Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 278. RENCANA AQIQAH


__ADS_3

Setelah berhasil memenangkan tender besar milik perusahaan Pak Sean, Dimas dan Alvin kembali ke rumah masing-masing. Dimas melajukan mobilnya menuju rumah yang beberapa bulan ini ia tempati bersama dengan Andini dan ketiga putra-putri kembarnya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit membelah jalanan ibukota, Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, Dimas tiba di rumah.


Tampak salah satu asisten rumah tangga membuka pintu utama karena sudah mendengar mobil Dimas memasuki pekarangan rumah.


Sementara Andini yang disebutkan dengan ketiga anak kembarnya, tidak menyadari kalau suaminya sudah masuk ke dalam rumah dan memperhatikan gerak-gerik Andini yang dengan lincah membantu putra-putrinya mengganti popok.


"Assalamualaikum! siapa Dimas dengan suara riang mengagetkan Andini. Atensi Andini teralihkan kepada suara seseorang yang memberi salam kepadanya saat sedang asyik membantu bayi kembarnya mengganti popok.


Sebenarnya bukan tidak ada baby sitter yang dibayar oleh Dimas untuk membantu Andini melakukan apa saja yang dilakukan oleh Andini kepada putra-putrinya. Tetapi ia juga tidak mau berpangku tangan, hanya mengandalkan babysitter aja untuk merawat dan menjaga putra-putrinya. Andini juga ingin merasakan bagaimana seorang ibu merawat bayi dengan kedua tangannya sendiri.


Dia juga tidak ingin ketika anak kembarnya kekurangan kasih sayang darinya. "Sayang kamu sudah pulang?"tanya Andini sambil langsung memberi salam kepada Dimas dan mencium punggung tangan Dimas.


"Bagaimana Sayang, Apakah kamu direpotkan oleh ketiga putra-putri kita yang cantik dan tampan ini?"ucap Dimas sumber memberikan kecupan hangat di kening putra-putrinya satu persatu.


"Enggak Mas ketiga anak kita baik budi kok. hanya saja mereka menangis saat mereka membutuhkan ASI dariku. walau sedikit kewalahan sih harus bergantian memberikan mereka ASI. Soalnya baby Danis, Dasa dan Dania kurang menyukai susu formula yang kita berikan. Sepertinya mereka lebih menyukai ASI dariku."sahut Andini memberitahu keluhannya kepada sang suami.


"Kasihan banget istriku, Kalau begitu kamu harus kuat makan sayang, kasihan tubuh Kamu nanti tidak mencukupi asupan gizinya untukmu dan ketiga putra-putri kita."


"Astagfirullah Mas, apa nggak Mas lihat setiap kali Andini makan selalu nambah dua atau tiga kali. Sudah pasti asupan gizi yang Andi diberikan kepada putra-putri kita pasti mencukupi. Apalagi hati Andini selalu bahagia, merasakan perhatian Mas yang sangat luar biasa."Puji Andini sambil mencubit kedua pipi suaminya.


Dimas semakin gemas melihat istrinya, mungkin kalau saat ini tidak masa nifas Dimas akan bergulat saat itu dengan sang istri di ranjang. Tapi karena Dimas masih ingat kalau saat ini istrinya masih masa nifas sehingga ia menahan diri untuk tidak melakukannya.


"Tapi tunggu dulu, Kenapa tiba-tiba wajah Mas Dimas sepertinya bahagia banget?"tanya Andini penasaran.


"Kamu mau tahu, atau mau tau banget?


"Mau tau banget Mas." suaminya dengan katakan horor, karena suaminya mengulur waktu memberitahu Mengapa raut wajah suaminya sepertinya sangat bahagia sekali.


Akhirnya memberitahunya. "Begini sayang, pengumuman tender perusahaan bilik pakaian sudah diumumkan. Apa kamu tahu, perusahaan milik kita memenangkan tender besar tersebut. Mungkin ini rezeki ketika putra putri kita." ucap Dimas memberitahu kepada sang istri.


"Alhamdulillah kalau begitu Mas, Andini juga senang mendengarnya. Mungkin Allah memberikan rezeki kepada kita saat putra-putri kita sudah lahir, saat perusahaan tidak baik-baik saja ketika beberapa kali telah tender dari perusahaan bisnis Mas."ucap Andini sambil memeluk suaminya.


"Mas berencana ingin mengadakan aqiqahan untuk putra putri kita sayang. Mungkin hari ini kan nanti."Dimas memberitahu rencananya kepada istrinya.


Andini mengembangkan senyumnya. tampaknya Andini se pemikiran dengan Dimas, kalau mereka akan melakukan aqiqah untuk kita butuh mereka. Dan rencananya Dimas ingin mengundang anak yatim yang selama ini ia setiap bulannya.

__ADS_1


Terlihat pasangan suami istri itu sepakat untuk melakukan aqiqahan di weekend nanti.


"Ya sudah kalau begitu, Mas lebih baik mandi gih. habis itu kita makan malam, sudah hampir setengah sembilan malam juga. Lagian anak-anak kita sudah tidur."ujar Andini menyarankan suaminya agar segera membersihkan diri.


***"


Sementara itu, seorang wanita yang sedang hamil tua, menyambut kedatangan suaminya ke depan pintu.


Rian yang mendengar suara mobil harland berhenti di rumah itu segera berjalan dengan cepat ke arah pintu.


Namun, ia menghentikan langkahnya dengan perlahan sangat merasakan perutnya sakit.


Rian terdiam sejenak, tangan bangsa perut yang terlihat begitu besar.


"Kok sakit perut ya? apa Aku pengen pup kali? tapi kok rasanya beda?"Ryan dengan tangan yang masih memegang perutnya yang semakin lama semakin terasa sakit.


"Aw! kok malah semakin sakit begini sih?"gumamnya kembali sambil meringis menahan sakit.


"Assalamualaikum."ucap Herlan yang menerobos pintu dan masuk ke dalam rumah. pria itu langsung menatap ke arah sang istri yang mematung sambil meringis.


Rian tidak menjawab, wanita itu sibuk merintih menang sakit. "Rian Kamu kenapa? tanya Herlan sekali lagi dengan wajah panik. pria itu segera mendekat karena yang terus meringis.


"Bang, perut aku sakit banget,"jawab Rian dengan nada lesu


"Aku nggak tahu Bang. tapi ini sakitnya semakin lama semakin bertambah."


"Wah, jangan-jangan kamu mau melahirkan,"tebak Herlan.


"Apa? melahirkan?"Rian membulatkan matanya.


"Iya, kandungan Kamu kan udah sembilan bulan,"jawab Herlan yang membuat jantung Rian berdebar hebat.


"Huaaaa... nggak mau, aku takut melahirkan. aku takut aset aku sobek, takut dijahit juga kayak si Mariska. Huaaaa.... Bang, tukaran jiwa yuk!"Rian menjerit ketakutan.


"Aduh, bang perut aku makin sakit. Tolong Bang! gimana ini? rintik Rian dengan mata yang mulai berkaca-kaca, wajah wanita itu terlihat ketakutan.


"Sebentar, kita ke sofa dulu!"Herlan nama pak istrinya mendekat ke arah sofa.

__ADS_1


"Aw! sakit Bang. Aku takut Bang.Huuuuu...."Rian memeluk tubuh suaminya dengan erat, menelusupkan wajah pada lengan pria itu.


"Kamu duduk dulu sebentar di sini! Aku mau panggil mama dulu."Herlan mendudukan tubuh istrinya dengan hati-hati di atas sofa.


"Sakit Bang! jerit Ryan sore yang menarik tubuh Herlan dan ikut Duduk dengannya ke atas sofa.


"Iya, sebentar kamu diam dulu! Aku mau manggil Mama."


"Nggak mau, Bang jangan pergi, Aku takut! Ryan semakin mengeratkan pelukannya, wanita itu mengagungkan tangan pada leher herland sampai membuat pria itu tak dapat bergerak.


"Uhuk...uhuk..."Herlan terbatuk karena Rian mencengkram lehernya begitu kuat.


"Bang, kok malah batuk sih? tolong aku dong! protes Rian di sela rintihannya.


"Iya, Aku mau nolongin kamu ini, tapi lepasin dulu leher aku."Herlan berusaha melepaskan tangan Rian dari lehernya.


Wanita itu sedikit mengendorkan tangannya, tetapi tidak melepaskan leher Herlan.


"Jangan pergi Bang. Aku takut! rintih Ryan kembali dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Ma ... mama!!! teriak Herlan dengan suara menggelegar dan membangunkan semua penghuni rumah itu.


Seketika dua orang paruh baya keluar serentak dari dalam kamar.


"Herlan, ada apa? kok teriak-teriak?"tanya Nyonya Laras sambil melangkah dengan lebar ke arah Herlan dan Rian yang masih duduk di atas sofa.


Nyonya Laras dan Tuan miko Pratama datang dengan wajah panik.


"Ma, Rian mau melahirkan."jawab Herlan sambil melihat ke arah Rian yang masih meringis


"Hah? Ya udah kita bawa ke rumah sakit sekarang!"tita Nyonya Laras dengan wajah panik.


"Ma, tolong!!! perut Rian sakit! rintih Rian kepada sang mertua.


"Iya, sabar ya! kita ke rumah sakit sekarang!"Nyonya Laras menyikap dasternya tak karuan.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2