Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 207. BERTEMU BESAN


__ADS_3

Kenapa harus bertemu mereka dulu sih? kenapa Mama dan Papa nggak langsung pulang aja?"sangkal Bima.


"Bima kamu ini ngomong apa? kan aku kamu malah menutup-nutupi dan seolah kamu tidak mengizinkan Mama dan Papa bertemu dengan kedua orang tua istri kamu!! apa kamu merasa malu memiliki orang tua seperti kami?!!"


"CK...ya udah ayok! Awas nanti Kalau marah marah lagi sana."


"Mama marah juga gara-gara kamu!"sangkal Sulastri. dengan nada Ketus.


"Sudah, sudah Bima! kita mau pamit dulu sama Muhammad Alim dan juga Mpok Nining. Tunggu sebentar ya." Karyo melepas gandengan tangan istrinya dan berjalan ke arah orang tua Ricky.


"Sayang, aku juga mau telepon Kak Dimas dulu,biar datang ke rumah Papa." ucap Erin sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Kenapa harus ngasih tahu Kakak kamu segala sih?


"Kenapa? kak Dimas harus tahu lah, kalau ada orang tua kamu ke sini." balas Erin dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Terserah kamu, udah terserah kamu. Bima mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah itu, Bima naik motor bersama Erin untuk menuju rumah Tuan Anggara.


Sementara kedua orang tuanya naik mobil dan mengikuti motornya dari belakang. Sepanjang Jalan, Bima hanya diam. Pria itu membawa motornya dengan kecepatan tinggi seolah melampiaskan kekesalannya.


Namun, Erin tidak memprotes cara membawa motor suaminya. Wanita itu malah semakin mempererat pelukannya pada tubuh suaminya. Hingga tak membutuhkan waktu lama, mereka telah tiba di tempat tujuan.


Sebuah mobil hitam sudah terparkir di halaman rumah itu. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Dimas yang sudah datang terlebih dahulu. Karena sebelumnya Erin sudah menghubunginya.


"Maaf Pak, Ayo masuk aja." ucap Erin kepada kedua mertuanya yang sedikit canggung.


Wanita itu menggandeng lengan Bima yang sudah memasang wajah tegang. Orang tua Bima masuk ke dalam rumah yang langsung disebut hangat oleh Tuan Anggara, Dimas, dan Andini yang sudah duduk mereka di ruang tamu.


"Salam kenal pak, kami orang tua Bima." ucap karya saat berjabat tangan dengan Tuan Anggara.


"Salam kenal juga Pak. Saya Papanya Erin dan ini Dimas kakaknya Erin, dan ini Andini istrinya Dimas. Anggara menunjuk ke arah Dimas dan Andini.


"Baiklah, senang bisa bertemu dengan keluarga Bapak." ucap Karyo kembali dengan ramah.


"Kami juga senang, akhirnya orang tua Bima datang ke sini, sudah lama pulang dari ya, Pak?" tanya Dimas membuat kedua orang tua Bima langsung saling melempar pandang


"Memangnya siapa yang pergi?" tanya Sulastri dengan wajah bingung.


"Iya, bukankah saat pernikahan mereka ibu dan bapak sedang berada pergi pejalan bisnis." jelas Dimas.


Sulastri Langsung melempar tatapan maut ke arah Bima yang sedang menundukkan wajahnya.


Urat-urat dengan wanita paruh baya itu menegang dengan dada yang terlihat naik turun, sebentar lagi Guntur akan segera keluar dari mulutnya.


Bima kamu benar-benar ya, kamu bilang Mama sama papa pergi perjalanan bisnis, Bisnis apa Bima?!!! Bisnis entok dan lele di Empang?!!! heran ini anak. Kenapa begini amat! perasaan dulu pas buat dia, selalu baca bismillah. Tapi kenapa malah jadinya nauzubillah." cerocos Sulastri dengan kesal.

__ADS_1


"Mungkin pas Buat Bima, Mama lupa baca doa, dan Bima langsung jadi." balas Bima.


"Masih berani kamu ngelawan ya, nanti lama-lama bibir kamu itu Mama gunting."


"Ma, sudah tenang dulu!! jangan marah-marah terus, tidak enak sama keluarga Erin."Karyo segera melerai amarah istrinya.


"Pak mohon maaf sekali, sebenarnya kami tidak pergi perjalanan bisnis kami hanya orang kampung. Kami tetap berada di Medan tepatnya di pangkalan Brandan. Tapi sungguh kami tidak tahu kalau Putra kami telah menikah. Bima tidak memberitahu kami sedikitpun." tutur Karyo dengan sungguh-sungguh.


Seketika Anggara, Dimas, dan Andini menatap ke arah Bima yang menundukkan wajah di samping Erin.


"Kenapa seperti itu? Padahal kami sangat menunggu kedatangan bapak dan ibu,"ucap Dimas dengan mata yang menatap tajam ke arah Bima.


"Bima cepat, katakan!! Apa alasan kamu tidak memberitahu Mama sama Papa saat kamu menikah?! titah Karyo dengan tegas.


Bima mengangkat kepalanya dengan perlahan, pria itu menatap ke arah wajah sang ibu yang masih diliputi amarah.


"Ma, Pa, Maafkan Bima. Bima tidak memberitahu kalian, karena Bima takut mama sama papa marah."tutur pria itu dengan nada pelan.


"Marah kenapa? kalau kamu beneran mau nikah ma, Mama sama papa tidak akan marah."balas Sulastri dengan cepat.


