Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 239. MENAHAN SELERA


__ADS_3

Tiba-tiba lampu di ruangan itu menyala, membuat Andini dan Rian semakin ketakutan.


"Astaga.... Setan!"terlihat kedua wanita itu kembali sambil berpelukan dan saling menelusupkan wajah.


"Setan setan, setan apaan?"suara seseorang membuat Andini dan Rian melepaskan pelukannya dan menoleh dengan perlahan ke arah belakang.


"Mama!" pekik kedua wanita itu kembali dengan mata membulat.


"Kenapa kalian teriak-teriak? mana setannya? tanya Nyonya Laras dengan suara kencang.


"Ini!"Andini dan Rian menunjuk ke arah ibunya secara bersamaan.


"Heh, enak aja. Mama dikatain setan!"wanita paruh baya itu berkaca pinggang dengan wajah sangarnya.


"Ini beneran Mama, kan? Mama Laras Pratama?"tanya Andi nih memastikan.


"Iya, ini Laras binti Miko Pratama!" cerocos Nyonya Laras dengan wajah kesal.


"Terus yang tadi nangis mama dong?"tanya Andini kembali dengan mata yang menatap ke arah wajah sang ibu.


Terlihat sudut mata wanita berbahaya itu masih basah.


"Iya, Mama tadi baru datang, tapi langsung melihat drama yang menyedihkan itu. Mama nggak kuat pengen nangis. Hiks... hiks... hiks.'Nyonya Laras kembali meneteskan air mata.


"Astaga!! ssstttt... Mama ada-ada saja. kirain setan. Lagian, kenapa Mama malah nonton di belakang? Kenapa nggak duduk di sana aja?


"Ya, Mama terlalu menghayati drama itu, sampai Mama lupa untuk melangkah."Nyonya Laras menyeka air matanya.


"Hahaha.... Mama ada-ada saja deh. sudah sini duduk!"Mama lanjutin lagi nontonnya."Rian menara tangan mertuanya sampai duduk di sofa.


"Mama lanjutin ya nontonnya. Rian mau ke dapur dulu."ucap Ryan Seraya bangkit dari duduknya.


"Mau ngapain Rian?"tanya Andini sebelum kakak iparnya itu melangkah.


"Mau ambil air minum, sekalian mau buat Mie. Kamu mau juga nggak? biar aku buatkan sekalian."tawar Rian.


Andini terdiam, nonton sambil makan mie kayaknya memang enak, terlebih lagi perutnya lumayan keroncongan. Makan malam juga sepertinya masih lama.


Andini membuka mulutnya, akan memesan semangkok mie pada Rian. Tapi dia ingat pesan sang suami mie instan sangat tidak baik buat kesehatannya yang lagi hamil.


"Enggak deh, aku lagi nggak mau makan mie."tolaknya dengan berat hati.


"Ya udah. Biar aku bikinin punya mama aja."Rian berjalan ke arah dapur.


Sementara Andini mengusap perutnya sambil kembali menatap ke arah layar televisi, iya melirik ke arah Nyonya laris yang sedang serius menonton.

__ADS_1


Tak lama kemudian, tercium aroma mie yang memenuhi Indra penciumannya.


Rian datang membawa dua mangkok Medan meletakkannya di atas meja yang berada di depan Andini dan nyonya Laras.


Andini melirik sekilas ke arah mie buatan Rian yang terlihat menggoda.


Perutnya semakin keroncongan ketika mencium aroma mie yang sangat mengunggah selera.


"Ini buat Mama dan ini buat Rian. karena Andini nggak mau kita aja yang makan ma."tutorial cara yang menyodorkan semangkok mie ke hadapan mertuanya.


"Terima kasih Rian. ini Andini benar nggak mau makan mie? Tumben? Nyonya Laras menatap heran ke arah putrinya.


"Lagi nggak mood."balasnya sedikit ketus. sebenarnya ia sedang menahan perut yang seolah meronta ketika mencium aroma mie itu.


"Ya, udah. setelah selesai nonton Nanti mama masak. Kalau semuanya udah pulang, baru kita makan."ucap Nyonya Laras sambil menyendok mie dan memasukkan ke dalam mulutnya.


