Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 92. KELELAHAN


__ADS_3

Malam itu, keduanya melakukan penyatuan dengan sempurna.


Mengakui setiap rasa dan mengungkapkannya dengan sentuhan manja.


Malam kian larut. Kedua insan itu telah kembali bersemayam di balik selimut tebal, larut ke alam mimpi bersama indahnya kenyataan.


Hingga Sang fajar kembali menyapa, memancarkan sinarnya untuk kembali memberikan kehangatan.


Andini dan Dimas sudah bersiap. Pagi ini mereka akan check out dari Hotel.


Karena mereka hanya menginap satu malam saja.


Namun, hari ini keduanya izin cuti dari kampus.


Selain mereka masih merasa lelah, Andini juga akan berkunjung ke rumah kedua orang tuanya untuk membereskan barang-barang sisa resepsi yang dibawa ke rumah.


"Kamu baik-baik saja?"tanya Dimas ketika keduanya telah berada di dalam mobil yang sama.


Pria itu melirik ke arah istrinya yang terlihat lesu sambil menyandarkan kepalanya pada jok mobil.


"Aku cuma sedikit lelah Mas. Akibat gempuran semalam."Andini menatap ke arah suaminya.


"Maaf, ya. Mas tidak tahu kalau efek jamu yang diberikan Mama, bisa semanjur itu."Dimas menggenggam jemari istrinya dan memberikan kecupan singkat.


"Ya sudah. Kamu tiduran saja dulu, nanti Mas bangunkan Kalau sudah sampai rumah mama."


Andini hanya mengangguk dengan lesu, setelah itu ia mulai memejamkan mata, semalaman keduanya tidur cukup larut, sehingga saat ini mata Andini terasa berat.


Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah tiba di halaman sebuah rumah bercat warna putih dengan halaman yang lumayan luas dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran di sana.


Dimas memarkirkan mobilnya dan melihat ke arah sang istri yang masih memejamkan mata dengan nafas teratur.


Rasanya ia tidak tega jika harus membangunkan Andini di tengah mimpinya yang entah bagaimana.


Namun, belum juga Dimas membangunkannya, kedua kelopak mata itu sudah terbuka.


"Mas, kita sudah sampai? Andini membenarkan posisi duduknya.


"Iya sayang, mau jalan sendiri atau digendong?"tawar Dimas yang mengangkat alisnya sebelah.


"Jalan sendiri aja Mas. Kalau digendong, bisa jadi bahan olok-olokan orang satu rumah aku."Andini membuka pintu mobil dan turun dengan perlahan.

__ADS_1


Ia berusaha merapatkan kakinya ketika berjalan, agar tidak terlihat mengangkang.


Walaupun sesuatu di bawah sana masih terasa sakit dan ngilu.


Dimas memperhatikan cara jalan istrinya, ada rasa tidak tega ketika melihat cara berjalan wanita yang semalam telah memuaskannya.


Dimas mendekat dan menggandeng tangan istri untuk masuk ke dalam rumah.


Andini hanya tersenyum getir ketika merasakan perlakuan lembut dari pria yang ia cap sebagai manusia kulkas.


Dari balik pintu muncul dua orang paruh baya yang berjalan mendekat dengan mata berbinar dan senyum mengembang.


Nyonya Laras dan Tuan Miko menyambut kedatangan Putri dan menantu mereka dengan hangat.


Andini dan Dimas langsung mencium punggung tangan orang tuanya.


"Ayo masuk! Kalian pasti kelelahan," ajak Nyonya Laras yang membuat Dimas dan Andini langsung saling melempar pandangan.


Nyonya Laras yang menyadari ekspresi anak dan menantunya hanya terkekeh.


"Maksud Mama, kalian kelelahan karena sudah melakukan perjalanan dari hotel ke sini,"timpal Nyonya Laras melengkapi ucapannya.


"Masa cuma naik mobil doang badan terasa remuk. Memangnya jalan yang kalian lewati seperti apa?"tanya Nyonya Laras ketika mereka berjalan ke arah ruang tamu.


"Kita berlayar mengarungi samudra hingga tiba di sebuah pelabuhan."Andini menggerakkan kedua belah alisnya.


"Ngaco kamu! Nyonya Laras mengusap wajah putrinya dengan kasar.


"Ya sudah. Kalian duduk aja dulu di sini, biar Mama buatkan teh untuk papa dan Dimas,"


"Nggak usah Ma, biarkan aku saja! Andini melepaskan gandengannya dan berjalan ke dapur diikuti sang ibu.


"Tumben mau bikin kopi tanpa diminta."sindir Nyonya Laras ketika keduanya telah berada di dapur.


"Andini kan mau jadi istri yang baik Ma, mohon doa dan dukungannya. lagian nanti bisa saja kalau mama yang membuat minuman untuk Dimas, entah apa aja yang Nanti Mama masukkan ke dalam minuman Mas Dimas. yang bisa membuat tubuh Andini menjadi remuk."Gadis itu mulai mengambil gelas dan sendok.kata-katanya udah kayak orang mau lomba aja."


"Maksud kamu apa?


"Tidak apa-apa Ma, hanya saja Andini ingin berlomba-lomba dalam kebaikan."


"Masya Allah. Kamu sudah membuat Mama bangga."Nyonya Laras terkekeh.

__ADS_1


"Mama ledekin aku, ya?"Andini menuju ke arah ibunya.


"Enggak. Mama cuma bahagia aja akhirnya anak mama mau berubah juga,"ucap nyonya Laras sambil memperhatikan tubuh Sang Putri.


"Memangnya berubah menjadi power rangers? Oh iya ma. Mama ngasih jamu apa emang ke Mas Dimas? tanya Andini. mumpung ia sedang berdua dengan sang ibu, Andini ingin menanyakan perihal jamu yang diberikan Nyonya Laras kepada suaminya.


"Cuma jangan pegal,"jawab Nyonya Laras santai tentunya berbohong.


"Jamu pegal kok efek on semalaman,"wanita itu mulai menuangkan air panas pada bubuk teh yang ia masukkan ke dalam gelas.


"Itu mah bonus,"bisik Nyonya Laras sambil terkekeh. Lalu, wanita paruh baya itu pergi terlebih dahulu membawa cemilan untuk menemani suami dan menantunya ngeteh.


"Mama ih..."Andini menatap kesal ke arah Nyonya Laras.


Setelah itu, ia membawa teh tadi dengan hati-hati dan berjalan karena suaminya yang sedang duduk di ruang tamu bersama Tuan Miko.


Tak lupa Andini membuatkan teh untuk sang ayah juga.


"Ini tehnya Mas, hati-hati masih panas."Andini menaruh segelas teh itu di hadapan Dimas.


"Terimakasih."Dimas tersenyum, lalu menarik tangan sang istri agar duduk di sampingnya.


"Alhamdulillah. Papa bahagia banget melihat kalian seperti ini. Papa minta agar kalian tidak menunda kehamilan,'ucap Tuan Miko dengan binar bahagia yang terpancar nyata pada wajahnya yang mulai mengkerut.


Andini menunduk ketika mendengar ucapan sang ayah, ia meremas jemarinya sendiri.


Entah kenapa wajah wanita itu malah terlihat tegang.


"Iya Pa. Kami tidak ada rencana menunda kehamilan. Kuliah Andini juga sebentar lagi selesai, bahkan jika saat ini Andini langsung hamil, Mungkin pas wisuda Nanti belum melahirkan,"jelas Dimas yang sudah merancang harapan sedetail mungkin. Bahkan pria itu sudah memikirkan perkiraan istrinya hamil sekarang sampai nanti melahirkan.


"Syukurlah kalau tidak ditunda. Mama sangat tidak menyarankan untuk kalian menunda kehamilan. Karena apa? saat ini Andini masih dalam usia produktif dan sangat bagus untuk hamil. Jika ditunda dulu, biasanya akan lama untuk bisa hamil,"jelas Nyonya Laras yang membuat menantunya mengangguk, membenarkan Apa yang diucapkan sang mertua.


Sementara Andini tidak mengangkat wajah sedikitpun.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.

__ADS_1


__ADS_2