
Karena Andini sudah terlihat sangat kelelahan, terlebih lagi saat proses penjahitan tadi, Andini tidak henti-hentinya berteriak dan memukul tubuh Dimas. Bahkan menjambak rambut suaminya, bagaikan seorang wanita yang sedang kontraksi akan melahirkan.
Tapi Dimas tidak mempermasalahkan hal itu. Ia rela dijambak dan di cakar oleh sang istri asalkan istrinya dapat menahan rasa sakit Luka kakinya.
Setelah duduk di kursi kemudi, Dimas kembali meletakkan kaki Andini di atas pahanya.
"Kalau kamu mau tidur, nggak apa-apa tidur saja. Agar rasa sakitnya hilang." ujar Dimas seraya menjalankan roda empatnya.
"Mana mungkin saya bisa tidur. Ini kaki masih nyut-nyutan. Nggak ada gitu, obat penyembuh luka sekali tetes langsung nggak sakit lagi?" gerutu Andini sambil bersedekap dada.
"Memangnya kamu pikir sulap? yang namanya luka itu ada proses penyembuhannya tahu. Kamu pintar-pintar tapi bodoh juga." ucap sang dosen membuat Andini membulatkan matanya.
"Termasuk luka hati, ya?"
Dimas langsung menoleh ke arah istrinya,Luka hati?
Bahkan ia pernah merasakan sayatan pada hati dan luka itu masih terasa membekas.
"Bapak kenapa liatin saya kayak gitu? Bapak pernah terluka di bagian hati?" tanya Andini yang membuat Dimas kembali memalingkan wajahnya dan menatap ke arah jalan.
"Memangnya kenapa kalau saya terluka di bagian hati? kamu mau mengobatinya?"
"Iya, saya mau nyuruh dokter buat jahit lukanya."
"Kenapa harus dokter? Memangnya kamu tidak bisa?"
"Enggak, saya bukan ahli mengobati.
"Berarti kamu ahli melukai!"
"Ih, Bapak apaan sih?Andini menatap suaminya dengan kesal.
"Sudah, Jangan bahas itu. Mending sekarang kita langsung pulang ke rumah biar kamu bisa langsung istirahat."
"Saya mau pulang ke rumah Mama." ucap Andini dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Kenapa ke rumah mama? kita kan sudah punya rumah sendiri?"Dimas melirik sekilas kearah istrinya yang berwajah masam bercampur memelas
"Kalau lagi sakit kayak gini, saya nggak bisa jauh dari Mama. Biasanya Mama begitu telaten merawat saya." sahutnya
"Astaga! anak geng motor dan tombol seperti kamu, tapi manja banget sih! Kan, ada saya yang jagain kamu."
"Besok kan, bapak ke kampus. Masa iya saya sendirian di rumah."
"Besok kamu nggak mau masuk kuliah?"
"Ya iyalah Pak. Mana mungkin saya ke kampus dengan keadaan pincang begini.
"Nanti, biar saya gendong."
"Bapak nggak usah ngadi-ngadi." Andini memicingkan matanya ke arah suaminya.
"Ya sudah, kita pulang ke rumah Mama. Terus kalau mereka nanya kenapa kaki kamu terluka gimana? Apa kamu mau menjawab ada orang yang mau memperkosa kamu di kampus?" Dimas kembali mengarahkan pandangannya kepada sang istri yang sedang mengerucutkan bibirnya.
Paling saya bilang saja ini KDRT.
"Heh! sembarangan kamu. Jangan kan, KDRT. nyentuh kamu saja saya nggak berani kalau tanpa izin dari kamu." ucap Dimas memajang wajah kesal.
"Jangan ngaco, Kamu! memangnya ada bulu hidung semakin panjang?"
"Ada, sampai segini, nih." Andini menunjukkan ke arah bahu suaminya.
"Kaki kamu panas." pantasan ngelantur ngomongnya. Mending sekarang kamu merem aja." ucap Dimas setelah memegang betis istrinya.
" Bapak aneh deh, di mana-mana tuh yang namanya cek suhu di jidat atau di ketiak. bukan di kaki." protes Andini dengan kesal.
"Sudah diam, atau saya balik lagi, nggak jadi ke rumah mama."
"Iya, ya. Buruan badan saya udah pegal-pegal."
Andini menggerakkan kedua tangannya meregangkan otot yang terasa kaku.
__ADS_1
"Tenang, Nanti saya pijat." balas Dimas dengan senyum tipis. Sebuah senyuman yang terarah ke jalanan.
"Beneran, ya. Awas kalau bohong!"
"Iya, tenang saja. Nanti saya pijat dan saya remas."pria itu terkekeh tetapi masih dengan tatapan lurus ke arah jalan.
"Dasar dosen mesum! cibir Andini yang membuat Dimas malah memecahkan tawanya. Sebuah tawa yang sangat langka.
"Mesum sama istri sendiri tak masalah. asalkan jangan sama istri orang lain atau wanita lain." sahut Dimas tidak mau kalah.
Mobil mereka memasuki halaman sebuah rumah beriringan dengan tenggelamnya matahari yang memerah.
Dimas memarkirkan mobilnya, tepat di halaman rumah sang mertua
Andini membuka pintu mobil tetapi ia tak langsung keluar, memikirkan Bagaimana caranya bisa turun dan masuk ke dalam rumah.
Tanpa basa-basi lagi, Dimas datang dan langsung menggendong tubuh sang istri dengan ringan
"Astaga...." Bapak main angkat saja. Saya kan, kaget." Andini memukul dada bidang suaminya.
"Kamunya aja yang kagetan. Masa digendong suami sendiri saja kamu kaget."
"Ma...., ada Putri tidur datang!" teriak seorang pria tampan Sambil tertawa keras.
" Kak Herlan....Putri tidur apa, sih?" Andini melototi Herlan yang berdiri di teras rumah.
"Lagian mentang-mentang pengantin baru masuk rumah saja sampai digendong." Herlan memainkan ponselnya.
"Dasar kakak tidak punya akhlak, nggak lihat nih kakiku lagi sakit." kesal Andini yang membuat Herlan kembali tertawa.
"Sudah, jangan marah-marah terus." Dimas melerai pertengkaran kakak beradik itu. Lalu menggendong Andini masuk kedalam rumah sang mertua
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN