
"Andini, bertahanlah."Dimas bergerak cepat, membuka penutup mulut Andini dan membuka semua tali yang mengikat tubuh istrinya.
Heri dan anak buahnya berhasil menumbangkan semua penjahat itu.
"Dimas, Bagaimana keadaan istrimu?"tanya Heri dengan wajah khawatir.
"Aku akan segera membawanya ke rumah sakit. aku serahkan semua kasus ini kepadamu."Dimas segera membawa tubuh Andini keluar dari gedung itu.
Heri mendekat kepada salah satu preman yang tergeletak lemak di atas lantai.
"Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?"tanya Heri dengan kaki yang menginjak dada pria itu.
"Uhuk... sakit,"rintih pria yang dadanya diinjak oleh Heri.
"Cepat katakan! atau Aku akan membunuhmu sekarang!"ancam Heri sambil menghentakkan kaki di atas dada pria tadi.
"Baiklah, yang menyuruh kami.... Alena...."
Heri terdiam ketika mendengar nama itu, bibirnya menyeringai tipis saat otaknya memikirkan sesuatu.
****
Dimas langsung membawa istrinya ke rumah sakit, pria itu sampai meneteskan air mata ketika melihat keadaan Andini saat ini.
Tak lupa pula, iya membodohkan dirinya sendiri karena tak bisa melindungi Andini.
"Bapak, harap tunggu di sini ya!"seorang suster menghentikan langkahnya yang akan ikut masuk ke dalam IGD.
Dimas terdiam di depan pintu, bahkan sampai pintu tersebut tertutup rapat.
Dimas mengajak rambut dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Dokter segera mengatasi luka Andini yang lumayan dalam, karena serpihan botol tersebut ada yang menancap.
Dimas, terduduk lesu di depan pintu IGD. menunggu dokter yang menangani istrinya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Suara derap kaki yang mendekat membuatnya mengangkat kepala dan menoleh ke arah samping.
Terlihat, empat orang datang mendekat ke arahnya dengan wajah tegang.
"Nak Dimas, Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?"surga Nyonya Laras saat tiba di hadapan menantunya.
"Ma, tenang dulu."Tuan Miko mengusap punggung istrinya.
Sementara Herlan mengulurkan tangan dan membantu Dimas bangkit, agar tidak duduk di atas lantai.
"Ma, Pa, maafkan aku yang tak bisa menjaga Andini,"ucapnya dengan sendu, raut khawatir dan sedih terpancar nyata pada wajah tampan itu.
"Sudah, kita tenang dulu. doakan semoga Andini baik-baik saja."Tuan Miko menengahi.
Tak lama kemudian, pintu di hadapan mereka terbuka, seorang dokter yang diiringi dua suster keluar dari ruangan itu.
"Dokter, Bagaimana keadaan istri?"tanya Dimas dengan Tak sabar.
"Kami sudah mengatasi luka pasien dan sekarang saudari Andini masih belum sadarkan diri."
"Boleh, Tapi harap jangan mengganggu istirahat pasien ya!"
"Baik, dok. Terimakasih."setelah itu, semuanya masuk ke dalam dengan suara hening.
Hanya isakan tertahan yang terdengar dari mulut Nyonya Laras dan juga Dimas.
Dimas meneteskan air matanya, dengan bibir bergetar ketika melihat keadaan istrinya yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien.
Dimas mendekat dan duduk di samping.
Matanya menatap sayur ke arah wajah pusat sang istri.
Pria itu menggenggam jemari Andini yang terdapat jarum infus.
tangannya terulur mengusap wajah cantik Andini yang terdapat luka memar, rupanya penculik itu telah melukai istrinya sebelum dia datang ke sana.
__ADS_1
Dimas menghafalkan tangannya dengan Gigi mengerat.
Namun, gerakan jemari Andini yang digenggamnya membuat pria itu kembali membuka kepalan tangannya.
Kelopak mata Andini bergerak dan terbuka dengan perlahan.
"Sayang, kamu sudah sadar?"Dimas segera mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan lembut pada dahi sang istri yang terdapat perban luka.
"Alhamdulillah. Andini kamu sadar juga, sayang."Nyonya Laras dan Tuan Miku ikut mendekat ke arah putrinya.
Wanita itu tak langsung membalas ucapan Dimas dan ibunya. iya mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan dahi mengerut.
"Aku siapa?
"Hah? Andini, kamu tidak hilang ingatan kan, sayang?"Nyonya Lara semakin mendekat dengan air mata yang tak terbendung lagi.
"Aku..."
"Sayang, kamu.... kamu ingat aku kan?"kamu tidak lupa semuanya kan?"tanya Dimas beruntun, dengan tatapan kabur terhalang air mata.
"Andini, ingat Mama, Nak "Nyonya Laras menangis histeris.
"Aku Andini.... maksudku tadi, aku di mana?"Andini meralat ucapannya.
Seketika semua orang terdiam sejenak, air mata Nyonya Laras yang akan keluar seolah kembali masuk lagi ketika mendengar ucapan putrinya tadi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.
__ADS_1