Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 181. HAMPIR SALAH LOBANG


__ADS_3

Tangan Larissa bergerak nakal, mulai membuka kancing kemeja Herlan satu persatu. Dia sengaja melakukan itu, agar malam ini Herlan menghabiskan waktu dengannya.


"Larissa singkirkan tanganmu! kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai. Jangan gila kamu!" pekik Herlan dengan kewarasan yang hampir hilang.


Tubuhnya semakin terasa panas, terlebih lagi saat ini Larissa mainkan jemari lentiknya pada dada bidang Herlan, yang saat ini sedang dalam pengaruh obat perangsang.


"Ayolah Herlan,lupakan istrimu. Kita nikmati malam ini berdua dengan kehangatan. Aku tidak masalah Kamu milik siapa saat ini, yang jelas aku sangat merindukanmu dan aku ingin merasakan hangatnya malam bersamamu Sayang. Aku masih sangat mencintaimu."ucap Larisa kembali dengan wajah yang semakin mendekat.


Ia mencium aroma tubuh Herlan yang begitu menggoda. Tubuh Herlan semakin menegang, sesuatu di bawah sana sudah mulai bangkit.


Hatinya berperang dengan logika, aroma parfum dari tubuh Larissa menyeruak memenuhi Indra penciumannya. Membuat kewarasan ya, kini sudah hampir hilang.


Larissa semakin mendekatkan wajahnya dan akan menempelkan bibirnya pada leher Herlan.


Sisa kesadaran Herlan yang membuat dirinya langsung mendorong Larissa. "Larissa Jangan gila kamu!'Herlan mendorong tubuh wanita itu dengan kuat, sampai wanita itu terhunyung ke belakang.


Setelah itu, Herlan melangkah meninggalkan Larissa yang berusaha mengejarnya. Herlan mempercepat langkahnya sesuatu yang bersemayam di dalam sana, sudah semakin bangkit.


"Herlan tunggu!"teriak Larissa dengan langkah yang semakin cepat. Herlan berlari keluar dari Cafe meskipun perasaannya tak karuan, tubuhnya yang memanas membuat dirinya benar-benar tidak nyaman.


Tetapi dia masih mengingat Rianti sebagai istrinya. Walaupun saat ini tubuhnya sudah semakin panas dan sesuatu yang di dalam sana sudah semakin menegang.


Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan roda empat itu meninggalkan Cafe, beserta Larissa yang menatapnya dengan wajah kesal.


Herlan berusaha memfokuskan diri ketika menyetir. Walaupun tubuhnya semakin terasa panas dan memegang.


Bahkan dia membuka semua kancing kemeja dan mengurangi rasa panas pada tubuhnya.


Pria itu membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Untungnya Jalanan sudah mulai sepi, hingga ia bisa tiba dengan cepat di rumah.


Herlan memarkirkan mobilnya sembarangan Dia tak peduli Bagaimana posisi parkirannya saat ini.


Yang ada di pikirannya hanyalah ia ingin segera bertemu dengan istrinya.


Setelah tiba di depan pintu, pria itu segera mengetuk pintu rumah dengan Tak sabar.


Rian yang sudah dari tadi menunggu suaminya di ruang tengah segera bangkit dan membuka pintu ketika mendengar suara suaminya memanggil namanya.


"Astagfirullah! Bang Herlan kenapa?"tanya Rian ketika melihat kancing kemeja suaminya terbuka semua.


Namun, Herlan tak menjawab pertanyaan istrinya.Ia segera masuk dan mengangkat tubuh Rian dengan ringan.


"Astaga! Bang Herlan, aku takut! teriakya saat Herlan membawanya naik ke atas tangga yang menuju kamar mereka.


Setelah tiba di lantai atas, Herlan langsung membuka pintu kamar dan menutupnya kembali.


Pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas kasur dan langsung merangkak ke atas tubuh Rian, yang tertidur dengan posisi terlentang


"Bang, Kamu kenapa? tanya Rian dengan wajah bingung.


"Aku menginginkanmu, Sayang." jawab Herlan sambil membuka kemeja dan melemparkannya ke sembarang tempat.


"Bang, kamu nggak kesurupan, kan?" tanya Rian dengan mata yang menatap heran ke arah suaminya.


"Nggak, aku cuman kangen sama kamu." Herlan mendekatkan wajah dan menghujani wajah sang istri dengan kecupan.


Herlan membuka kancing baju tidur Rian. Satu persatu dan menurunkannya sampai membuat gunung kembar milik istri yang menyembul sempurna.

__ADS_1


"Bang, ini beneran kamu, kan? kenapa datang-datang seperti ini, aku takut ini bukan bang Herlan yang asli." cerocos Rian yang mulai merasa ketakutan.


Biasanya setelah pulang bekerja Herlan langsung mandi. Namun kali ini pria itu bersikap aneh.


"Ini aku suamimu." jawab Herlan tanpa menghentikan kecupan yang kini sudah turun ke jenjang leher Rian


"Aku takut, aku takut ini Bang Herlan jadi-jadian." rintih Rian yang membuat Herlan mengangkat kepala dan menatap ke arah wajah istrinya.


"Ini aku suami kamu Rianti." ucap Herlan dengan penuh penekanan.


"Hahaha.... Kalau begini, aku baru percaya ini kamu Bang." Rian tertawa kencang. Namun, tak lama kemudian bibir ranumnya itu langsung diserang oleh sang suami.


Kini gejolak yang ada di tubuh Herlan semakin memuncak. Entah kenapa dirinya bisa menjadi seperti itu.


Mungkinkah Larissa memasukkan sesuatu di dalam minumannya? Karena setelah meminum, minuman yang dibawakan oleh Larissa perasaannya seakan berubah dan tubuhnya memanas.


Untung ia masih bisa mengendalikan diri, sehingga dirinya tidak memasuki lubang yang salah.


***


Rian membuka matanya saat adzan subuh berkumandang. Mata wanita itu langsung disuguhkan dengan pemandangan yang membuat bibirnya perlahan mengulum senyuman.


Rian tersenyum merekah, ketika melihat wajah suaminya yang tidur dengan lelap.


hembusan nafasnya teratur, dadanya yang tidak terbalut sehelai benang pun turun naik dengan perlahan.


Rian terkekeh ketika membayangkan permainan mereka tadi malam. Betapa ganasnya Herlan saat itu. Bahkan ia baru melihat suaminya bereaksi seperti tadi malam.


Hingga Rian sempat mengira kalau suaminya kesurupan. Sepasang suami istri itu masih bersemayam di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya.


Tangan Rian terulur menyentuh alis tebal sang suami, serta memainkan jemari lentiknya di atas hidung mancung Herlan.


"Kamu sudah bangun?" tanya Herlan sambil mengerjakan mata memperjelas penglihatannya. Pria itu menggenggam jemari istrinya, yang tadi menarik dengan manja di atas hidungnya.


"Sudah dari tadi Bang." jawab Rian dengan bibir yang masih menyunggingkan senyuman. tanpa diduga Herlan langsung memeluk tubuh polos istrinya di bawah selimut.


Biasanya jika bangun tidur pria itu akan langsung bangkit menuju kamar mandi. Herlan melabuhkan sebuah kecupan lembut pada dahi Rian, dan menatap wajah istrinya dengan tetapan sayu.


"Bang Herlan kenapa?" tanya Rian saat melihat tatapan berbeda dari suaminya.


"Aku.. ...aku minta maaf." ucap Herlan dengan nada gugup tatapannya semakin membuat Rian bingung.


"Maaf? maaf untuk apa Bang?


"Pokoknya aku minta maaf sama kamu." tutur Herlan kembali dengan tangan yang menggenggam erat jemari istrinya.


"Bang, Kamu kenapa sih? apa ini ada hubungannya dengan tadi malam? kenapa coba tadi malam kamu datang-datang, kayak orang kesurupan gitu?" tanya Rian beruntung sebenarnya ia masih penasaran dengan apa yang terjadi terhadap suaminya semalam.


Herlan hanya terdiam. Tatapannya terlihat sayu ada garis penyesalan dari wajah tampan pria itu.


"Bang, jujur sama aku. Sebenarnya apa yang terjadi semalam? tidak biasanya kamu pulang bekerja dalam keadaan on dan baju terbuka. apa ada wanita yang menggoda kamu? atau sebelum pulang, kamu sudah menghabiskan waktu bersama wanita lain? Katakan! siapa wanita itu?" sergah Rian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Husst ... kamu tidak memberi aku kesempatan untuk berbicara."Herlan menempelkan telunjuknya pada bibir tipis Rian.


