Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 24. HUKUMAN


__ADS_3

"Bapak kalau ngomong jangan sembarangan dong!"Andini memayumkan bibirnya mendengar ocehan suaminya yang mengatakan dirinya gila sebelum sarjana.


"Makanya jangan nangis di kamar mandi."


"Bagaimana aku tidak menangis di kamar mandi, tidak mungkin juga aku menangis di ruang kelas. Nanti, yang ada Almira malah besar kepala. Aku kesel banget sama Almira bisa-bisanya dia pajang foto kita di mading.


"Untung cuman wajah kamu doang yang kelihatan, timpal Dimas sambil tersenyum tipis, Bahkan Andini tidak menyadari senyuman Dimas yang sangat samar


"Ih apaan sih? kan aku yang rugi, mana semua mahasiswa menganggap saya ini simpanan om-om lagi."ucap Andini kesel.


"Kamu tenang saja, semuanya akan segera selesai, tapi kamu harus tetap mempertanggungjawabkan perlakuan kamu."


"Perlakuan apa sih, Pak?"Andini mendengarkan, wajah menatap ke arah suaminya. Untung di toilet itu sepi mereka bisa ngobrol berdua.


"Kamu berkelahi sampai jambak-jambakan hingga mendorong tubuh Almira dan tersungkur membuat lutut Almira terluka. Dan itu semua pasti sudah tembus ke telinga Dekan."


"Apa?


"Dekan?


"Pak tolongin aku dong, jika perkelahian itu sampai ke telinga Dekan bisa-bisa beasiswa ku dicabut. ucap Andini sambil memegang kedua tangan Dimas.


"Ini kesalahan kamu, dan kamu tetap harus mempertanggungjawabkan itu."


"Tapi Pak. saya nggak bakal seperti tadi Kalau Almira nggak mancing saya duluan."


"Baiklah, saya akan meminta keringanan kepada Dekan atas hukuman yang akan diberikan pada kamu dan juga Almira."


"Beneran Pak? tanya Andini dengan mata berbinar, Dimas hanya mengangguk sebagai jawaban. Bagaimana Andini tidak percaya, secara Dimas merupakan salah seorang dosen dan juga pemilik kampus. Sudah sepatutnya dekan juga memenuhi semua perintah Dimas.


"Huaaa... Terima kasih banyak, Pak."Andini ke girangan sampai ia memeluk tubuh Dimas dengan erat, lalu mengecup wajah tampan Dimas dengan sekilas.


Bahkan Andini menikmati aroma maskulin dari tubuh suaminya. Mengapa tubuh kekar Dimas sangat nyaman sekali aku peluk."gumam Andini dalam hati


"Andini! Din....!"suara dan derap kaki yang terdengar semakin mendekat membuat Andini buru-buru melepaskan pelukannya dari Dimas.


"Itu suara Mariska dan juga Rian! risau Andini dengan wajah tegang. Ia khawatir kalau kedua temannya itu melihat Andini dan Dimas berada di kamar mandi.


"Andini kamu di mana? suara Mariska terdengar semakin mendekat ke arah toilet.


"Bapak sembunyi dulu, bahaya kalau kedua curut itu tahu Bapak ada di sini!"Andini mendorong tubuh masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu itu dengan rapat.

__ADS_1


"Din, kamu nggak apa-apa, kan?"tanya Mariska langsung mendekat ke arah sahabatnya yang disusul oleh Rian.


"Enggak, aku enggak apa-apa. Kalian ngapain ke sini?"Andini berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Astaga! Andini, kita tuh khawatir sama kamu."ucap Rian


"Kalian Tenang saja, aku baik-baik aja kok. ayo kita ke kelas!"


"Tunggu dulu! Mariska menghentikan gerak kaki Andini yang akan melangkah.


"Kenapa lagi? Gadis itu menatap sahabatnya dengan dahi mengerut.


"Aku mau ke toilet dulu bentar."Mariska akan membuka pintu toilet, tetapi Andini segera menghadangnya.


"Jangan!" jegat Gadis itu dengan wajah tegang


"Kenapa?"Aku mau buang air kecil."Mariska mendekat ke arah pintu, tetapi Andini kembali menghalanginya.


"Kenapa? tanya Mariska dengan heran


"Emmm.... di sini wc-nya mampet, masuk kamar mandi sebelah saja kan bisa.


"Ini beneran mampet?"tanya Mariska seolah tak percaya kepada Andini.


"Oh ya udah deh, nggak jadi ayo kita masuk ke kelas."Mariska mengundurkan kembali langkahnya.


