
Mariska yang sudah berpakaian rapi, keluar dari kamar dengan tas selempang yang di bawahnya.
Mariska mengenakan dress berwarna maroon dengan kerah Sabrina. wanita itu mengenakan dress longgar sebatas betis agar perutnya tidak terlalu kelihatan membuncit.
Wanita itu berjalan dengan anggun, tetapi seketika dahinya mengerut ketika melihat seorang pria yang sedang duduk santai di atas sofa.
"Kok masih pakai begituan?"tanya Mariska ketika melihat suaminya hanya mengenakan celana pendek sebatas lutut, serta kaos tipis berwarna hitam, sedang duduk santai di atas sofa sambil menikmati segelas kopi.
"Memangnya kenapa?"Robert balik bertanya.
"Memangnya nggak pergi ke cafe? bentar lagi waktunya buka loh."Mariska melirik jam tangan yang dia kenakan.
"Hari ini libur, kita buka sore aja."jawab Robert dengan santai.
"Libur? Tumben?"Mariska mendekat dengan wajah heran.
"Nggak apa-apa, pengen libur aja. Aku udah ngasih tahu Bima dan Maya kok, Kalau hari ini libur dan buka sore,"tutur robot kembali yang malah membuat bibir istrinya mengerucut.
"Kok gitu sih?"orang lain dikasih tahu kalau hari ini libur, istrinya sendiri nggak dikasih tahu!"gerutu Mariska dengan kesal.
"Kamu kan satu rumah sama aku, Sayang. Kalau aku nggak berangkat ya kamu juga nggak berangkat. kalau mereka nggak aku kasih tahu, entar mereka malah datang ke cafe."balas Robert yang tak mau kalah.
"Tetap aja kamu salah, seharusnya kamu ngasih tahu aku kalau hari ini libur. Taunya gitu, aku nggak dandan, nggak pakai baju rapi kayak gini!"kesal Mariska kembali Seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa di samping suaminya.
"Oh, jadi kamu dandan, berpakaian rapi dan berpenampilan menarik cuman saat mau keluar rumah doang. kamu pengen terlihat cantik dan menarik di mata orang lain, bukan di mata suami kamu sendiri? kamu itu kebalik, seharusnya kamu berpenampilan cantik dan menarik itu hanya di depan suami kamu saja."cerocos Robert yang membuat telinga Mariska semakin memanas.
"Kenapa? kalau aku berpenampilan seadanya di depan kamu, kamu akan mencari wanita lain yang lebih menarik, gitu?!"sergah Mariska dengan nada bicara yang terdengar semakin meninggi.
"Jelas dong."balas robek tanpa ragu.
"Apa? itu artinya kamu tidak menerima aku apa adanya!"Mariska langsung menarik kepala Robert dan menjambak rambut suaminya dengan.
"Aaaa.... ampun, sayang! aku cuman kesel aja kamu bilang kayak gitu, seolah kamu ini dandan untuk orang lain."berusaha melepaskan cengkraman istrinya yang lebih menyeramkan dari cengkraman harimau.
"Aku juga kesel karena kamu tidak menerima aku apa adanya!"
Mariska melepaskan tangannya dari rambut Robert, wanita itu bersedekap dada dengan bibir mengerucut.
"Sudah, nggak usah ngambek. aku nggak salah dan kamu juga nggak salah, jadi nggak usah ribut. Damai, Ya!" Robert mengulurkan tangannya ke arah Mariska.
"Oke, tapi setelah ini kamu harus check out semua yang ada di troli aku."
__ADS_1
"Troli apaan?"Robert menatap cara istrinya dengan dahi.
"Troli di si hitam."
"Oke, tapi kamu juga harus kasih Kiss dulu!"Robert menunjuk pipinya sendiri.
"CK.... iya deh."Mariska mendekatkan bibirnya pada bibir Robert dan memberikan sebuah kecupan hangat pada pipi suaminya.
"Sudah, sekarang giliran kamu yang check out semua yang ada di troli aku."Mariska menyodorkan ponselnya ke arah Robert.
Pria itu segera membuka ponsel milik sang istri, dan membuka sebuah aplikasi Tik Tok shop pusat perbelanjaan online andalan istrinya.