"Oke,silakan berbicara. Aku harap kamu jujur sejujur-jujurnya." titah Rian dengan buliran bening yang mengalir begitu saja, bayangan buruk sudah menghantui pikirannya.


"Aku mau jujur, karena aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi di antara kita berdua.Tapi aku harap kamu tidak marah atas apa yang menimpaku semalam." tutur Herlan dengan tangan yang mengusap lembut air mata istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku akan marah jika kamu tidak jujur. Apalagi kalau aku mengetahui semuanya dari mulut orang lain." ucap Rian dengan suara yang bergetar. Bahkan ujung hidung wanita itu terlihat memerah.


Semalam kan, ada pesta perayaan yang diselenggarakan Bu Faranisa di sebuah Cafe. Herlan menjeda ucapannya. Pria itu terlihat menarik nafas panjang sebelum kembali berkata.


Rian hanya mengangguk. Ia tak ingin menyela ucapan suaminya.


Saat di cafe, Aku sengaja tidak ikut makan karena aku ingat kamu yang pasti sedang menungguku. Tapi aku hanya minum saja, karena aku merasa haus. Setelah aku minum, tubuhku beraksi aneh sampai membuatku pulang dalam keadaan seperti semalam." jelas Herlan yang membuat mata Rian langsung membulat.


"Minum apa? kamu mabuk Bang?"


Herlan menggeleng. "Bukan, aku tahu orang mabuk bukan seperti itu. Aku merasa hasratku meningkat begitu saja. Makanya aku langsung mengeksekusi kamu." Herlan mencolek dagu istrinya.


"Apa jangan-jangan ada yang membuat obat perangsang kepada minuman kamu, Bang? kamu dapat minuman itu dari siapa? tanya Rian kembali dengan mata yang menatap semakin intens.


"Dari Larisa." jawab Herlan dengan nada sedikit ragu. Tapi ia sudah memutuskan untuk tidak menutupi apapun dari Rian. karena jika istrinya tahu itu dari orang lain, maka itu semua, Malah akan menjadi bumerang bagi rumah tangganya.


"Hah? Larissa? Huaaaaa... Bang Herlan jahat?


Rian memukuli suaminya dengan bantal sambil menangis misterius.


"Kamu jahat Bang, aku benci!aku benci!!!!


Rian terus berteriak dan memberikan pukulan yang bertubi-tubi pada tubuh Herlan


Pria itu sibuk menangkis pukulan.


"Rianti, tenang dulu. Dengarkan aku." Herlan merebut bantal itu dari istrinya.


Wajah yang memerah dengan nafas memburu


Rian Aku tidak tahu kalau Larissa memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Karena awalnya aku minta tolong kepada temanku yang laki-laki, untuk mengambilkan minuman itu." jelas Herlan sambil memegang kedua tangan istrinya.


Rian masih terdiam, dengan sorot mata tajam.


"Tapi sumpah, demi Allah. Aku tidak melakukan apapun dengan Larissa. Setelah merasa tubuhku beraksi, aku segera pulang. Jadi aku tidak melakukan apapun dengan Larissa, atau dengan wanita lain. Percayalah! aku sengaja jujur sama kamu, karena aku tidak mau ada yang ditutup-tutupi di antara kita berdua.


"Huaaaa.... Bang Herlan." Rian kembali menangis.


"Sudah, aku minta maaf atas kecerobohanku. lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi. Aku minta maaf ya sayang." Herlan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Aku cuman nggak bisa ngebayangin aja kalau kamu sampai melakukan itu sama Larissa."


"Husss... sudah jangan dibayangin, nanti pikiran kamu jadi kotor dan itu nggak bagus. mending sekarang kita mandi dan Sholat Subuh. Aku sangat bersyukur Allah masih menjaga kesucianku.


"Tapi tetap aja aku kesal. Awas kamu Larissa, aku santet kalau bisa." geram Rian sambil meremas lengan Herlan yang membuat suaminya sedikit meringis kesakitan.


"Nggak boleh gitu santet menyantet. Itu dosa besar biar. Allah yang membalas perbuatannya." tegur Herlan.


"Iya Bang, Semoga Allah ngasih azab kepada ular betina kayak dia."


"Hahaha..... udah ya ngamuknya. Sekarang kita mandi sebelum waktu subuh habis." Herlan mengambil sarung dan memakainya dengan cepat, setelah itu mengangkat tubuh istrinya Turun Dari ranjang menuju kamar mandi.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2