
Setelah beberapa saat, sepasang suami istri itu telah siap dan mereka Langsung meluncur ke tempat tujuan.
"Berhenti di depan, ada toko peralatan bayi, Aku mau beli di sana aja!"Nisa menunjukkan arah sebuah toko di depan mereka.
"Oke, Tuan putri."Ricky segera membelokkan mobilnya ke arah toko tersebut
"Kamu mau ikut atau nunggu di sini saja?"tanya Nisa Sebelum turun dari dalam mobil.
"Aku nunggu di sini saja, sekalian mau hubungi si Robert dulu. Suruh nyiapin sesajen buat menyambut kedatangan kita,"bales pria itu Seraya mengambil ponselnya dari saku celana.
"Idih, emangnya dedemit apa? pakai nyiapin sesajen segala,"sangkal Nisa Seraya keluar dari mobil.
Wanita itu masuk ke dalam toko untuk membeli beberapa peralatan bayi. Sementara Ricky menghubungi Robert Kalau hari ini mereka akan berkunjung ke sana.
Setelah mendapatkan barang yang ia beli, bisa kembali ke dalam mobil, setelah itu pergi langsung menjalankan roda empatnya dan meluncur lagi menuju rumah sahabatnya.
"Kamu beli apa aja?"tanyanya Seraya menoleh ke arah sang istri.
"Aku beli beberapa baju, celana, jaket terus sama alat makan juga,"jelas bisa dengan mata yang melihat ke arah beberapa perbedaan yang ia taruh di kursi belakang.
"Alat makan? Memangnya bayinya sudah bisa makannya?"Ricky melirik sekilas kera sang istri, lalu kembali fokus mengemudi.
"Ya belum, sampai 6 bulan baru bisa dikasih makan, sebelum itu cukup ASI sama susu formula saja. Aku sengaja beli alat makan, karena nantinya bakal pakai-pakai juga,"jelas nih Sayang diangguki oleh Ricky.
"Pintar juga kamu, sudah pantas punya anak,"gurau Riki meskipun tak yakin bisa benar-benar ingin segera mempunyai anak.
Tetapi, kejadian kemarin membuatnya sadar, Kalau iya juga tidak bisa terlalu egois.
Istrinya terlalu banyak menanggung pekerjaan, setidaknya ia akan belajar lebih lagi mengenai perusahaan, sehingga saat istrinya juga baru nanti, iya tetap bisa menjaga perusahaan dengan baik.
"Iya, udah cocok banget ya! mungkin di sini udah ada yang tumbuh."bisa mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Apaan yang tumbuh? biji ketumbar? gurau Ricky kembali.
"Iya, ketumbar kamu."setelah itu keduanya tertawa bersama. Mereka sudah sepakat untuk tetap bersantai dalam menjalani hubungan.
Mobil mewah itu menuju ke sebuah rumah yang terlihat baru selesai direnovasi.
Rumah yang dulunya terlihat usang karena memiliki usia yang bermain, kini terlihat bagus kembali.
Robert telah merenovasi rumahnya dan juga mengganti warna cat, sehingga rumah yang memiliki ukuran tidak terlalu luas itu terlihat berbeda.
Ricky dan Nisa turun dari mobil dan berjalan bersama menuju pintu rumah yang tidak tertutup rapat itu.
"Assalamualaikum,"ucap Ricky setelah berada di depan pintu rumah bercat putih tersebut.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Wah ada tamu kehormatan sudah datang. Silakan masuk Pak Ricky, Ibu Nisa,"sambut Robert Seraya menyelami kedua orang itu.
"Ya,ellah formal banget kamu. udah kayak menyambut kedatangan presiden."celetuk Ricky.
"Ini kan kamu kehormatan. jarang-jarang loh rumah aku kedatangan tamu. Makanya stok kue tetap utuh."Timpal Robert
"Mana nih, sesajen buat kita?"canda Ricky.
"Ada di dalam, Tenang saja udah aku siapin bekakak Ayah putih."
"Ayam putih apaan?"tanya bisa yang tidak memahami percakapan dua orang itu.
"Ayam negeri "jawab Robert sambil terkekeh.
"Berarti, kalau yang warnanya gak putih, bukan ayam negeri dong?"Timpal Nisa kembali.
"Belum, mereka masih swasta,"balas robek seenaknya.
"Idih, dikira sekolah apa? bisa tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo masuk. Maaf, rumahnya berantakan. Asisten rumah tangganya pulang kampung. Sudah 10 tahun tidak balik lagi."Celetuk Robert saat mereka masuk ke dalam rumah itu.
"Bukan belum, tapi nggak bakal balik lagi itu mah. Kamu mentang-mentang punya anak, jadi semakin ngabrut!"Ricky menoyor kepala sahabatnya.
"Iya dong, dan aku sangat bangga. makanya punya anak, jangan dibuang terus, ntar di akhirat dipertanggungjawabkan lho. Azab pembuang ******."
"Eh, ada tamu kehormatan. Sini masuk, jangan sungkan-sungkan! nggak perlu gugup juga, santai aja. Kita masih makan nasi kok bukan makan manusia atau batu."carocos Mariska yang datang sereal menggendong bayi yang sudah terlihat rapi karena baru selesai mandi dan didandani.
"Ini suami istri gesrek semua!"Timpal Ricky.
"Hahaha... kayak nggak merasa saja kamu. Eh, Maaf Mbak Nisa, kita biasa nyablek begini soalnya. lupa deh kalau aku harus jaga image dan bersikap anggun."Mariska mengibaskan ujung daster yang dikenakannya.
"Hehehe... santai aja, Aku juga suka bercanda kok,"balas Nisa dengan senyum ramah.
"Oh iya. Aku sampai lupa karena keasikan ngobrol. silakan duduk! nanti aku buatkan minuman."Mariska mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di atas sofa sederhana yang ada di ruang tamu.
"Ini ada sedikit oleh-oleh dari kami buat dedek bayi."Nisa menyerahkan beberapa paper bag ke arah Mariska.
"Wah, Terima kasih loh, Mbak Nisa udah repot-repot begini. Pa, tolong pegangin dong!"titah Mariska kepada Robert.
"Anjir, manggilnya sudah Papa aja nih,"Ricky memecahkan tawanya.
"Ih begitu aja ketawa, aku sudah ganti gelar."timpal Robert Seraya mengambil paper bag itu dari tangan Nisa.
"Hahaha... kamu pada nggak ingat apa masa-masa di kampus. Nggak nyangka, kalian sudah jadi Mama Papa aja. Padahal perasaan baru kemarin kamu saling melempar sepatu,"Ricky masih tertawa.
__ADS_1
"Namanya juga hidup, perlu perubahan. Ya, walaupun aku nggak nyangka sih bakal berjodoh sama dia."Robert melirik ke arah Mariska yang berdiri di sampingnya.
"Sudah, jangan pada nostalgia sekarang, Nanti aja pas reunian kita. mending sekarang kalian duduk. Pa, aku nitip Roberto dulu ya, mau buat Mariska menyodorkan bayi di pangkuannya ke arah Robert.
"Wih, namanya Roberto, mirip banget sama nama kamu Robert."
"Namanya juga generasi penerus,"balas robek.
"Emmm ... Mariska, Robert, aku boleh gendong dedeknya nggak? gemes banget deh,"ucap Nisa sebelum tangan Robert mengambil alih bayi itu dari tangan istrinya.
"Boleh, kalau mau gendong nggak apa-apa. Roberto juga sudah mandi kok, jadi nggak bau ompol."Mariska mendekat dan menyerahkan bayinya ke pangkuan desa dengan hati-hati.
"Dedeknya lucu banget."Nisa memperhatikan wajah mungil bayi itu.
Ricky tersenyum saat melihat istrinya menggendong seorang bayi, mungkin saja setelah ini Nisa punya keinginan untuk memiliki bayi.
***
"Sayang, Mas pamit dulu ya."ucap Dimas berpamitan kepada sang istri.
"Kok cepat banget, Mas?
"Ada meeting pagi ini dengan orangnya Pak Sean, lokasinya tidak jauh dari kantor kok."jawab Dimas sambil menghampiri ketiga buah hati mereka.
"Hallo, pangeran dan Tuan Putri bapak yang tampan dan cantik, Papa pergi kerja dulu ya. jangan merepotkan Mama."ucap Dimas sambil memberikan kecupan kepada ketiga buah hatinya Dasa, Danes, dan Dania.
Tampak pertumbuhan ketiga buah hati Dimas dan Andini sudah berkembang sebagaimana mestinya. Karena ASI milik Andini sangat subur.
Setelah memberikan kecupan kepada ketiga buah hatinya, Dimas kembali menghampiri sang istri. Terlihat Andini menghantarkan sang suami sampai ke depan pintu utama.
"Hati-hati ya, Mas!"ucapkan dini saat Dimas akan masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju perusahaan miliknya.
"Iya, kamu juga baik-baik di rumah ya! kalau mau sesuatu bilang aja, nanti setelah pulang dari kantor Aku bawakan,"tutur Dimas yang membuat bibir Andini mengembangkan senyuman.
Betapa beruntungnya Andini memiliki suami sebaik Dimas.
Walaupun Dimas terkesan dingin dan cuek, tetapi sikap Dimas begitu lembut terhadap istrinya.
"Oke!"Andini mengangkat jemarinya yang berbentuk huruf O. Dimas mengajak rambut istrinya sebentar, merasa gemas dengan tingkah Andini.
Setelah itu, Dimas kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil mewahnya menuju perusahaan.
Andini masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat. Andini kembali menghampiri ketiga buah hatinya. Dia melihat ketika buah hatinya dengan anteng tertidur pulas.
"Mbak sus, kalau anak-anak sudah tidur. Mbak sus boleh istirahat, Nanti kalau saya butuh bantuan saya panggil."ujar Andini kepada babysitter yang menjaga ketiga buah hatinya. Karena dia tahu mereka sangatlah lelah, dan butuh istirahat juga.
__ADS_1
BERSAMBUNG....