Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 184. KECURIGAAN DIMAS BENAR


__ADS_3

"Kalian sama saja! aku tidak hamil, ya tidak hamil." Erin bangkit dan memukul bantal yang ada di sampingnya.


"Buktikan kalau kamu tidak hamil." ucap Dimas yang kembali ke kamar itu dengan membawa sebuah tespek.


Dimas melempar benda itu ke arah adiknya. Seketika mata Erin membulat ketika melihat apa yang dilempar kakaknya barusan.


"Kak, Aku beneran nggak hamil. Untuk apa aku harus mengeceknya" protes Erin kembali tanpa menyentuh tespek yang terletak di hadapannya sedikitpun.


"Cepat!"Titah Dimas kembali dengan suara yang semakin meninggi.


"CK..... orang nggak hamil juga." Erin Turun Dari ranjang dengan kesal.


"Sayang, bantu dia." titah Dimas kepada istrinya.


"Nggak usah." tolak Erin dengan cepat


"Nggak usah, Kenapa? nanti kamu salah lagi. aku tunggu di luar." Dimas keluar dari kamar itu yang diiringi tatapan tajam adiknya.


"Erin, biarkan Kakak bantu yuk." ajak Andini sambil menunjuk ke arah kamar mandi.


"Nggak usah, aku bisa sendiri. Erin masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu itu dengan rapat.


Setelah beberapa saat kemudian, wanita itu belum keluar atau membuka pintu kamar mandi kembali. Andini masih setia menunggu di luar mulai resah. Wanita itu mengetuk pintu kamar mandi yang ada di hadapannya beberapa kali. Sampai akhirnya pintu itu terbuka.


"Gimana hasilnya?" tanya Andini yang ikut deg-degan. Andini menatap ke arah wajah Erin yang terlihat tegang. Mata adik iparnya memerah dan perlahan menetaskan buliran bening.

__ADS_1


"Erin, gimana?" tanya Andini kembali tidak daar ingin mengetahui hasilnya. Tangan Erin bergerak, perlahan memperlihatkan tespek pada genggamannya ke arah Andini. Mata Andini membulat dengan mulut yang terbuka lebar.


Bahkan nafas Andini berhenti beberapa saat, ketika melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan yang terlihat jelas.


"Erin, Kamu hamil?" ucap Andini masih dengan wajah syok.


"Erin, terdiam bak sebuah patung. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Andini. Namun, tak lama kemudian tangis wanita itu memecah.


"Kak, aku takut!" lirihnya dengan tatapan kabur terhalang air mata. Andini menggelengkan kepala. Ia bahkan bingung harus berkata apa saat ini.


"Kak aku takut!" ucap Erin sekali lagi, tetapi dengan nada lebih tinggi. Bahkan lebih terdengar seperti sebuah petir di siang bolong


"Erin , Siapa yang menghamili kamu? tanya Andini dengan suara pelan. Erin kembali terdiam bibir wanita itu bergetar. Suara isakan tangis perlahan keluar beriringan dengan air mata yang mengalir semakin deras.


"Iya." sebuah jawaban singkat namun pasti. Seketika membuat lutut Andini bergetar. Ia tidak percaya, pria baik yang ia kira selama ini melakukan hal sebejat itu pada adik iparnya.


"Astaga! kenapa bisa begini?" Andini ikut meneteskan air mata ketika melihat bahu Erin yang bergetar hebat.


"Aku khilaf kak. Aku takut, Kak Dimas marah." tubuh Erin terlihat melemas. Andini segera merangkul adik iparnya, dan memeluk wanita itu dengan erat.


"Bima harus bertanggung jawab." tukas Andini dengan nada geram. Tetapi matanya terus mengeluarkan buliran bening.


"Aku takut.... aku takut Kak Dimas marah besar." lirih Erin di sela Isak tangisnya.


"Terlambat, seharusnya kamu berpikir seperti ini sebelum melakukan hal buruk itu." sangkal Andini yang membuat tangis Erin semakin memecah.

__ADS_1


"Ada apa?" suara bariton yang muncul di balik pintu kamar itu membuat tubuh Erin seakan terbujur kaku. Rasanya ia ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Dimas melangkah semakin mendekat. Gerak kaki pria itu beriringan dengan denyut jantung Erin yang kian tak karuan.


Andini ikut merasakan ketegangan yang luar biasa. Ia hapal betul Bagaimana sikap suaminya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Dimas yang mata yang menetap penuh selidik ke arah Erin yang menyembunyikan wajah dalam pelukan Andini


Erin menggenggam erat tespek itu, agar tidak terlihat oleh sang kakak. Namun, mata jeli Dimas seolah tak bisa dibohongi. Pria itu merampas tespek tadi dari genggaman adiknya.


"Kak!" teriak Erin sambil melepaskan pelukannya dari Andini yang mendekat ke arah Dimas, dan berusaha merampas kembali benda kecil itu dari tangan kakaknya. Namun, sayangnya Dimas sudah mengarahkan pandangannya kepada benda tersebut.


Mata pria itu seketika membulat dengan rahang mengeras


"Kurang ajar!!!!!


"Plak!!!!


Dimas langsung melabuhkan sebuah tamparan keras pada pipi adiknya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2