
Sementara itu, seorang wanita yang mengenakan gaun tidur sebatas paha, perlahan naik ke atas kasur dan mendekat ke arah suaminya yang sedang bermain ponsel.
Rian mengibaskan rambutnya seolah menebar aroma parfum kepada indra penciuman suaminya.
Herlan mengerutkan kening dan mengusap hidung, ketika aroma parfum yang begitu menyengat terasa menutup lubang hidungnya.
"Bang Herlan,"Panggil Rian dengan suara yang seolah dibuat seksi.
"Iya Rian."
"Bang Herlan, ih! orang sudah manis banget manggilnya, malah dibalas dengan panggilan Rian."Rian mencebik kesal.
"Aku lebih suka nama itu,"balas Herlan yang belum menoleh ke arah istrinya.
Pria itu masih fokus Menatap layar ponsel yang digenggamnya.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Asal Abang senang, Ade ikut bahagia."wanita itu meraih lengan suaminya sampai membuat ponsel yang dipegang Herlan terjatuh.
"Astaga, Rianti! untung jatuhnya ke kasur."kaget Herlan dengan tangan yang segera mengambil kembali benda canggih itu.
"Bang Herlan lebih sayang mana? ponselnya daripada sama istri? Rianti bertanya dengan tangan yang memainkan rambutnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"Herlan mengarahkan pandangannya ke arah Mariska yang terlihat menor dengan lipstik berwarna merah menyala pada bibirnya.
"Buktinya ponselnya jatuh langsung diambil Coba kalau aku yang jatuh?"
"Ya, paling tinggal aku injak."Herlan terkekeh sampai matanya menyipit.
"Bang Herlan! nggak ada manis-manisnya. Bang Herlan anggap aku sebagai istri nggak sih? kesal Mariska dengan mata yang terlihat memerah, menahan air mata.
"Nggak tahu ya!"jawab Herlan yang kembali terkekeh.
"Bang, pulangkan aja aku ke rumah orang tuaku!"Mariska mengusap sudut matanya yang masih kering.
"Pulang saja sendiri!"timpal Herlan dengan bibir yang menahan tawa.
"Bang Herlan kejam! remuk hati Ade, bang."
"Memangnya kamu punya hati? tanya.
"Belah dada aku bang!"Mariska mengarahkan dadanya kehadapan Herlan yang membuat dua gunung kembar yang tumbuh pada dada wanita itu menyembul sempurna.
Herlan membulatkan matanya ketika melihat pemandangan yang membuat tubuhnya terasa memanas.
Saat ini Rian mengenakan gaun tidur dengan belahan dada rendah, sehingga saat ia membusungkan dada, kedua gunung kembarnya seolah akan melompat.
Herlan menelan salivanya susah payah, dada mulus Rian seolah mengguncangkan hasratnya.
"Bang Herlan kenapa? tanya Rian ketika melihat wajah suaminya yang sudah berubah ekspresi.
"Rianti Kenapa kamu seperti ini? Herlan balik bertanya dengan mata yang masih tertuju pada dada sang istri.
__ADS_1
"Seperti apa bang?"seperti ini? Rian semakin mendekatkan dadanya sampai membuat wajah heran hampir menempel pada gunung kembar miliknya.
Tubuh Herlan semakin menegang, kenapa Rian malah seakan memanasinya.
"Rian jangan seperti ini." ucap Herlan dengan suara serak.
"Terus, gimana bang? begini boleh nggak?"Rian menindih kaki Herlan dengan paha mulusnya. Bahkan Ia sengaja sedikit menyikap gaun tidurnya.
Tubuh Herlan kembali menegang, darahnya berdesir dengan jantung yang berpacu lebih cepat.
"Rian, lebih baik sekarang kamu tidur!"titah Herlan dengan wajah tegang, bahkan hembusan nafas pria itu terdengar memburu
"Kita tidur bareng ya, bang! Rian merangkul tangannya pada bahu Herlan yang terdiam mematung.
"Rianti Kamu kenapa pakai baju pendek sekali?
"Abang tergoda? ayolah bang. Aku sudah halal untukmu."Rian mencolek dagu Herlin yang terdiam dengan tubuh menegang.
"Halal untuk disembelih?"Celetuk Herlan yang membuat senyum pada wajah wanita itu memudar.
"Bang Herlan! aku istrimu, sentuh aku bang! Rian naik ke atas pangkuan Herlan dan menggoyangkan pinggangnya di atas pria itu.
"Rianti,"Panggil Herlan kembali dengan suara sensual
"Ayolah bang. Sentuh aku."Rian terus menggoyangkan pinggulnya yang membuat sesuatu di bawah sana seakan bangkit.
"Atau Abang ngak normal ya? sehingga tidak bergairah melihat lekuk tubuhku yang seksi?
"Is hanya tak ingin akan ada keraguan diantara keduanya.
"Bang Kamu nggak lihat keseriusan dari wajah aku? Rian menunjuk wajahnya sendiri.
Herlan menatap wanita yang kini sedang bergerak nakal di atas pahanya. Pria itu tersenyum, sebuah senyuman yang membuat Rian enggan untuk berpaling, walau satu detik saja.
"Cantik,"ucap Herlan yang terdengar begitu manis. Seketika wajah Rianti berubah menjadi merona bagai sirup Marjan.
"Bang, aku nggak salah dengar kan? kamu bilang aku cantik? tanya Rian kembali padahal ia mendengar jelas apa yang dikatakan suaminya barusan.
"Iya cantik. Cuman bibirnya kemerahan."Herlan mengusap bibir Rianti dengan ibu jari.
"Ini lipstik Bang, aku sengaja milih warna merah, supaya terlihat lebih menggoda
"Tapi aku lebih suka bibir kamu yang alami." ucap Herlan sambil menatap sang istri dengan tatapan penuh hasrat dan cinta
"Masa?"Rian kembali bertanya dengan pipi yang kian merona, dan bibir tak berhenti menyunggingkan senyuman.
"Iya, maka dari itu aku akan menghapus lipstik ini."
Herlan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir mereka.
Tubuh Rianti seketika menegang perasaannya tak karuan, denyut jantungnya bertalu-talu beriringan dengan desiran darah yang mengalir dengan deras.
__ADS_1
Herlan menangkup pipi istrinya dan mulai memberikan serangan pada bibir ranum yang terlihat menggoda.
Pria itu melakukannya dengan sangat lembut, sehingga membuat Rianti yang masih sedikit polos perlahan mengikuti permainannya.
Tangan Herlan turun ke arah Ceruk leher sang istri dan membelainya dengan lembut, sampai membuat Rian semakin terangsang.
Perasaannya bak dihempas ke udara. Herlan melepas pagutan mereka setelah merasa pasukan udara mulai habis.
Keduanya terdiam sejenak dengan mata yang saling menatap. Nafas Herlan terdengar memburu tatapannya seakan terhalang kabut gairah.
"Istriku,"panggilnya dengan lembut. lalu tangan kekarnya menyelipkan anak rambut Rianti pada telinga wanita itu.
Rianti menunduk wajahnya yang merona Namun, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman.
gelora di jiwanya seolah meronta. Ia merasa ini adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Dipersatukan dengan orang yang selalu ia lafalkan namanya di setiap sujud terakhir. sang pemilik segala rasa, seolah mengabulkan semua panjatan doanya.
Hingga kini ia bisa bertatap dan bersentuhan dengan seorang pangeran yang ia dambakan selama ini.
Herlan menggenggam jemari Rianti dan menautkan jemari mereka. Lalu pria itu merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati ke atas kasur.
Tatapan keduanya kembali saling mengadu dengan pandangan terhalang kabut gairah.
Herlan mendekatkan wajahnya dengan menghujani wajah sang istri dengan kecupan lembut.
Setelah puas menjamah wajah wanita itu, Herlan menurunkan kecupannya kebagian leher jenjang sang istri, yang memiliki kulit mulus tanpa celah.
Pria itu memberikan beberapa jejak kepemilikan, yang membuat Rianti menggelinjang, nikmat dengan suara nakal yang mulai lolos dari bibir semerah sirup Marjan itu.
"Rianti, Panggil Herlan dengan suara sensual.
"Iyala bang, Rianti sedikit menundukkan kepala agar tatapan mereka beradu.
"Aku sayang kamu." ucap Herlan yang membuat jantung Rianti seakan meledak,
Ingin rasanya ia mengepakkan sayap dan terbang bebas ke udara, ketika mendengar kalimat manis dari bibir suaminya.
Namun, sayangnya Ia bukanlah seekor kupu-kupu ataupun burung yang bebas terbang ke mana saja yang mereka mau.
Melainkan seorang manusia yang sedang dilanda asmara.
"Aku juga sayang bang Herlan sejak dulu." balas Rianti dengan senyum malu-malu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"
__ADS_1