Namun, mata Robert seketika membulat saat melihat jumlah barang yang ada di troli milik istrinya.
"Anjir, Ini belanjaan apaan banyak begini?!"Robert menyandarkan tubuhnya pada sofa dengan lemas.
"Ayo, Katanya sudah janji mau check out semuanya."Dita Mariska.
"Bentar dulu, Sayang. Kita gadaikan kafe dulu."jawab Robert dengan nada pasrah.
"Hahaha... Makanya jangan sok jadi orang. nggak tau aja kalau, kalau istrinya suka belanja di sana." Mariska mengambil kembali ponsel dari tangan suaminya.
"Kalau ngak jadi cekout semua, ngak apa apa deh. Kalau sepuluh aja gimana?" tawar Mariska.
"Hanya tiga juga dua ratus, ngak apa apa kan?" Mariska menunjuk kearah ponsel Robert.
"Ya udah nggak apa apa. Setelah ini kamu pergi ke pegadaian, kali aja ada yang mau menggadaikan burung aku."
"Burung?" Burung apaan?" Mariska menatap ke arah suaminya dengan dahi mengerut.
"Burung ini!" Robert menunjuk kearah bagian sensitifnya.
"Robert,Ikh!" Mariska memukul pelan burung perkutut milik suaminya.
"Aw! Langsung tegang, sayang." Robert menutup aset berharga itu dengan kedua tangannya.
"Rasain!ini jadi enggak cekout sepuluh?" tanya Mariska dengan kesal.
"Lima aja ya, karena kamu mukul si perkutut tadi, jadi potong lima."
"Si perkutut siapa?" Mariska kembali mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ini!" Robert menunjuk area bawahnya sambil terkekeh.
"Buset, namanya keren banget beda sama pemiliknya."Mariska tertawa.
"Sudah buruan cekout lima aja!" tita Robert.
"Sepuluh ya?" tawar Mariska dengan wajah memelas.
"Ngak bisa! Lima aja.
"Sepuluh deh, sayang. Pelit banget!"
"Iya, sepuluh, tapi Kiss me sepuluh kali!" Robert mengangkat kesepuluh jarinya.
"CK.... selalu aja ada syaratnya. Ya, udah . Deil ya aku cekout sepuluh?"
"Iya, deal." wanita itu bergerak dengan cepat, memesan sepuluh barang pilihannya.
"Sudah beres, kan? sekarang mana sepuluh ciuman plus-plus."
"Kok ada plus-plusnya?" suaminya dengan heran.
"Nggak apa-apa, kan bonus. Lagian kata dokter harus rutin berhubungan untuk memperlancar Jalan lahir."Robert segera bangkit dan mengangkat tubuh istrinya yang memiliki berat cukup lumayan, karena kandungan Mariska semakin membesar.
"Robert, ini masih pagi. Nanti ketahuan sama mama dan ciwi juga.
"Kita kunci pintu rapat-rapat!" Robert segera membawa istrinya ke dalam kamar dan merebahkan tubuh wanita itu ke atas kasur.
Setelah itu, ia bergerak cepat mengunci pintu dan menutup gorden kamar.
Tangannya cekatan membuka kaos dan juga celana pendek yang dikenakannya.
Mariska menatap pasrah keras suaminya.
Robert mendekat dengan tubuh tanpa busana, pria itu naik ke atas ranjang dan dengan semangat empat Lima dan siap menghantam sang istri.
"Robert, tolong angkat galon air Mama mau minum, tapi airnya sudah habis!" teriak mamanya Robert dari depan pintu kamar putranya."Ya Allah, cobaan apalagi ini?" tutur Robert putus asa.
"Sudah, pakai baju lagi sana! kasihan Mama terlalu lama menunggu."Mariska tertawa lepas.
"Tapi ini!" Robert menunjuk ke arah tongkat sakti miliknya yang sudah menegang.
__ADS_1
"Ikat dulu kebawah." ditambah Riska yang kembali diiringi tawa melengking. Mariska tidak dapat menahan tawanya, karena ketika suaminya hendak naik ke atas, panggilan dari ibu mertuanya menyelamatkan Mariska kali ini..
Bersambung.......