"Lagian Kamu aneh banget sih, Kan, ada toilet yang lain." timpal Rian.


"Udah nggak jadi. udah masuk lagi ke dalam."balas Mariska


"Ya udah, kita balik ke kelas yuk!"ajak Andini yang membuat kedua sahabatnya langsung membalikan badan dan melangkah terlebih dahulu.


Gadis itu mengetuk pintu kamar mandi tiga kali, memberi kode kepada suaminya yang terkurung di sana.


"Din, cepat dong teriak Rian yang sudah berjalan cukup jauh.


Andini berlari kecil dan menyusul Mariska dan Rian kembali ke dalam kelas merekam masih terdengar gaduh disana


Banyak mahasiswa yang masih membicarakan kejadian adu jambak menjambak antara Almira dan Andini. Bahkan banyak di antara mahasiswa menatap tak suka ke arah Andini karena mereka mengira kalau Andini seorang sugar baby.


Almira langsung menatapnya dengan tajam. Bahkan Gadis itu akan kembali menghampiri Andini jika Bagas tidak langsung mencegahnya.

__ADS_1


"Almira! sudah jangan membuat suasana kembali gaduh!" cegah Bagas Seraya menarik tangan kekasihnya. Bagaimanapun Bagas tidak ingin Andini selalu bertengkar dengan Almira.


Karena Andini itu merupakan sahabat dekat Bagas sebelumnya. Sebelum Bagas jadian dengan Almira. Tapi tahunya Almira selama ini sangat membenci Andini, tampa diketahui oleh Bagas sendiri.


Sepertinya kedekatan persahabatan Bagas dengan Andini membuat Almira mengira kalau keduanya sepasang kekasih dan Almira selama ini sudah sangat lama mencintai Bagas.


Hal itulah yang membuat Almira merasa dapat mengalahkan Andini, karena ia berhasil menjadi kekasih Bagas. Padahal bagaimanapun Andini hanya menganggap Bagas seperti sahabat dekatnya sendiri walaupun ia merasa sedikit kehilangan Bagas, setelah Bagas menjalin hubungan dengan Almira.


Yang biasanya mereka selalu jalan bersama kemana-mana, bisa sama. Bahkan adu balap Liar juga mereka sama. Bagas selalu mendukung Andini menjadi seorang pemenang jika adu balap diadakan di salah satu tempat yang biasa mereka balapan.


"Sayang aku tuh mau memberi pelajaran sama Andini!" Almira menuju ke arah Andini Andini juga sedang menatap ke arahnya dengan mata memerah.


"Almira, cukup! bentak Bagas yang langsung membuat gadis berambut ikal itu kembali duduk di.


Andini menjulurkan lidah ke arah Almira ketika mendengar Bagas membentak gadis itu.


"Andini, Almira, kalian dipanggil ke ruang dekan sekarang." ucap salah seorang mahasiswa yang berdiri di depan kelas.


Andini langsung membuang nafas kasar. benar saja apa yang dikatakan Dimas. Ia langsung dipanggil ke ruang Dekan. Ruangan yang paling dihindari oleh semua mahasiswa.


"Astagfirullah Ternyata apa yang dikatakan misua benar juga. Hukuman apa yang akan diberikan oleh Pak Rohdian kepadaku? mudah-mudahan jangan sampai deh beasiswa aku dicabut."kalau soal discourse biasa saja, itu tidak masalah. Atau diberikan hukuman yang lain, asalkan jangan beasiswa ku yang dicabut. Bisa-bisa Aku gagal sarjana." gumam Andini yang belum menyadari kalau dirinya merupakan tanggung jawab penuh suaminya.


Ia masih mengira kalau Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama yang masih bertanggung jawab terhadapnya, sehingga ia khawatir kedua orang tuanya tidak akan mampu membayar biaya kuliah yang sangat mahal di kampus ternama di ibukota.


"Kamu tenang saja Din! Rian menepuk bahu sahabatnya.


"Iya jangan sampai kamu terpancing lagi sama omongannya si Almira,"timpal Mariska


"Ayo Andini, Kamu pasti bisa menghadapinya!'ucap Bima yang duduk tak jauh darinya mau memberi semangat seraya menampakkan senyum manis pada wajah tampannya.


Seketika raut tegang pada wajah Gadis itu hilang berganti dengan senyuman.


"Cie.... cie. cie sorak Rian, Robert dan Mariska secara bersamaan.


"Thanks." Andini membalas senyuman Bima dan segera keluar dari kelas sebelum keduluan oleh Almira


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2