
Amarah Dimas sudah tidak dapat dibendung lagi. Beberapa kali Dimas melayangkan tamparan ke wajah cantik adiknya.
"Plak!!!
"Plak!!!
Erin memegangi pipinya yang terasa memanas, buliran bening semakin mengalir deras dari kedua mata wanita itu.
"Lelaki mana yang menghamili kamu? jawab!! bentak Dimas dengan nada suara yang semakin meninggi.
Dimas yang sudah sangat emosi, kembali melayangkan tamparan. Gigi pria itu terlihat mengeras dengan urat dan otot tangan yang menyembul sempurna.
"Kak, aku minta maaf,"lirih Erin dengan wajah menunduk tidak sanggup menatap kakaknya.
"Kamu telah mempermalukan keluarga kita!"
"Kamu telah melakukan kesalahan fatal!Arghhh...
BUGH!
Dimas mendorong tubuh adiknya dengan sekuat tenaga sampai membuat wanita itu terjatuh ke atas kasur.
Dimas sengaja mendorong tubuh adiknya ke kasur supaya tidak terjadi hal-hal yang membahayakan.
Erin tersungkur di atas kasur dan menangis tersedu-sedu. Andini yang melihat itu merasa tidak tega, iya mendekat ke arah Erin dan memeluk tubuh adik iparnya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di sini?"tanya Tuan Anggara yang baru masuk ke kamar itu karena mendengar suara ribut dari ruang tamu.
Dimas langsung mengarahkan pandangannya kepada sang ayah yang berjalan semakin mendekat. Wajah Erin kembali terlihat tegang dan semakin ketakutan. Takut ayahnya ikut memarahinya.
"Dimas, Kenapa Adik kamu menangis? apa yang terjadi nak?"tanya Tuan Anggara kembali dengan nada suara yang semakin meninggi.
"Pa, Erin sudah mempermalukan keluarga kita. dia sudah mencoreng nama baik bapak dan aku sebagai seorang dosen dan pemilik kampus."ucap Dimas spontan iya lupa kalau Andini tidak mengetahui kalau Dimas selaku pemilik kampus tempat di mana dirinya kuliah.
Tapi karena masalah yang saat ini sedang mereka hadapi, Andini tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Karena dia masih berusaha menenangkan Erin.
"Katakan ada apa yang sebenarnya?"Tuan Anggara kembali bertanya
"Pa, Erin saat ini hamil. dia telah mengandung anak sialan!"jawab Dimas dengan Gigi mengerat.
Raut kecewa dan amarah nyata pada wajah pria bertubuh tegap itu.
"Apa? Erin, Apa benar yang dikatakan Kakak kamu barusan?"sergah Tuan Anggara dengan mata yang menatap tajam ke arah istrinya.
Sementara Erin hanya menunduk dengan tangis yang kini memecah.
"Ini buktinya, Pa! Dimas menunjukkan tespek tadi ke arah sang ayah.
__ADS_1
Seketika lutut Anggara terasa bergetar, di usianya yang sudah senja dan kondisi kesehatannya akhir-akhir ini sudah semakin memburuk, membuat tubuh pria itu terlihat lemas.
"Erin, kamu....., kamu mau membunuh papa!"ucap Tuan Anggara dengan suara melemah.
"Pa, kita ke kamar papa sekarang!"Dimas Mama apa tubuh Tuan Anggara dan membawanya ke kamar.
Dimas memanggil salah satu sopir dan asisten rumah tangganya agar segera menghubungi dokter.
Erin mengangkat wajahnya dengan perlahan, air mata tak pernah berhenti mengalir. Bahkan ia tak peduli dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kak, apa sebaiknya aku mati saja?"lirih Erin dengan penuh penyesalan.
"Erin, kamu tidak boleh berbicara seperti itu."Andini mengusap punggung adik iparnya yang bergetar.
"Lebih baik aku mati. semuanya telah hancur!"Erin bangkit dan langsung mengambil pisau cutter yang ada di dalam laci. Lalu ingin mengarahkannya hendak memotong urat nadi di bagian pergelangan tangannya.
"Erin, Jangan lakukan itu!"Andini mendekat dan berusaha merampas pisau cutter tersebut dari tangan Erin. namun wanita itu berlari ke arah jendela kamar, berusaha menghindari kakak iparnya.
"Lebih baik aku mati, daripada aku membuat malu keluarga ini. Aku sudah tidak ada gunanya lagi."
