Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 144. ANCAMAN NILAI BURUK


__ADS_3

Hari ini Andini mulai bekerja kembali. meskipun moodnya masih berantakan, tapi hari ini sudah waktunya kembali masuk kerja.


"Hati-hati kerjanya. Jangan sampai melamun jangan banyak pikiran." cerocos Dimas sebelum sang istri keluar dari mobilnya.


"Iya Mas. Mas juga hati-hati." Andini menampakkan senyum terbaiknya dan membuka pintu mobil dengan perlahan.


"Hati-hati sayang." ucap Dimas kembali sebelum tubuh sang istri benar-benar keluar.


"Apa Mas? Andini menyimpulkan kepalanya ke arah Dimas sedangkan tubuhnya sudah keluar.


"Hati-hati Sayang."ulang Dimas yang membuat hati Andini bak ditumbuhi seribu bunga.


"Iya Mas dosen."wanita itu tersenyum lebar dan melemparkan playing kiss ke arah suaminya.


Dimas mengepalkan tangannya ke udara seolah menangkap ciuman itu.


lalu ia menempelkan kepalan tangannya di dada.


"Hahaha....., mas udah kayak ABG, jatuh cinta." Andini tertawa renyah. Dimas ikut mengembangkan senyumnya, ketika melihat istrinya kembali tertawa setelah sehari semalam wanita itu terlihat murung.


"Sudah, masuk sana! Nanti telat." titah Dimas


"Mas duluan yang pergi, nanti aku nyusul." balas Andini yang masih berdiri di samping mobil suaminya.


Dimas sengaja belum menutup kaca mobil sebelum istrinya pergi.


"Kamu duluan, aja. Itu tadi masih kembali.


"Ya udah, kita barengan." usul Andini yang melangkah dengan perlahan.

__ADS_1


Namun, Dimas belum menjalankan mobilnya sebelum sang istri benar-benar masuk ke dalam gedung itu.


Andini masuk ke dalam kantor tempat dia bekerja dan berpapasan dengan Revan.


Pria itu hanya menyapanya sebentar, lalu pergi menuju tempatnya bekerja.


Biasanya Revan akan menyapanya dengan sedikit berbincang sambil berjalan. Memang semenjak Andini mengatakan kalau dirinya sudah menikah, Revan seolah menghindari Andini dan jarang berinteraksi kembali dengannya


Entahlah, mungkin itu hanya perasaan Andini aja, karena mereka juga sudah beda ruangan.


Andini menuju ruangannya di lantai atas, dan Tak lama kemudian ia langsung mendapat panggilan dari sang Bos.


Wanita itu membuang nafas kasar dan masuk ke dalam ruangan Alvin.


"Selamat pagi Pak." sapanya Seraya berdiri di depan meja kerja pria itu. Alvin mengangkat wajah dan menatap ke arah Andini dengan tatapan dinginnya.


"Apa kabar?" tanyanya yang membuat Andini mengerutkan kening sesaat.


Kemarin mereka tidak bertemu. Karena hari ini adalah hari kepergian. Tuan Pratama dan bertepatan dengan hari Minggu.


Alvin menatap wajah asistennya dengan intens. Tatapan yang membuat Andini semakin menundukkan wajahnya, dan merasa tidak nyaman.


"Bagaimana kondisimu, saat ini apa kamu baik-baik saja." tanya Alvin.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja Pak." sahut Andini.


Alvin menatapnya dengan intens Tatapan yang membuat Andini merasa seolah sedang diawasi.


"Kamu duduk saja dulu." Alvin menunjukkan rasa apa di ruangan itu.

__ADS_1


"Emmm.... Saya rasa ada berkas-berkas yang harus saya siapkan untuk meeting nanti siang."Andini mendekat ke arah meja bosnya.


"Tidak usah, jangan banyak gerak. Kamu duduk saja di sana." titah Alvin kembali membuat Andini langsung menghentikan langkahnya.


"Saya baik-baik saja Pak."


"Saya bilang duduk, ya duduk. Mata kamu kenapa sembab? tanyanya setelah mengamati wajah Andini.


"Tidak apa-apa Pak. Hanya kemarin saya menangis karena kakek saya meninggal.


"Turut berduka cita Kalau begitu. Kamu yang sabar ya." ucapnya dengan lembut.


"Iya pak, terimakasih. Kalau tidak ada yang dikerjakan, saya kembali ke ruangan saya saja.


"Saya menyuruh apa tadi sama kamu?


"Menyuruh? Bapak menyuruh saya duduk di sana. Andini menunjuk ke arah sofa dengan ragu.


"Iya itu kamu paham. Kamu tahu Saya tidak suka bantahan!" ucap Alvin yang membuat Andini merasa tidak nyaman


"Saya kembali ke ruangan saya saja Pak. Nanti kalau ada sesuatu, langsung panggil kembali ." ujar Andini.


"Duduk di sofa, atau saya berikan kamu nilai yang paling buruk?" ucap Alvin kembali yang lebih terdengar seperti ancaman.


Andini hampir membulatkan matanya. Ia merasa tersentak dengan ucapan sang bos.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2