
Herlan terus saja mengelus perut sang istri sampai ia merasakan sebuah gerakan dari dalam perut istrinya.
"Apa ini yang gerak?"tanya Herlan terkejut.
Seketika Ruan langsung membuka mata ketika mendengar suaminya sedikit berteriak.
"Kenapa Bang?"tanya Rian dengan panik.
"Tadi ada yang gerak di dalam perut. kamu salah makan, apa gimana? jangan-jangan tadi pas makan ayam nggak dikunyah dulu, makanya ayamnya hidup lagi."cerocos Herlan dengan wajah heran.
"Apaan sih, Bang? ngaco kamu."sangkal Rian.
"Lah, terus tadi yang gerak-gerak di perut kamu apa?"Herlan menatap ke arah perut istrinya dengan heran.
"Ini anak kamu, Bang. Beberapa hari ini, dia aktif banget. Suka nendang-nendang."Rian merubah posisinya, wanita itu terlentang dengan sedikit menyandarkan tubuhnya pada bantal.
"Maksud kamu? tadi yang gerak-gerak itu dedek di dalam perut kamu?"tanya Herlan tak percaya.
"Iya, tadi kan kamu elus-elus perut aku, dia ngasih respon."jelas Rian
"Masa sih? coba aku halus lagi."Herlan kembali mengarahkan tangannya pada perut sang istri. Pria itu mengusap perut Rian yang membuncit dengan lembut.
Herlan kembali merasakan gerak pada perut istrinya, bahkan gerakan itu sangat keras, seperti sedang menendang.
"Hahaha... beneran direspon lagi tangan aku ditendang."Herlan tertawa keras.
"Coba sekali lagi!"ucap Herlan dengan penuh semangat, pria itu menyikap daster yang dikenakan istrinya sampai memperlihatkan perut buncit wanita itu.
"Bang Herlan, ih! mau ngapain?"teriak Rian Seraya menarik selimut dan menutupi bagian perutnya.
"Aku memeriksa dedek lagi."jawab Herlan Seraya menarik selimut itu dan merapatkan tubuhnya dengan Rian.
"Modus! nggak mau, kamu juga cuekin aku, malah nyuruh aku tidur. Ya udah, aku dek mau tidur aja."Rian kembali menarik selimut tadi sampai menutupi dadanya. wanita itu merubah posisinya menjadi membelakangi Herlan dan mulai memejamkan mata.
"Jangan tidur, aku masih mau main sama dedek."Herlan mendekatkan wajahnya kepada Ryan yang masih hujan kan mata.
"Dede, bangun, main sama ayah yuk!"Herlan kembali mengelus pemberian sampai merasakan tendangan sangat keras dari dalam istrinya.
"Wah, tendangannya kencang banget. dedek mau jadi pemain bola ya " ucap Herlan kembali dengan tangan yang terus-menerus perut sang istri.
"Bisa diam nggak? orang mau tidur juga!"kardus Ryan Seraya menatap para suaminya dengan.
"Tidur apaan? orang matanya masih seger gitu. ngomong aja Kamu lagi ngambek. dasar bawel!"Herlan menarik ujung hidung istrinya.
__ADS_1
"Gak usah pegang-pegang!"kardus Ryan lagi sering menepis tangan Herlan.
"Dih, sewot banget. Ya udah aku minta maaf. kalau kamu nggak mau maafin dan masih sewot kayak gini, Ya sudah aku mau tidur di luar saja."
"Di luar di mana Bang?"tanya Rian dengan segera, sebelum suaminya bangun.
"Ya, di mana aja. Di kamar orang yang mau menerima aku tidur,"jawab Herlan ngasal.
"Bang Herlan! jangan bilang kamu mau tidur di rumahnya Larissa?!"Rian menarik bau Herlan yang sudah duduk.
Tubuh Herlan ditidurkan dengan paksa oleh Rian, bahkan wanita itu mendidih tubuh suaminya agar tidak bisa bergerak.
"Uhk... uhuk.... uhuk.... Rian, kamu berat banget."Herlan sedikit menggeser tubuh Rian yang sedang menindih tubuhnya.
"Bang Herlan Jangan pergi."Rian memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Kalau kamu nggak maafin aku dan masih juga kayak tadi, lebih baik aku pergi saja."
"Ya, udah iya, aku maafin."semakin mempererat dekapannya.
"Sekarang, giliran kamu lagi yang minta maaf, karena kamu sudah ketemu sama aku!"Dita Herlan.