Mata Andini membulat, mulut wanita itu terbuka lebar, tubuhnya seakan menegang Dan hampir tak bisa bergerak.
"Erin jangan gila!"
Dimas yang tiba-tiba kembali ke kamar itu langsung merampas pisau kacer dari tangan Erin dan melemparkannya keluar jendela.
" Setelah menghancurkan semuanya, kamu mau menghancurkan dirimu sendiri! gila kamu!"Dimas mencengkram dagu wanita itu dengan kuat sampai meninggalkan bekas memerah pada kulit wajah adiknya."
Tangan Dimas perlahan melemas, pria itu melepaskan tangan dari dagu Erin yang menangis tanpa suara.
"Sekarang kamu ikut kakak!"Dimas menarik tangan Erin keluar dari kamar itu.
"Mas, kamu mau ke mana? Andini mengikuti langkah lebar suaminya.
"Aku ingin meminta pertanggungjawaban kepada Bima."
"Maksud kamu kita mau menemui Bima sekarang?"
"Iya, sebelum masalah ini semakin runyam. pria itu kembali menarik tangan adiknya dengan kasar.
Erin mengikuti langkah-langkah dengan terseok-seok.
Begitupun dengan Andini yang tak bisa melerai amarah suaminya, iya hanya bisa mengikuti langkah pria itu.
Dimas mendorong tubuh Erin ke dalam mobil yang langsung disusul oleh Andini.
kemudian Dimas segera duduk di kursi kemudi dan menjalankan roda empatnya tersebut dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dimas membawa mobil itu bak orang kesurupan. Bahkan ia lupa kini dirinya sedang membawa dua wanita hamil di kursi bagian belakang mobil tersebut.
Dimas menerobos jalanan yang ramai, Bahkan ia menyalip beberapa kendaraan di depan sana.
Ia hampir saja menerobos lampu merah Karena hati dan pikirannya dilanda amarah.
Perjalanan yang cukup panjang diiringi dengan hembusan nafas amarah terasa begitu singkat.
Andini memeluk tubuh Erin yang bergetar, wanita itu tidak berhenti menangis bahkan sampai mobil yang mereka tumpangi berhenti di cafe kampung kecil.
Dimas turun terlebih dahulu dan membuka pintu belakang. Dia mengetahui kalau saat ini Bima pasti berada di cafe sedang beres-beres karena jam buka sudah tinggal menunggu sekitar satu jam lagi.
Dimas menarik tangan Erin sampai membuat adiknya terpaksa keluar dengan wajah berantakan.
Dimas langsung berteriak Memanggil nama Bima saat sudah berada di dalam Cafe milik Robert dan Mariska.
Dimas menyeret tubuh Eren ke arah dapur di mana Cafe itu berada. Karena dia tahu Bima pasti ada di dalam.
"Pak Dimas!"ucap Ricky setelah melihat kedatangan Dimas yang tiba-tiba saja menerobos masuk ke dapur Cafe.
Pemuda itu nampak bingung ketika melihat dosennya datang dengan wajah penuh amarah.
"Dimana teman kamu?"tanya Dimas dengan suara penuh penekanan dan sorot mata tajam.
Seketika lutut Ricky bergetar hebat.
Ia masih ingat betul Bagaimana brutalnya dosen itu saat marah.
Terlebih lagi, ia melihat Erin yang wajahnya sembab dengan air mata yang terus menetes. Ricky sudah merasakan aura negatif yang membuat tubuhnya mematung.
"Ada apa Ricky? tanya Bima sambil berjalan ke arah dapur yang baru keluar dari kamar mandi.
BUGH!!!
Tanpa basa-basi lagi, Dimas langsung melayangkan pukulan yang begitu hebat di wajah Bima, dengan sangat keras. Hingga membuat tubuh Bima terhuyung ke belakang ketika mendapat serangan tiba-tiba dari dosennya.
Seketika darah segar keluar dari sudut bibir Bima.
Ricky yang melihat itu segera membantu sahabatnya kembali berdiri tegak.
"Pak Dimas, maaf ini Ada apa sebenarnya?"tanya Ricky dengan wajah heran bercampur ketakutan.
"Diam! Saya tidak berurusan dengan kamu. Saya hanya ada urusan sama pria brengsek ini!"bentak Dimas Seraya menunjuk ke arah Bima dengan tatapan nyalang.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN