Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 246. KEAHLIAN ERIN


__ADS_3

Setelah rasa kaget Mpok Nining atas keadaan putranya mengurang, mereka berpindah tempat menuju ruang keluarga.


Di sana, kedua orang tua Ricky disuguhkan berbagai jamuan.


"Jadi, Sebenarnya kamu kenapa Ricky, kamu tidak di tubruk sapi? tanya mpok Nining untuk memastikan, setelah mendengar cerita singkat dari putranya.


"Bukan Ma, si Bima ngadi ngadi,"jawab Ricky yang duduk di samping Nisa. Pria itu meletakkan tangannya di atas paha sang istri.


"Lain kali, kamu harus hati-hati. Masa tiba-tiba dikeroyok orang yang tak dikenal,"carocos Mpok Nining kembali.


Ricky dan Nisa tidak memberitahu Mpok Nining kalau orang yang berada di balik kejadian itu adalah mantan kekasih Nisa.


"Iya, Ma. Mungkin, malam itu Ricky lagi apes aja."


"Lain kali, kalau ada orang yang menghentikan di tengah jalan, kamu jangan berhenti, tabrak aja kalau mereka menghalangi jalan kamu."tutur Mpok Nining kembali dengan wajah geram.


"Nah, aku setuju sama yang dikatakan Mama, jangan keluar."Nisa berkomentar.


"Iya, sayang. Kemarin, aku takut mereka pecahin kaca mobil, makanya aku keluar.


"Biarin aja, lebih baik buat kaca mobil yang pecah, daripada kamu yang terluka."Nisa mengusap lembut tangan suaminya.


Hari ini wanita itu tidak berangkat ke kantor, Nisa menunda beberapa pekerjaannya karena tidak mungkin Ia tetap datang ke kantor, di saat mertuanya berkunjung ke rumah.


Mereka terus berbincang di ruang keluarga, berbeda dengan Alim dan Tuan Arnold yang berjalan-jalan ke belakang rumah.


Arnold mengajak dosanya untuk melihat-lihat sapi seserahan dari Ricky. Betapa kagumnya Alim, ketika melihat bangunan kandang sapi yang mewah dan rapi.


"Walah, ini kandang sapi atau taman kanak-kanak Tuan Arnold?"tanya Alim ketika melihat dinding pada kandang sapi itu yang dicat warna-warni lengkap dengan gambar.


"Saya sengaja membuat konsep taman kanak-kanak, Pak Alim. Karena saya menganggap sapi-sapi ini adalah anak kecil. selain itu, sapi-sapi ini juga makhluk bernyawa, mereka perlu mendapat perlakuan yang baik."tutur Tuan Arnold yang membuat Pak Alim semakin merasa kagum pada besannya


Ternyata, Tuan Burhan adalah orang yang berhati lembut, sangat jauh dari parasnya yang terlihat sangar.


"Hebat benar, saya sangat salut."Pak Alim mengancungkan kedua jempolnya ke arah Tuan Arnold.


"Saya juga memberi nama kepada semua sapi-sapi ini."tutur Tuan Arnold saat langkah kaki mereka mulai masuk ke dalam kandang.


"Wah, Coba siapa-siapa aja namanya? Saya pengen kenal. Yang ternyata nama yang diberikan oleh Tuan Arnold kepada sapi-sapinya, masing-masing seperti nama manusia saja.


Pak Alim terdiam ketika mendengar nama-nama yang disebutkan besarnya tadi."Namanya keren-keren sekali, sudah seperti Aprilia tampan dan wanita cantik."Ucap pak Alim sambil terkekeh.


Seketika ketua pria itu tertawa ngakak ketika keduanya membandingkan sapi-sapi itu dengan wanita cantik dan pria tampan


"Nah, ini saya juga mereka rumput impor dari Eropa,"Tuan Arnold menunjukkan arah tumpukan rumput hijau yang berada tak jauh dari mereka.


"Buset, saya juga belum pernah makan-makan dari Eropa, ini sapi rumput aja dari Eropa, kalah sayang saya ini." Pak Alim tercengang ketika mendengar penuturan besarnya.


Namun, Tak lama kemudian Tuan Arnold kembali tertawa.

__ADS_1


"Apa kalau makan rumput dari Eropa itu, nanti pas melahirkan sapinya jadi bule gitu?"tanya Pak Alim penasaran.


"Kalau bapaknya bule, biasanya anaknya juga ikut bule,"balas Tuan Arnold sambil terkekeh.


"Eleh, bukannya Tuan Arnold juga bule? celutuk Pak Alim.


Namun, hal itu malah membuat Tuan Arnold tertawa terpingkal-pingkal.


****


"Gush sini!"Panggil Robert setelah mereka selesai beres-beres.


Malam ini, Cafe tutup jam 08.00 malam. Robert sengaja tidak membuka cafenya sampai jam 10.00 malam, karena dia kasihan kepada sang istri yang sudah terlihat lelah.


Walaupun Mariska tidak terlalu banyak bekerja, tetapi robek tidak akan membiarkan istrinya tidur terlalu malam, di saat kandungan istrinya sudah membesar dan hampir menginjak 9 bulan.


Bima dan Maya yang mendengar panggilan dari sang Bos sekaligus sahabat mereka, segera mendekat.


"Apa Bos?"tanya Bima setelah berdiri di hadapan Robert dan Mariska.


