
"Sialan!"siapa kamu, berani menampar aku!" Andini memegang pipinya yang terasa memanas. Tangannya mengepal sempurna dadanya terlihat naik turun.
Jika kakinya tidak terluka, pasti ia sudah bangkit dan melawan pria itu. Walaupun sebenarnya ia merasa sangat takut.
"Aku akan menghabisi mu." ucap pria itu seraya mengundurkan tangannya karena Andini.
Sretttt
Seketika baju yang dikenakan Andini robek, saat pria tadi menariknya dengan kasar.
Kulit putih dan Belahan dada wanita itu terpampang nyata, dan membuat mata pria yang menggunakan tergos tersebut terbelalak
"Kurang ajar!" Andini menutupi dada dengan kedua tangannya.
Namun, tangan kekar pria itu segera menarik kedua lengannya. Pria tersebut mendekati tubuhnya, dan mendorong tubuh Andini sampai terlentang di atas lantai.
Setelah itu, dengan gerakan cepat, ia menindih tubuh Andini dan menahan kedua tangannya. Agar wanita berada di bawah Kungkungannya tidak bisa melawan.
"Lepasin aku! Tolooooong...." teriak Andini sekencang mungkin walaupun suaranya sudah hampir habis.
"Jangan berisik!" bisik pria itu Serayu mendekatkan bibir ke telinga Andini.
"Toloooong..... ,siapapun Tolooooong.... aku....." teriak Andini kembali, dengan bibir bergetar. Air matanya sudah tak terbendung lagi membasahi pipinya yang memerah.
Perasaannya sudah tak karuan, ketika melihat pria itu menurunkan resleting celananya.
"Lepasin aku! setan kamu!" Andini berusaha menggerakkan kaki kirinya, yang tidak terluka untuk menendang tubuh pria yang kini berada di atasnya.
Namun, tenaganya hampir habis. Hingga ia tak mampu menggerakkan kaki dengan kuat. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah buah dada Andini yang terbuka dan menyumpal sempurna.
Tangan pria itu bergerak nakal akan membuka celana Andini yang sudah robek di bagian paha.
"Tolong jangan lakukan ini! aku mohon." lirih Andini. Karena tak mampu lagi berteriak. Tenggorokannya terasa sakit tubuhnya melemas.
Bruk!!!!
Bunyi pintu yang di dobrak dari luar membuat pria itu menghentikan aksinya, dan langsung bangkit dari atas tubuh Andini.
__ADS_1
Seorang pria berdiri dengan tangan mengepal tatapannya tajam seekor elang yang melihat mangsa.
mata Andini membulat ketika melihat Dimas berdiri di ambang pintu.
Tetapi ia merasa sangat lega. Karena suaminya datang di saat yang tepat, sebelum Pria brengsek itu menodainya.
"Mau kau apakan istriku? brengsek! Dimas mendekat ke pria itu dengan amarah yang membuncah.
Andini merubah posisinya menjadi duduk dan menyandarkan tubuhnya lemas pada tembok.
Kedua tangan menutupi dada dan kedua gunungnya yang terlihat jelas karena bajunya sobek di bagian depan.
Sebuah pukulan keras terdengar nyaring ketika Dimas mendaratkan pukulan pada wajah pria yang memakai tergos itu. Hingga keduanya pun baku hantam di sana. Kedua pria bertubuh kekar itu saling melempar pukulan keras dengan rahang mengeras dan mata menajam.
Andini yang melihat itu tambah ketakutan. Tubuh gadis itu gemetar. Air mata mengalir dengan deras membasahi pipinya yang terdapat luka memar.
Dimas menendang perut pria itu dengan keras,sampai membuat rivalnya terhuyung ke belakang.
Dimas kembali mendekat dan akan melepaskan tergos yang menutupi wajah pria tersebut. Tapi sebelum tangannya menyentuh tergos itu, sang pemilik langsung menepis tangannya dengan kasar.
"Woiiii...." mau lari ke mana kamu!" teriak Dimas seraya mengejar langkah pria tadi.
Tapi suara Isakan tangis Andini menghentikan langkahnya.
Dimas membalikkan tubuhnya dan langsung mendekat. Karena Andini yang terlihat sangat kacau.
Pakaian wanita itu terlihat compang camping. rambutnya berantakan, wajahnya terlihat ketakutan.
"Kamu tidak apa-apa?" Dimas berjongkok di hadapan istrinya. Andini terdiam hanya suara Isakan yang keluar dari bibirnya, yang bergetar. Tetapi tatapan Gadis itu mengarah ke kakinya yang terluka. Dimas mengikuti arah pandangan sang istri. Matanya membulat ketika melihat luka yang dipenuhi darah yang menganga.
"Astaga! kaki kamu terluka, kita ke rumah sakit sekarang."
Andini masih terdiam. Lidahnya kelu, tenggorokannya terasa sakit.
"Kamu tidak diapa-apain kan, sama pria tadi? dia belum berhasil....?
Belum juga Dimas selesai berbicara, Andini langsung menghambur ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Gadis itu menumpahkan tangisan di dalam pelukan sang suami.
Dimas membalas pelukan itu dan mengusap punggung istrinya dengan lembut
"Saya takut." lirih Andini tanpa melepaskan pelukannya. Bahkan Gadis itu memegang erat kemeja suaminya.
"Kamu tenang, Ya. Sekarang di sini ada saya."
Andini terdiam. Ia memejamkan mata, merasakan dekapan hangat sang suami sampai rasa takut itu perlahan menghilang.
"Tapi pria brengsek tadi tidak berhasil mendobrak mu, kan? tanya Dimas yang membuat Andini langsung menengadahkan wajah. Tapi tangannya masih memeluk erat tubuh kekar itu.
"Maksud Bapak, apa? bukannya tadi yang mendobrak pintu itu bapak? Andini menautkan kedua alisnya.
"Ini pintu yang berbeda. Pintu yang sangat berharga dalam dirimu, pintu yang hanya boleh dimasuki oleh suamimu sendiri."jelas Dimas dengan wajah yang terlihat serius.
Andini terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapan suaminya.
"Nggak! dia nggak ngapa-ngapain saya. Saya masih perawan." ucap Andini Seraya melepaskan pelukan dan memasang wajah kesal.
Bisa bisanya Dimas masih memikirkan hal itu. Padahal dirinya sedang ketakutan setengah mati.
"Syukurlah!" pria itu mengusap dadanya sambil menghembuskan napas kasar.
"Bapak ini kenapa sih? saya masih shock malah hanya kayak gitu." Andini mengerucutkan bibirnya.
"Saya hanya tidak ingin milik saya dirampas orang lain. Bahkan saya sendiri belum pernah merasakannya."
"Apaan sih, ih!" Andini memukul dada bidang suaminya dengan kesal.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1