Andini hanya menelan ludahnya sendiri ketika melihat Rian dan ibunya menikmati mie itu


Biasanya, dia memakan apa saja yang ia mau. terlebih lagi Andien sangat jarang makan sayur-sayuran, ia lebih menyukai makanan instan.


Tetapi, saat ini ia harus menghilangkan kebiasaan buruknya demi kesehatan dirinya dan juga janin yang ada di dalam kandungannya.


"Assalamualaikum."ucap seorang pria yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


Aroma mie tercium saat Dimas tiba di dalam, pria itu semakin mempercepat langkahnya, dia khawatir istrinya sedang mengkonsumsi makanan instan tersebut.


"Nggak, Mas."Andini segera memotong ucapan suaminya. Wanita itu bangkit dan mendekat ke arah Dimas.


"Syukurlah."Dimas membuang nafas lega ketika ia melihat istrinya tidak sedang makan apa-apa.


"Kok kamu pulang nggak kedengaran Mas?"Andini mencium punggung tangan suaminya.


"Masa? Padahal tadi aku mengucap salam loh."


"Mungkin nggak kedengaran karena suara televisi ini."


"Dimas, mau makan mie juga? Biar Mama buatkan. Andini tadi nggak mau makan mie, katanya lagi nggak mood."cerocos Laras.


"Terima kasih Ma, tapi Dimas juga sedang tidak mau makan mie."tolak pria itu sambil menatap wajah istrinya yang memelas.


Dia tahu istrinya pasti sedang menahan godaan makanan itu.


"Aku bawa ini buat kamu dan buat semua juga, Siapa yang mau aja boleh makan."Dimas menunjukkan sebuah plastik yang dibawanya.


"Apa ini mas? tanya Andini dengan sorot mata yang tertuju ke arah plastik itu.

__ADS_1


"Salad. Kamu makannya!"


"Tau aja kamu Mas, Kalau aku lagi lapar."Andini segera mengambil plastik itu dari tangan suaminya. Dimas ersenyum merekah ketika melihat istrinya mau menerima makanan yang ia bawa.


***


Sementara itu, Robert sudah merasa tidak nyaman berada di rumah mertuanya.


Semenjak mamanya Mariska sakit, Mariska mengajak Robert untuk menginap di rumah orang tuanya.


Karena sang ayah masih berada di luar kota, Mariska Tak tega jika harus meninggalkan ibunya sendirian di rumah.


Walaupun keadaan mamanya Mariska sudah membaik, setelah menginap satu malam di rumah sakit, tetap saja Mariska tidak bisa meninggalkan ibunya sendirian.


"Sayang, kapan kita pulang? tanya Robert saat keduanya naik ke lantai atas, di mana kamarnya dan kamar kedua orang tuanya terletak.


"Nantilah Robert. minimal Setelah Papa pulang."jawab Mariska dengan kaki yang terus melangkah menaiki anak tangga.


"Kapan Papa pulangnya? masih lama nggak? tanya Robert Tak sabar.


"Memangnya kenapa sih? kalau pulang kita tetap aja pulang ke rumah orang tua kamu, bukan pulang ke rumah kita."


"Iya, tapi kan kita udah lumayan lama nginep di sini."ucap Robert.


"Baru aja dua hari. coba kamu hitung berapa lama aku nginap di rumah orang tua kamu?'Mariska menghentikan langkahnya saat mereka telah berada di lantai atas.


"Kita bukan nginap di rumah orang tua aku, tapi kan kita memang tinggal di sana."jelas Robert.


"Sama saja. Itu rumah orang tua kamu, ini juga rumah orang tua aku, kita sama-sama nginap. Kecuali kalau kita punya rumah sendiri baru pulang ke rumah kita, bukan nginap."carocos Mariska dengan kesal.


"Tapi kan kita tinggal di rumah orang tua aku, gimana sih?


"Itu kan rumah orang tua kamu. Sudahlah aku capek!"intinya selain di Rumah Kita sendiri itu namanya nginap."tegas Mariska.


"Mariska!!! kamu di mana? teriak mamanya Mariska dari dalam kamar


"Iya, Ma!"Mariska segera melangkah ke arah kamar ibunya, meninggalkan Robert yang mengajak rambutnya sendiri.


Tak lama kemudian, pria itu mengikuti langkah istrinya.


Ia tak mau dibilang menantu durhaka, yang tak peduli kepada mertuanya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2