"Mantap banget panggilannya."Robert menghancurkan jempolnya ke arah Bima


"Yoi, mau ngasih bonus iya, Bos? tebak Bima.


"Tajam aja hidung kamu, udah kecium aja."


"Aku tuh punya insting tinggi,"timpal Bima dengan angkuh.


"Wih, mantap ini. Bisa beliin Ehem untuk istri aku."canda Bima seraya menerima amplop itu dari tangan Robert.


"Ehem apaan? tanya Mariska penasaran.


"Mau tau aja urusan laki-laki, sudah lebih baik kamu pulang sama suami kamu."ucap Bima sambil berlalu dari sana.


"Sudah, beliin sana! isinya kamu ombak terus, tempatnya kagak kamu beliin," timpal Robert.


"Kalian bahas apaan sih?"tanya sama Riska yang sudah dari tadi berdiri dan bingung di samping Robert


"Eh, enggak sayang. kita hanya bahas tempat susu formula." elak Robert.


"Benar, formula dari wanita," timpal Bima kembali.


"Dih, kalian berdua pasti bahas yang nggak-nggak."sinis Mariska.


Sementara Bima dan Robert malah tertawa.


Setelah itu, Bima langsung pulang, iya tidak mau beli apapun untuk sang istri, karena Bima lebih memilih untuk memberikan uangnya secara langsung, biar Erin saja yang membeli apa yang dia butuhkan.


Bima segera menyimpan motornya di garasi, pria itu berjalan ke arah pintu rumah dan mengetuk pintu beberapa kali.

__ADS_1


Tumben Erin tidak menyambut kedatangannya, biasanya wanita itu akan langsung muncul di balik pintu saat mendengar deru motornya berhenti.


Namun, kali ini entah ke mana wanita itu, sehingga tidak menyambut kedatangan suaminya.


Apa mungkin Erin sudah tidur sehingga tidak mendengar pintu diketuk?


Bima mendorong pintu rumah yang tak dikunci, dia merasa heran kenapa Eren tidak mengunci rumah jika sudah tidur.


Bima masuk ke dalam rumah itu dan akan langsung menuju kamarnya, tetapi ia mendengar suara yang cukup berisik dari dapur. Akhirnya Bima menuntun langkahnya menuju tempat itu.


Kening Bima mengerut ketika melihat seorang wanita yang mengenakan celemek sedang sibuk di dapur.


Erin sedang mengaduk sebuah adonan dengan mixer yang berbunyi cukup berisik.


"Kamu lagi ngapain?"tanya Bima Seraya mendekat ke arah istrinya, saya ketika Eren terkejut ketika mendengar suara Bima.


Karena saya dari tadi dia tidak menyadari kedatangan suaminya.


"Sudah pulang, Sayang? kok nggak ketuk pintu dulu?"Erin balik bertanya.


"Aku ketuk pintu, tapi mungkin nggak kedengaran karena kamu lagi nyalain mixer."


"Oh, gitu. ya udah, kalau kamu mau mandi, mandi aja dulu. Aku bentar lagi selesai kok."Erin mematikan mixer yang sudah dari tadi bekerja, mengaduk adonan yang ia buat.


"Kamu lagi bikin apa sih? kok Tumben jam segini ada di dapur."Bima mendekat ke arah Erin dan melihat apa yang sedang dilakukan istrinya.


Beberapa bungkus tepung dan bahan-bahan lainnya, serta cangkang beberapa butir telur tergeletak di atas meja.


"Aku lagi bikin kue."jawab Erin sambil membersihkan sisa-sisa adonan pada mixer.


"Kue? Tumben? lagi kesambet apaan? tanya Bima dengan heran.


Seketika Erin menatap ke arah suaminya dengan bibir mengerucut.


"Kesambet apaan? kamu tuh, mentang-mentang Aku jarang masak sampai bilang kayak gitu."kesal Erin.


"Maaf, cuman bercanda kok. Lagian nggak biasanya banget jam segini ada di dapur, masak kue lagi."Bima mendekat dan berdiri di samping sang istri.


"Sebenarnya, Dari dulu aku tuh senang buat kue-kue kayak gini. Dulu kan Mama rajin buat kue, aku memang nggak bisa masak makanan sehari-hari, Tapi kalau buat kue aku jagonya."tutur Erin dengan bangga.


"Masa? kok aku baru tahu."lagi lagi Bima menatap istrinya dengan heran.


"Kan sebelumnya aku belum pernah buat Aku mau coba-coba buat kue, siapa tahu nanti bisa buka toko kue, usaha sendiri lebih nikmat dibandingkan mengharapkan warisan hotel dan restoran Papa.


Walaupun Papa mewariskan restoran dan hotel itu kepada Erin, Erin juga harus bisa mengelolanya nanti. Makanya aku bersyukur kamu bekerja di cafe Robert dulu, agar kita sama-sama belajar dapat mengelola hotel dan restoran Papa yang diwariskan kepada Erin. Takut nanti kita tidak becus mengurus hotel dan restoran."tutur Erin kepada sang suami.


Bima manggut-manggut. Ternyata istrinya benar-benar, tidak ingin hanya mengharapkan warisan dari Papanya. Sekalipun itu mencukupi untuk kehidupan mereka kelak.


bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya baru emak yang berjudul" Divorce on the wedding day."Morata mengharapkan dukungan kalian semua. Terima kasih.


__ADS_2