
Dimas menarik lengan baju Andini dengan keras sampai robek. seketika pada dada wanita yang sudah sah menjadi istrinya terpampang nyata.
Dengan gerakan cepat Dimas menarik tubuh Andini Dan merapat pada tubuhnya
"Lepasin! Saya tidak mau melakukan ini! Andini memberontak, Gadis itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman suaminya.
Tetapi tenaga Dimas yang sangat kuat tidak ada apa-apanya dibandingkan tenaga Andini yang hanya seorang wanita.
Dimas mendekatkan wajahnya dan menghujani wajah sang istri dengan kecupan demi kecupan.
"Lepaskan! teriak Andini dengan suara yang mulai terdengar serak. Tapi Dimas tak menghentikan aksinya, pria itu terlihat bagaikan seekor singa lapar yang menemukan daging segar, dia sudah emosi melihat istrinya hampir saja dijamah oleh lelaki lain.
Dimas mengecup bibir sang istri dan menghisapnya dengan perlahan. Andini pemberontak dan memukul dada bidang suaminya agar melepaskan pagutannya.
laki-laki pria itu malah menggigit bibir bawah Andini sampai berdarah.
Andini merasakan perih pada bibirnya, Gadis itu menangis dengan suara yang hampir habis. Dimas menurunkan kecupan ke bagian bawah, pria itu mengecup leher jenjang sang istri.
Namun, saat akan memberikan jejak kepemilikannya, Andini mendorong kepala Dimas agar tidak melakukannya. lagi lagi pria itu tidak menyerah dia malah segera menindih tubuh Andini dan menyikap dress istrinya sampai ke atas.
Tangannya bergerak cepat menarik kemeja yang dikenakannya sampai semua kancing kemeja yang itu terlepas.
"Dimas melempar pakaiannya ke sembarangan tempat. Sementara Andini memukul dada bidang suaminya yang telanjang dengan sekuat tenaga.
"Jangan lakukan ini!"teriak Andini disisa suaranya. Dimas menangkap tangan Andini menempelkannya pada kasur, lalu mendidih kedua tangan Gadis itu dengan tangan kekarnya agar tidak bisa kembali melawan.
Kakinya bergerak membuka lebar-lebar kedua kaki Andini dalam posisi yang sangat intim.
Sesuatu di dalam sana sudah bangkit, Dimas mendekatkan wajah ke arah kedua gunung kembar sang istri yang terlihat menyumpal sempurna.
Andi ini sudah tak bisa melawan. Seluruh tenaga dan suara yang telah habis. Ia hanya bisa pasrah di bawah kungkungan suaminya yang semakin beringas.
Suami mana yang terima istrinya akan dijamah lelaki lain, dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Apalagi suaminya sendiri saja belum pernah menjamah istrinya. Kini istrinya hampir saja dijamah dengan pria lain membuat Dimas sangat emosi tingkat dewa.
__ADS_1
Ia tidak bisa terima penghinaan ini. Ia merasa tidak memiliki harga diri, Dimas merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Andini dan juga Bima. Hal itu yang membuat Dimas menjadi bringas seperti ini.
Dimas menekuk lutut Andini dan membuka kedua belah paha istrinya.
pria itu siap memasukkan senjatanya pada milik sang istri.
"Jangan lakukan itu aku mohon,"lirih Andini di sisa suaranya yang ia miliki.
Bahkan tubuhnya terlihat melemah, isakan yang keluar dari bibir tipis itu terdengar perlahan beriringan dengan nafasnya yang terasa sesak. Dimas melihat wajah Andini yang basah oleh air mata, kedua mata istrinya terlihat sembab kulit pipinya memerah terlihat jelas jemarinya pada wajah wanita itu.
Hingga membuat hati Dimas sedikit tersentuh, ternyata ia sudah selancang itu sampai membuat tubuh istrinya terluka.
Seketika Dimas bangkit dan memakai kembali pakaiannya. Pria itu menutup tubuh polos istrinya dengan selimut tebal.
"Istirahatlah! ucapnya sebelum berlalu keluar kamar.
Andini menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu dengan nanar.
dadanya terasa sesak kepalanya masih pusing.
Malam mengantarkannya lelap dalam tangisan, hingga sang mentari pagi menerobos ke dalam jendela kamar dan membuat sepasang kelopak mata sembab itu perlahan terbuka.
Andini mengusap wajah kepalanya sudah tidak terlalu pusing lagi. Andini mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, Dimas tidak ada di kamar itu. Bahkan pintu kamar masih tertutup rapat.
Andini segera bangkit sambil membungkus tubuhnya dengan selimut menuju kamar mandi.
Andini menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya yang terasa panas.
Ingatannya kembali pada kejadian semalam rasa sakit dan sesak dirasakannya kembali.
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya mengalir dengan deras beriringan dengan air shower yang mengguyur seluruh tubuhnya.
Ia sungguh tak menyangka Dimas bisa melakukan hal itu padanya, Bahkan ia sangat ingat jelas, saat tangan kekar Dimas mendaratkan pukulan keras pada pipinya.
__ADS_1
Setelah puas menangis di bawah guyuran air shower, Andini segera mengelap tubuhnya dengan handuk dan memakai kimono. Sebelum keluar Ia membuka sedikit pintu kamar mandi, untuk memastikan bahwa suaminya tidak ada di dalam kamar.
Setelah memastikan keadaan aman, Andini keluar dan segera mengambil baju dari lemari. setelah berpakaian rapi Andini keluar dari kamar dengan langkah cepat.
Ini adalah hari Minggu, Ia libur ke kampus dan juga Dimas tentunya libur mengajar.
Namun, Entah di mana pria itu dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya.
Andini mempercepat langkahnya keluar dari rumah yang ingin Ia tinggalkan.
"Mau ke mana kamu? suara bariton itu mengejutkan Andini jantungnya hampir berhenti berdetak.
"Entah kenapa hanya mendengar suara Dimas saja ia sudah ketakutan. Andini terdiam dan mematung tak berani menoleh atau membalikkan badan.
Suara derap kaki melangkah terdengar semakin mendekat, lututnya bergetar sungguh ia takut suaminya kembali melakukan hal seperti semalam.
Tak ada aba-aba lagi Andini langsung berlari keluar rumah.
"Andini Kamu mau ke mana?" teriak Dimas seraya mengejar langkah istrinya. Namun, Dimas kalah cepat, Andini sudah masuk ke dalam taksi yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Pikiran Andini berkecamuk, kali ini ia ingin menunaikan tugasnya untuk melakukan balapan sesuai dengan janjinya terhadap Morris. Kesempatan baginya untuk melawan sang suami, karena mendapat perlakuan kasar dari suaminya malam itu.
Taksi yang membawa Andini tiba di lokasi yang akan diadakannya balapan. Di sana sudah banyak teman-teman geng motor yang akan adu balap di sana termasuk juga Morris. Tidak hanya moris saja, ada Rian dan juga Robert di sana.
Tampak Morris mengembangkan senyumnya ketika melihat Andini turun dari taksi menghampiri dirinya. Ia bernafas lega, ternyata akan ada yang mewakili klubnya balapan kali ini. Morris sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi terhadap Andini malam ini. Kalau malam itu, Andini mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya sendiri.
Andini berusaha menutupi segala masalah yang ia hadapi. Bahkan Rian dan Robert juga tidak mengetahuinya. Yang mereka ketahui, Andini di bawa oleh Dimas sang dosen killer saat Dimas dan Bima adu jotos dan kondisi Andini saat itu sedang tidak sadar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN