
Dua minggu kemudian, di sebuah gedung perusahaan berlantai sepuluh, tepatnya di perusahaan milik Pak Sean si pemilik tender. di sana sudah berkumpul orang-orang yang ikut serta dalam pengajuan penawaran terhadap tender proyek milik Pak Sean. Pak Ferdinand duduk dengan begitu punahnya menetapkan Dimas yang duduk di seberangnya.
Pak Ferdinand menatap remeh ke arah Dimas. saat Dimas menatap darahnya, pria tua itu langsung menunjukkan wajah sinisnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, di samping Dimas sangat geram melihat tingkah Pria tua yang licik. Sudah sering sekali peradilan melakukan kecurangan dalam melakukan tender.
Kali ini Ferdian berharap perusahaan Dimas benar-benar gulung tikar karena kembali gagal mendapatkan proyek hari ini. Setelah sebelumnya perusahaan milik Dimas gagal memenangkan tender dari perusahaan milik Jonathan.
Data penawaran harga menu perusahaan Dimas dikirim oleh Hendra tiga minggu lalu itu benar-benar sangat membantunya. pria yang menjadi penyusup di perusahaan milik Dimas.
Jadi dia yakin sekali seperti yang sudah sudah dirinya akan menang dan rezeki akan kembali menderita kekalahan pada tender kali ini.
Drap
Drap
Suasana yang hening di dalam ruangan itu dipecahkan oleh suara dalam langkah seorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. seorang pria berumur sekitar 30 tahunan. Pria itu berjalan ke arah kursi kebesaran milik Pak Sean.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak Sean baru saja memberi kabar bahwa beliau agak sedikit terlambat, karena saat ini sedang terjebak macet akibat ada perbaikan jalan. kemungkinan sekitar 20 menit lagi baru sampai di tempat ini."tutur asisten pribadi paksaan yang bernama Rio.
"Sekedar info, Pak Sean sebelumnya sudah ada di kantor ini, namun ada kepentingan mendadak di luar kantor, sehingga Pak Sean baru bisa kembali di saat waktu yang bertepatan dengan rencana kita sebelumnya." tambahnya lagi
Tak berselang lama setelah Rio berbicara, tampak OB masuk ke dalam ruang dengan masing-masing membuat sebuah nampan yang berisi beberapa cangkir berisi minuman teh dan kopi. Rio pun menyuruh OB itu agar membagikan minuman tersebut kepada para tamu yang ada di ruangan itu.
Sederet petinggi dari berbagai perusahaan kini mulai menikmati minuman yang disajikan di meja itu.
Setelah Dimas meminum kopi setengah di gelas, Dimas melirik ke arah arloji di pergelangan tangannya. masih ada 10 menit lagi waktu tersisa. Dia pun beranjak dari duduknya, pamit pada Alvin untuk pergi ke toilet.
Pak Ferdinand yang secara samar-samar mendengar kata toilet yang dilontarkan oleh mulut Dimas pada Alvin, dia pun ikut beranjak dari tempat duduknya. pria tua itu menyusul Dimas ke toilet juga.
Usai buang air kecil, Dimas melangkah ke arah meja wastafel yang ada di ruang toilet. lelaki itu membasuh beberapa kali wajahnya agar matanya kembali segar. Sebab sejak tadi di dalam ruangan, pria itu merasa kantuk yang luar biasa. Beruntung office boy datang menyuguhkan minuman berupa kopi untuknya.
Semenjak Andini melahirkan bayi kembar tiga buah hatinya. Dimas kerap sekali begadang untuk membantu istrinya mengurus Putra dan putrinya yang berumur tiga minggu. Sehingga seringkali Dimas tertidur di dalam ruang kantornya, saat siang hari.
__ADS_1
Namun hari ini Dimas tidak bisa mendapat jatah tidur siangnya. Sebab dia sedang berada di kantor Pak Sean.
***
Sebelumnya, sebelum Andini melakukan proses persalinan sekitar satu bulan yang lalu, Dimas berpamitan kepada istrinya akan pulang agak sorean, atau bisa juga pulang malam. Karena hari ini Dimas akan memenuhi undangan dari perusahaan milik Tuan Andalas.
"Sayang, sepertinya Mas Hari ini agak telat pulangnya. Tidak apa-apa, kan? soalnya ada pekerjaan penting yang harus Mas selesaikan."
"Iya Mas, semoga dimudahkan segala urusan Mas."
Kring kring kring....
Tertera panggilan masuk di ponsel Dimas. dilihatnya panggilan telepon itu dari Tuan Anggara.
"Dimas kamu bisa pergi bersama Alvin saja memenuhi undangan dari Tuan Andalas. sepertinya Papa mau istirahat dulu karena Papa kurang enak badan."ucap tuan Anggara di dalam sambungan telepon selulernya.
Dimas pun menyetujui kalau dirinya Hari ini pergi bersama Alvin saja tanpa keikutsertaan Tuan anggaran.
lalu Dimas pun berpamitan kepada Andini untuk pergi ke kantor saat itu juga.
Ketika sudah sampai di kantornya, Dimas selalu menghubungi Alvin agar segera ke ruang kerjanya.
"Selamat pagi Kak."
"Alvin, Nanti sore kita akan ke perusahaan Pak Andalas untuk mendengarkan pengumuman siapa yang akan memenangkan tender proyek untuk pembangunan pabriknya."
"Baik kak,"sahut Alvin
"Apa masih ada yang kakak butuhkan dari Aku?
"Ehem... untuk surat penawaran di PT graha bersinar Sudah selesai belum!
__ADS_1
"Belum Kak, masih dalam tahap pengerjaan."
"Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu."
Alvin lalu keluar dari ruangan Dimas dan segera kembali ke ruang kerjanya.
"Hendra, segera selesaikan surat penawaran yang diminta oleh Pak Dimas."
"Baik Pak Alvin, paling lambat sore ini akan saya antar ke ruangan bapak."
"Besok pagi saja kamu antar ke ruangan saya, karena sore ini Saya dan Pak Dimas akan pergi ke perusahaan Pak Andalas."
"Baik Pak."sahut Hendra.
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Alvin lalu membuang nafas kasarnya.
"semoga saja perusahaan ini akan memenangkan proyek dari perusahaan milik Pak Sean dan juga PT graha bersinar."harap Arga dalam hati.
Sore harinya, nampak Dimas dan Alvin keluar dari dalam ruangan mereka, keduanya pergi memenuhi undangan perusahaan Pak Andalas.
"Kita pakai mobil masing-masing saja. Karena setelah dari perusahaan Pak Andalas, saya akan langsung pulang ke rumah."
"Baik Kak."sahut Alvin patuh, pria itu lalu berjalan ke arah mobilnya. Setelah mengemudikan mobilnya sekitar 20 menit, akhirnya mobil Dimas dan Alvin tiba di parkiran perusahaan milik Pak Andalas.
Setelah keluar dari dalam mobilnya, Dimas dan Alvin telah melangkah ke arah lobi perusahaan. keduanya lalu menghampiri resepsionis perusahaan itu.
"Permisi Pak Ada yang bisa saya bantu?
"Mbak kami mau menghadiri acara pengumuman pemenang tender."ucap Alvin kepada sang resepsionis.
Bersambung....m
__ADS_1