua pasang suami istri itu masuk serentak ke dalam ruangan yang ditempati oleh sahabat mereka.
Orang tua Mariska dan Robert sedang pulang, jadi di tempat itu hanya ada mereka berdua dan bayi mungil yang sedang terlelap.
"Assalamualaikum.."ucap dah 4 orang itu hampir serentak.
"Waalaikumsalam,"jawab Mariska dan Robert yang sedikit terkejut karena kedatangan empat orang sekaligus.
"Wah, wah,wah, Selamat ya Mariska! sudah jadi ibu aja,"ucapkan dini Seraya memeluk sahabatnya.
"Selamat ya bu Mariska, Pak Robert. Aduh udah jadi ibu sama bapak aja nih."Timpal Rian yang juga ikut memeluk Mariska.
"Terima kasih banyak, aduh kalian sampai repot-repot datang ke sini."ucap Mariska dengan wajah berbinar.
"Sudah, nggak usah canggung. biasanya juga ngerepotin." timpal Andini yang langsung disambut tawa kecil dari Rian dan Mariska.
"Mana anaknya? sudah nggak sabar aku pengen lihat hasil percampuran kamu berdua,"tanya Rian setelah pelukan mereka terlepas.
"Tuh, lagi tidur."Mariska menunjuk ke arah putranya yang tertidur dengan tenang.
"Iya lah, benihnya kan dari aku, murni bukan hasil cangkokan," timpal Robert yang disambut gelak tawa semuanya.
"Kamu kira jeruk apa, pakai dicangkok segala."balas Rian.
"Tapi, walaupun mirip si Robert, kalau versi bayi begini tetap saja menggemaskan."Andini menyentuh pipi gambar bayi yang masih merah itu.
"Bener banget, ini mah imut-imut kalau itu amit-amit!"Rian menunjukkan ke arah Robert.
"Dih, jangan salahin aku kalau anak kamu ntar malah mirip aku,"Celetuk Robert.
"Na'uzubillah, ntar dikira hasil cangkokan lagi,"balas Rian yang kembali mengundang tawa. Herlan hanya terkekeh ketika mendengar ucapan istrinya
"Duh, pengen gendong deh, Tapi kasihan lagi tidur ntar keganggu lagi."ucapkan dini sambil terus mengamati bayi sahabatnya itu.
"Benar, kangen aku udah gatel banget pengen gendong, Tapi kasihan tidurnya nyenyak banget, Timpal Rian.
__ADS_1
"Udah, jangan diganggu. entar lain kali aja baru bisa gendong satu-satu,"ucap Mariska yang masih duduk di atas branker.
"Siap, Bu Mariska.Eh, Gimana pengalaman melahirkan? sharing dong sama kita!"Andini mendekat ke arah Mariska.
"Iya, benar kasih kita edukasi dari pengalaman kamu,"timpal Rian.
"Okay, aku cerita. semoga saja setelah ini kalau nggak nyesel hamil dan takut melahirkan. Hahaha...."Mariska tertawa lepas.
"Apaan? tanya Andini dan Rian penasaran.
"Pertama, sakit perut yang luar biasa, pinggang kayak mau copot. Kedua, pas kontraksi rasanya kayak mau mati. Ketiga, pas bayinya keluar ngilu-ngilu sedap. dan keempat setelah melahirkan, anu kamu sobek dan dijahit tanpa dibius."
"What, sobek Gimana? tanya Andini dengan wajah kaget.
"Ya sobek bekas bayi aja keluar. terus habis itu dijahit tanpa bius, bayangin tuh jarum jahit yang tajamnya melebihi omongan netizen, ditusukkan ke dalam kulit dengan kesadaran penuh,"jelas Mariska dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.
"Astaga!!! Bang, kita tukaran aja yuk! kamu yang melahirkan."cicit Rian Seraya menggandeng lengan suaminya.
****
Ricky yang sudah merasa jenuh berada di kampung, akhirnya mengikuti ajakan sang istri, ya itu kembali ke Jakarta.
Karena di kampung ia tidak punya pekerjaan apapun, terlebih lagi di saat dirinya akan mempekerjakan Nisa, selalu saja kepergok oleh ibunya yang selalu meragukan menantunya itu.
Pagi ini Ricky dan Nisa sudah siap-siap, mereka akan melakukan perjalanan dari pangkalan Brandan menuju bandara Kualanamu, setelah itu baru mereka berangkat ke kota Jakarta melalui jalur udara.
Bahkan, Sulastri sudah menyiapkan berbagai oleh-oleh untuk besannya nanti di Jakarta.
"Hati-hati di jalan ya! itu oleh-oleh 3 kardus isinya makanan semua. semuanya sudah mama kemas rapi. Jangan sampai kelupaan."Cerocos Sulastri saat Ricky dan Nisa sudah bersiap akan keluar dari rumah.
"Tiga kardus makanan semua? isinya makanan apaan ma?"tanya Ricky dengan mata yang menatap heran ke arah sang ibu.
"Isinya beragam, gak usah protes! tinggal bawa aja pun kamu masih komplain."
" Stop! keburu zuhur kalau Mama sudah bicara,"Ricky memotong ucapan ibunya.
__ADS_1
Bersambung...