"Bima takut Mama sama papa marah. Karena Erin....."


"Kenapa? kamu ngomong, kok nggak dilanjutkan!" bentak Sulastri kembali.


"Karena Erin sudah ,hamil."


Wanita paruh baya itu menjatuhkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Sulastri pingsan setelah mendengar ucapan putranya.


"Ma, jangan pingsan!" teriak Bima seraya bangkit dan mendekat ke arah sang ibu yang sudah terkulai lemas.


"Ma bangun! Bima menggenggam tangan sang ibu yang terasa dingin. Semua orang terlihat panik, pasalnya Sulastri mempunyai riwayat penyakit jantung.


Bima takut penyakit sang Ibu kambuh. "Ma bangun Ma! Karyo menepuk pipi istrinya beberapa kali, berharap wanita itu segera sadar.


Andini yang melihat itu ikutan panik dan segera bangkit. "Mas, Andini ambil minyak angin dulu ya."


"Iya kasihan ibunya Bima sampai pingsan begini."balas Dimas yang ikut bangkit dan mendekat ke arah karyo yang masih sibuk berusaha menyadarkan istrinya.


Erin mendekat sambil membawa sebuah bantal sofa untuk mertuanya.


"Sayang, sebaiknya tubuh Mama diluruskan dulu. Kepalanya tidurkan di sini." ucapnya Seraya meletakkan bantal di dekat kepala mertuanya.


Bima dan Karyo meluruskan tubuh Sulastri di atas sofa dan menidurkan kepala wanita itu di atas bantal tadi.


Andini datang sambil membawa minyak angin. Wanita itu segera mengoleskannya pada telapak tangan dan kaki Sulastri, serta mencium kan minyak tadi pada hidung wanita itu.


Hingga Tak lama kemudian, Sulastri mulai membuka matanya dengan perlahan. "Alhamdulillah, Mama susah sudah sadar. Ma, Maafkan Bima." ucap Bima sambil mencium punggung tangan sang ibu dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


Sulastri menarik nafas panjang, dan berubah posisi menjadi duduk perlahan. Erin dan Bima menundukkan kepala ketika wanita paruh baya itu menetap ke arahnya.


"Bima!! Mama sangat kecewa sama kamu, Mama pikir kamu di Jakarta kuliah dengan benar dan pulang membawa ijazah yang membuat Mama dan papa bangga."tutur Sulastri dengan nada Sendu.


Air mata wanita itu menetes begitu saja. Erin yang mendengar dan melihat mertuanya menangis ikut meneteskan air mata.


Entah kenapa saat ini Dia teringat mendiang sang ibu. Pasti ibunya ikut bersedih dan menangis sedih tau anak perempuannya hamil sebelum menikah.


Dia menyesali perbuatannya. Kenapa saat itu ia sangat bodoh dan terjerumus ke dalam lembah hitam yang membuat masa depannya menjadi gelap.


"Ma, Bima minta maaf. Bima menyesal." pria itu kembali menggenggam tangan sang Ibu dan menciumnya.


"Semuanya sudah terjadi, kamu telah melempar kotoran ke muka Mama dan Papa."Sulastri menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Sang putra.


"Ma, Bima minta maaf. Pukul Bima sepuas Mama, asal Mama jangan marah lagi." Bima kembali menggenggam tangan sang ibu.


Bahu wanita paruh baya itu bergetar hebat dengan isakan tangis


"Pukul kamu? mau di cincang dan diasingkan ke hutan yang belum pernah didatangi manusia? sergah Sulastri dengan tatapan nyalang. Tetapi kedua netra wanita itu tak berhenti mengeluarkan buliran bening pertanda hancurnya perasaan ia saat ini.


"Ma, Maafkan Bima. Maafkan Bima."mohon Bima yang kembali mencium tangan ibunya.


Namun, kali ini pria itu meneteskan air mata. suatu hal yang baru dilihat oleh semua orang, ternyata di balik sikap yang cuek dan keras, Bima adalah seorang anak laki-laki yang paling tidak bisa melihat orang tuanya marah padanya.


Oleh karena itu, di saat pernikahannya terjadi ia tidak memberitahu kedua orang tuanya. Karena ia takut mereka marah besar.


"Sudah, semuanya sudah terlanjur terjadi! Mama maafkan kamu. Tapi Allah, belum tentu memaafkan kesalahan besar yang kamu perbuat."ucap Sulastri yang membuat air mata Erin semakin mengalir dengan deras. Bayang-bayang tangisan Ibu, semakin nyata di pelupuk matanya.


"Terima kasih Ma, setelah ini Bima janji akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Bima janji tidak akan melakukan kesalahan besar untuk kedua kalinya."


"Semua tidak butuh janji, tapi bukti." wanita paruh baya itu mengusap air matanya.


"Pak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang telah dilakukan anak kami terhadap putri Bapak." tutur Karyo dengan tak enak hati.


"Tidak, apa-apa Pak. Ini murni kesalahan mereka. Saya hanya berharap Bima menjadi suami yang bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya kelak." balas Anggara yang sudah dari tadi terdiam dengan wajah kaca.


"Terima kasih Pak, saya sangat malu dengan kejadian ini." Karyo memijat keningnya. Raut kecewa terpancar nyata pada wajah pria paruh baya itu.


"Sama-sama Pak, kita menanggung malu bersama." balas Tuan Anggara.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2