"Loh, kok gitu?"Rian mengendorkan pelukannya.
"Iya, ketuk sama suami sama saja dosa. sudah minta maaf sini, biar pas lahirannya nanti lancar!"Herlan menyodorkan tangannya ke arah Rian.
"Sudah, buruan!"
"Iya, Bang aku minta maaf atas segala salah dan dosa aku padamu."tutorial sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Dimaafkan."balas Herlan singkat.
"Ye, ileah . singkat benar. Setidaknya ngasih kiss, begitu biar so sweet.
Herlan mendekatkan wajahnya dan menghujani wajah sang istri dengan ciuman.
****
Andini bangun lebih awal, dia berencana ingin membantu ibunya di dapur, menyiapkan makanan untuk sarapan.
Namun, perutnya tiba-tiba saja terasa sakit, dia beberapa kali duduk di atas kloset, tetapi rasanya bukan seperti ingin buang air besar.
Lelah dan merasa kesel sendiri di dalam kamar mandi, akhirnya Andini memutuskan untuk keluar. karena beberapa menit duduk di atas kloset, tidak ada apa-apa yang dikeluarkannya.
__ADS_1
"Huff...."Andini membuang nafas kasar Seraya keluar dari kamar mandi.
Wanita itu mengusap perutnya yang terasa sedikit nyeri.
"Kamu kenapa? kok mukanya begitu?"tanya Dimas yang berdiri di depan kaca Seraya mengancingkan kemejanya.
"Nggak apa-apa Mas. Tadi aku pengen buang air, ternyata enggak."Andini berjalan ke arah kasur dan duduk di tepi ranjang.
"Kenapa? Sembelit?"tanya Dimas kembali dengan tangan yang masih bergerak, mengancingkan kemeja.
"Enggak tahu, perut aku agak kenceng gitu."Andini menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Kenceng apa sakit? mending kita ke rumah sakit dulu. aku takut kamu kenapa-napa."Dimas mendekat dan duduk di hadapan istrinya.
"Nggak usah,Mas. Aku nggak apa-apa kok. mungkin tadi emang beneran sembelit, makanya mau nggak jadi terus."
"Benar?"Dimas menatap wajah istrinya dengan penuh selidik.
"Iya, Benar. Mungkin, Nanti kalau sudah makan bisa keluar."jawab Andini meyakinkan.
"Ya, sudah. kamu makan buah pepaya, biar pupnya lancar."Dimas mengangkat kedua kaki Andini Dan meletakkan di atas pahanya.
Pria itu memijat pelan kakek sang istri." Hahaha......sudah seperti anak kecil saja."Andini tertawa keras.
"Aku serius, kalau di sini nggak ada pepaya, biar nanti aku belikan setelah pulang dari kantor."
"Sekalian sama duren dan nanas ya, Mas!"pinta Andini dengan mata berbinar.
"Enggak! ngapain orang hamil makan durian sama nanas, nggak baik buat kandungan kamu."tolak Dimas dengan segera.
"Ih, kamu tahu banget sih, Mas soal semua jenis makanan yang boleh dimakan sama aku dan yang enggak."carocos Andini dengan bibir mengerucut.
"Aku kan mau jadi suami siaga. kalau bukan aku yang menjaga kamu, siapa lagi?"
"Uluhhh, makin tampan aja deh suamiku."Andini mencolek dagu suaminya dengan manja.
"Sudah, mending Sekarang kita ke bawah. nggak enak, matahari sudah memperlihatkan wajahnya ke permukaan bumi, kita masih di dalam kamar. Kamu juga berjemur ya, matahari pagi bagus untuk kesehatan."titah Dimas.
"Hummm..... iya. Padahal, waktu masih gadis, kalau nggak ke kampus jam segini aku masih bersemayam di balik selimut dan berkelana di alam mimpi."ocehan dini sambil Turun Dari ranjang dengan perlahan.
"Itu kan waktu masih gadis. Beda sama sekarang, Kamu sudah mau punya anak. Lagian wanita hamil kurang baik kalau jam segini masih tidur."
"Iya, Mas. Kamu tahu banget sih soal ibu hamil?"Andini menatap curiga ke arah suaminya.
__ADS_1
"Aku kan sering searching, terus nanya-nanya juga sama dokter Dirga seputar kehamilan, supaya aku bisa menjaga kamu dan anak kita dengan baik."Dimas membuka pintu kamar dan mempersilakan istrinya keluar terlebih dahulu.
Bersambung....