Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 180. LEMBUR


__ADS_3

Pintu ruang rawat inap Mariska terbuka. Bima mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya melihat ke arah pintu ruang rawat inap itu.


Dimas, Andini dan Erin baru keluar.


"Aduh, kasihan banget pacarku nunggu lama."ucap Erin yang akan mendekat ke arah Bima.


Namun, Dimas langsung menarik rambut adiknya sampai membuat wanita itu tak jadi melangkah.


"Erin, kita pergi sekarang!"tegas Dimas yang langsung membuat bibir wanita itu mengerucut.


"Sayang, nanti telepon ya! aku ikut kakanda Dimas dulu."Erin melambaikan tangannya ke arah Bima yang dibalas dengan senyum tipis oleh pemuda itu.


"Jadi perempuan itu jangan terlalu centil!"gertak Dimas sambil terus-menarik tangan adiknya menjauh dari Bima.


"Nggak apa-apa centil orang sama pacar sendiri." balas Erin dengan sewot.


"Memang kamu yakin Si Bima itu suka sama kamu?"Dimas menatap ke arah adiknya.


Sementara Andini hanya menjadi pendengar setia perdebatan antara kakak beradik itu.


"Ya jelas suka lah, kalau nggak suka ngapain dia nembak aku, coba?"ucap Erin penuh percaya diri.


"Kok kakak nggak yakin kalau dia beneran suka sama kamu. Dari ekspresi wajahnya saja saat dia melihat kamu itu beda."


"Beda Bagaimana?" Erin menatap ke arah kakaknya dengan dahi mengerut.


"Beda, Kakak bisa melihat tatapan Orang yang jatuh cinta itu seperti apa. Tetapan orang suka itu seperti apa. Kakak lihat Bima biasa aja sama kamu. Makanya Kakak tidak mau kamu terlalu dekat sama dia." tutur Dimas yang membuat adiknya semakin menjerit kesal.


"Memangnya tatapan orang jatuh cinta itu seperti apa? ada emoticon love gitu yang berterbangan dari matanya?" cerocos Erin sambil melepaskan lengannya dari cengkraman sang kakak.


"Coba kamu lihat cara kakak melihat Andini, itu berbeda. Sini sayang, Dimas menghentikan langkah dan menarik tangan Andini agar berdiri di hadapannya.


"Tuh, cara kakak melihat dan menatap istri Kakak itu beda. Karena ada rasa cinta dan sayang yang tumbuh." ucap Dimas sambil menatap wajah istrinya.


Andini malah terkekeh ketika mendengar ucapan suaminya.


"Ci illah, itu mah tatapan penuh nafsu." celetuk Erin Langsung melanjutkan langkah meninggalkan Dimas dan Andini.


"CK.... nggak percaya dia kalau tatapan orang jatuh cinta itu berbeda." ucap Dimas sambil menunjuk ke arah punggung adiknya yang pernah mulai menjauh.


"Kenapa sih Mas, biarin aja Erin sama Bima mereka cocok Kok." balasan Andini sambil menggandeng lengan suaminya


"Aku tetap tidak setuju." bantah Dimas.


"Ck....Semua orang punya hak untuk mencintai dan saling mencintai Mas."


"Aku tidak setuju, karena aku tahu kalau si Bima itu tidak mencintai Erin. Aku takut dia hanya mempermainkan Erin saja." cerocos Dimas sambil terus melangkah keluar dari gedung itu.


Sudah, bapak hamil jangan sensi terus." Andini mengusap perut kekar suaminya yang terbalut kemeja.


****


"Bang, pulang jam berapa? Tanya Rian saat panggilan telepon seluler dengan suaminya terhubung.


"Nggak tahu, mungkin sekitar jam jam sembilan jawab Herlan dengan cepat.


"Apa? jam sembilan apa bang?" tanya Rian kembali dengan nada yang semakin meninggi


" Jam sembilan malam lah, masa jam sembilan pagi."

__ADS_1


"Kok malam sekali? biasanya juga kalau lembur nggak nyampe jam segitu?" protes Rian dengan nada kesal.


"Ini lagi ada acara di kantor, kamu sudah tidur dulu." jangan begadang.


"Mana mungkin aku bisa tidur tanpa belaianmu Bang." nada bicara Rian semakin terdengar kesal.


"Ya udah, kamu tunggu saja. Udah dulu ya, ini lagi rame banget soalnya."


"Acara apa sih Bang?" Tut.....


Belum juga Rian selesai bicara sambungan telepon itu sudah terputus secara sepihak.


Ck.... Bang Herlan kenapa sih? masa jam segini masih di kantor." ucap Rian sambil menatap ke layar ponselnya.


"Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Biasanya kalau lembur paling lambat Herlan akan pulang jam delapan


"Bang Herlan..... Rian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Mana Mungkin dia bisa tidur jika tidak berada dalam dekapan suaminya.


Terlebih lagi ya belum tahu jelas di kantor itu ada acara apa. Hal itu pula yang membuat hatinya gundah gulana.


Rian mencoba memejamkan mata. Namun, hati dan pikirannya tak bisa lelap


Akhirnya Ia memutuskan mengirim pesan ke grup persahabatan untuk mengobati hatinya yang sedang kesal tak karuan


****


Sementara itu, semua karyawan perusahaan berkumpul di sebuah cafe yang di booking khusus untuk penyelenggaraan acara malam ini.


