Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 241. TINGKAH ANEH RIAN


__ADS_3

Sementara di rumah utama keluarga Pratama, saat ini keluarga besar sedang makan malam bersama.Termasuk Andini dan Dimas yang menginap di rumah orang tuanya.


"Kamu makan ini ya!"Dimas menambahkan tiga sendok sayur ke dalam piring makan istrinya.


Andini hanya terdiam sambil membuang nafas kasar.


Sebenarnya, Andini kurang menyukai sayuran, tetapi ia tak bisa menolak ketika melihat tatapan tegas dari suaminya.


"sayur sopnya juga, ya!"Dimas mendekatkan sebuah mangkok yang berisi sayur sop ke arah istrinya.


Lagi lagi Andini hanya membuang nafas kasar. sepertinya Dimas sangat menjaga pola makan sang istri.


"Mas, masa semuanya sayur? minta juga yang lain dong!"Andini menunjukkan rak piring yang.


"Kok tumben Andini harus memakan banyak sayuran seperti ini? ada apa? apa terjadi sesuatu kepada Andini?


"Andini nggak kenapa-kenapa kan? Kenapa ada makanan yang harus dihindari segala? Mama juga waktu hamil nggak gitu banget."tanya Nyonya Laras kembali dengan tatapan penuh selidik.


"Andini tidak kenapa-napa ma. Hanya saja dia membutuhkan asupan gizi yang mencukupi. karena Andini kan sekarang sedang hamil, jadi tidak bisa sembarangan makan apa-apa. dokter menganjurkan agar Andini memakan sayuran banyak. Agar asupan gizi Andini dan bayi yang ada di dalam kandungan Andini mencukupi."tutur Dimas


"Oh, begitu. Mama tidak terlalu paham soal kesehatan. Karena kamu seorang dosen, jadi mama percaya. "ucap Nyonya Laras.


"Ya sudah, Andini. Kamu turutin anjuran dokter dan suami kamu. Sama seperti yang dikatakan oleh anak Dimas agar asupan gizi kamu dan anak kamu yang ada di dalam kandungan tercukupi. supaya nanti setelah kelahiran, air susunya langsung subur." tutur Nyonya Laras kembali mengingatkan Andini.


"Iya,Ma. selain itu juga, selain itu juga, Saya sedang membiasakan Andini untuk melakukan pola hidup sehat, dimulai dari makanan."jelas Dimas kembali. Yang membuat kedua mertuanya mengembangkan senyuman.


Sementara Andini terdiam dengan rasa bersalah karena telah membohongi orang tuanya.


"Tuh dengerin, kamu juga harus banyak makan sayur, biar dedeknya sehat dan susunya semakin subur."ucap Herlan Seraya menyodorkan semangkok sayur sop ke hadapan istrinya.


"Apa, Bang? susunya semakin subur?"Ryan meralat ucapannya.


"Iya, kata Mama tadi kan gitu."jawab Herlan tanpa dosa.


"Heh, Siapa bilang? Mama nggak bilang gitu. Mama cuman bilang, banyak makan sayur, biar air susunya subur setelah melahirkan nanti."sangkal Nyonya Laras.


"Nah, iya itu. Sama saja, cuma tadi kata, airnya ketinggalan."balas Herlan kembali.

__ADS_1


"Dasar aja kamu, otak mesum. sudah besar masih doyan susu."Celetuk Nyonya Laras secara frontal.


"Astaga, mama! kalau ngomong nggak lihat dulu, nggak nyadar apa Mama bicara di depan menantu sendiri."tegur Tuan Miko Pratama.


"Iya maaf. papa kayak nggak tahu aja mulut Mama kalau sudah ngomong kayak gimana."balas Nyonya Laras dengan nada sedikit sewot.


"Makanya, kalau punya mulut tuh banyakin dzikir, bukan ngomong yang nggak jelas."simple Tuan Miko Pratama kembali yang membuat sang istri langsung menatap sinis ke arahnya.


"Iya, Pak haji."sindir Nyonya Laras.


"Nah, gitu dong Bu haji."balas Tuan Miko Pratama kembali, yang seketika langsung disambut gelak tawa dari anak dan menantunya.


Setelah makan malam selesai, Andini langsung mengajak Dimas masuk ke dalam kamar.


"Tumben sekali jam segini sudah ngajak ngamar, biasanya kamu suka ngobrol-ngobrol dulu sama Mama dan Papa."tutur Dimas ketika keduanya telah berada di dalam kamar.


"Nggak apa-apa Mas, Andini mau rebahan saja."


"Jangan langsung tidur, baru juga selesai makan, kamu bersandar aja dulu?"titah Dimas yang membuat Andi ini tak jadi merebahkan tubuhnya.


"Kamu sakit? perutnya sakit lagi?"Dimas menyentuh perut istrinya yang membuncit.


"Enggak, Mas. Aku hanya ingin rebahan saja setelah satu harian nonton bareng bersama Rian di ruang keluarga."sahut Andini.


****


Sementara itu di rumah yang sama, tetapi berbeda kamar. Rian sudah menunggu suaminya di tempat tidur, wanita yang mengenakan daster itu duduk sambil mengangkat kakinya sebelah, seolah wanita seksi yang sedang berpose, padahal perutnya sudah membuncit.


Herlan mendekat dan duduk di samping istrinya, pria itu masih Menatap layar ponsel, jarinya menarik dengan lincah di atas layar benda canggih tersebut.


"Bang!"Panggil Rian dengan nada lembut dan sedikit mendesah.


Herlan yang tak mendengar panggilan istrinya dengan jelas, masih Menatap layar ponsel dan tak menoleh sedikitpun kerasang istri yang masih bergaya sok seksi.


"Bang Herlan, ah..."panggilnya kembali dengan nada suara yang semakin dibuat-buat. Herlan menoleh ke arah istrinya dengan dahi mengerut, iya heran kata teman dengar nada bicara Rian.


"Kenapa?

__ADS_1


"Abang ah..."


"Apaan?"Herlan masih menatap istrinya dengan heran.


"Lihat aku bang Ah...h"Ryan semakin mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan membuat daster yang dipakainya menyikap sampai ke bagian paha.


"Ini aku lagi lihatin kamu. Kenapa sih?"Herlan masih mengerutkan keningnya.


"Aku seksi kan, bang? tanya Rian Soraya mengibaskan rambutnya.


"Seksi dari mana? perut buncit gitu dibilang seksi. Udah, jangan ngadi-ngadi cepat tidur!"Herlan menurut selimut dan menutupkan selimut tadi pada istrinya.


"Bang Herlan ih! mentang-mentang aku lagi hamil besar, perut buncit, sampai digituin. nggak nyadar apa, aku kayak gini juga ikan lele kamu."gerutu Rian dengan bibir mengerucut.


"Ikan lele apaan? perasaan aku nggak punya tambak ikan lele."Herlan mengerutkan.


"Ikan lele, yang membuat Riana kenyang, Awas ntar aku makan dan langsung!"ancam Rian dengan sorot mata yang tertuju ke area bawah suaminya.


Seketika herland mengikuti sorot mata istrinya, pria itu langsung menutup akses berharganya dengan kedua telapak tangan.


"Jahat banget, kalau nggak ada ini, nanti kamu kesepian nggak punya mainan yang membuat kamu betah semalaman."


"Salah sendiri, dari tadi sibuk main ponsel terus. lagi ngapain sih?! Lagi chating sama si Larissa?"sergah Rian dengan kesal.


"Jangan suudzon, orang lagi balas chat sih Niko."


"Oh gitu, jadi kamu lebih peduli sama si Niko daripada sama aku? kamu lebih perhatian sama suamiku daripada sama aku? Fine, kamu nikahi aja si Niko!"Rian merebahkan tubuh dengan kesal.


Wanita itu tidur sambil membelakangi suaminya. Herlan menggelengkan kepala, istrinya sedang kumat. pria itu segera meletakkan ponsel ke atas nakas.


Herlan ikut merebahkan tubuhnya dan mendekat ke arah Rian.


"Ya udah, maaf. Aku bukan mau cuekin kamu, tetapi tadi lagi menunggu si Niko nanya soal kerjaan." Herlan merapatkan tubuhnya pada sang istri dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


Herlan mengusap perut istrinya yang membuncit dengan lembut. Rian masih terdiam, wanita itu memejamkan mata dan pura-pura tidur.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2