Faranisa sebagai pimpinan perusahaan itu telah memenangkan proyek besar untuk pertama kalinya setelah memimpin perusahaan. Oleh karena itu, ia mengacak semua karyawannya untuk mengadakan acara perayaan kecil-kecilan di sebuah Cafe.


Termasuk Herlan yang menjadi salah satu staf di perusahaan tersebut.


Faranisa tidak pilih pilih. Wanita cantik yang menjadi pimpinan perusahaan itu meminta semua karyawan untuk hadir.


Suasana di Cafe sangat ramai. Acara tersebut hanya sekedar makan-makan.


Faranisa mempersilahkan semua karyawannya untuk menikmati hidangan yang ada di tempat itu secara gratis.


"Mau makan apa Herlan?" tanya salah satu rekan yang duduk di samping Herlan.


"Sama aja deh sama kamu." jawab Herlan sambil sesekali melirik ke arah layar ponselnya.


"Kenapa kucel banget muka kamu? kepikiran istri di rumah ya!" tebak rekannya sambil terkekeh.


"Iya istriku nggak akan bisa tidur Sebelum dielus-elus." jawab Herlan dengan bibir yang mengembangkan senyuman.


"Cie illeh, udah kayak anak kecil aja." sangkal sang rekan.


"Makanya cepat nikah, biar bisa elus-elus cewek.'


"Tahulah, omonganmu kayak ibuku." mending sekarang kita makan


"Kayaknya aku nggak jadi makan." ucap Herlan membuat sahabatnya itu langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa? teringat istri di rumah lagi?


"Ya begitulah, rasanya agak gimana gitu. Aku di sini makan rame-rame, istri gue sendiri nungguin di rumah.

__ADS_1


"Terserah! aku mau ambil makanan dulu.


"Aku titip ambilkan minuman aja ya. Aku lumayan haus nih." minta Herlan.


"Oke, pria bertubuh tegap itu menghancurkan jempol karena Herlan.


"idih, repot juga ya. Si Herlan nitip minuman lagi." gumannya saat berada di depan meja yang terdapat di beberapa jenis minuman.


"Iya bingung bagaimana caranya membawa. Sementara di tangan kirinya sudah terdapat piring yang hampir terisi penuh, dan di tangan kanannya lagi terdapat minuman untuk dirinya.


"Kamu kenapa?" tanya seorang wanita yang kini telah berdiri di samping pemuda itu.


Kebetulan sekali ada kamu ada Larissa. Tolong bawakan satu minuman untuk Herlan dong." pinta pria itu kepada wanita yang mengenakan baju ketat yang tak lain adalah larisa


"Buat Herlan? dimana dia?


"Tuh di sana." pemuda itu menunjuk ke arah Herlan dengan ekor matanya.


"Oke, kamu duluan saja. Nanti aku bawakan.


"Sip, thanks Larissa."


"It's okay."


Setelah itu, pria itu berjalan terlebih dahulu kemeja yang tadi ditempatinya bersama Herlan.


"Minuman buat aku mana?" tanya Herlan saat temannya tiba di meja itu


"Ini buat kamu." ucap Larissa sambil menaruh gelas minuman yang di bawanya ke hadapan Herlan.


Pria itu terdiam sejenak dengan dahi menurut dan tatapan tertuju ke arah Larissa.


"Sorry Herlan, tadi aku susah bawanya. Jadi minta bantuan larisa buat bawa minuman kamu. " ucap pemuda itu yang membuat Herlan langsung mengalihkan pandangannya dari Larissa


"Oh,.oke terima kasih, ya." Herlan mengambil minuman tadi dan langsung meneguknya


"Sama-sama." balas Larissa yang malah ikut duduk samping Herlan.


"Apa kabar?" Sudah lama kita tidak ngobrol seperti ini." ucap Larissa


"Kabar baik. Aku Mau ke toilet dulu" Herlan bangkit dan berjalan ke arah toilet, Ia menghindari Larissa.


Herlan merasa tidak nyaman ketika berada di dekat mantan kekasihnya itu. Terlebih lagi ia ingat perasaan istrinya, jika tahu dia ngobrol bersama dengan Larissa.


Herlan terus berjalan ke arah kamar mandi yang terlihat sepi. Walaupun di tempat itu banyak orang, tetapi bagian kamar mandi sangatlah sepi.


Entah kenapa kepalanya tiba-tiba saja pusing, pandangannya berubah menjadi berbayang dan buram, semua yang ia lihat terasa berputar.


Herlan berpegangan pada tembok di samping karena ia ingin berjalan memasuki kamar mandi.


Namun,seseorang menyandarkan tubuhnya pada tembok.


Herlan berusaha memperjelas penglihatannya.


"Larissa! ngapain kamu di sini?" tanya Herlan dengan perasaan yang semakin tak karuan.


tubuhnya terasa memanas. Bahkan ingin rasanya Ia membuka kemeja yang dikenakannya.


"Herlan, mari kita nikmati malam ini." ucap Larisa dengan suara sensual.

__ADS_1


__ADS_2