Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 47. ANDINI DALAM BAHAYA


__ADS_3

Andini keluar dari kelas dengan langkah lebar. kampus terlihat sepi. Karena jam pelajaran sudah berakhir, dan para mahasiswa sudah meninggalkan kampus.


Bahkan di parkiran hanya ada beberapa mobil dosen yang terparkir.


Andini mengangkat wajah ke lantai atas, tempat yang menjadi ruang meeting para dosen.


Suasana masih hening, semua dosen belum keluar.


Gadis itu membuang nafas kasar. "Kenapa Dimas menyuruhnya menunggu Kalau meeting nya lama?


Sepertinya Bagas sudah pergi. Andini melihat pemuda itu berjalan ke arah parkiran dengan langkah cepat.


Andini tak sengaja mengarahkan pandangannya ke sebuah kelas, yang sudah kosong. Ia seperti melihat tiga orang perempuan yang masuk ke ruangan itu, dan menutup pintunya dengan rapat.


"Siapa sih? gumamnya sering memperhatikan ruangan tersebut.


"Ah paling anak mahasiswa yang lagi ngerjain tugas.Pak Dimas masih lama kayaknya."Andini kembali mengarahkan pandangan ke lantai atas.


Daripada bosan mending aku ke taman belakang aja. Sekalian lihat rumput yang bergoyang dan pemandangan hijau yang ada disana. Andini berjalan dengan cepat ke arah taman belakang kampus.


Sebenarnya tempat itu tidak layak disebut taman, karena banyak tumbuh rumput liar.


Tetapi karena suasana di belakang kampus itu sangat sejuk dan menenangkan hati, makanya para mahasiswa menyebutnya taman. Tempat mereka nongkrong dan mengerjakan tugas bersama.


Di seberang taman itu adalah jalan. Tapi bukan Jalan raya, ataupun jalan tol. Melainkan jalan tidak terlalu lebar yang mengarah ke sebuah pabrik kecil, yang ada di lokasi itu.


Andini merentangkan tangannya menikmati sepoinya angin yang terasa membelah tubuhnya.


Biasanya jika jam kampus telah selesai, ia dan Bagas akan duduk bersama di bangku taman itu. Sambil memakan cemilan.


Bagas tahu, kalau Andini sangat suka ngemil. oleh karena itu, jika mereka sedang bersama, ia tidak akan lupa membawa cemilan untuk sahabatnya.


"Please deh, kok aku malah mikirin si bagas sih?"Andini menepuk kepalanya sendiri.


Namun, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap, sebuah kain penutup matanya dengan sempurna dan seperti diikat di kepalanya.


Andini akan membukakan itu, tetapi tangan kekar langsung memegang kedua lengannya.


"Lepasin! Siapa kamu?" Andini berusaha melepaskan kedua tangan kekar itu.


Namun, sepertinya tenaga orang itu sangat kuat.


Tangan kekar tersebut, perlahan menyeret tubuhnya, sampai membuat kedua kakinya terpaksa melangkah.


"lepaskan!" siapa kamu? Andini memberontak berusaha melepaskan diri dari dekapan orang itu.


Andini yakin yang menyeretnya itu bukanlah seorang wanita. Karena ia dapat merasakan tangan yang kekar dan juga tenaga yang sangat kuat.


Pria itu terus menyeret tubuh Andini menuju sebuah bangunan kosong yang awalnya dijadikan gudang.

__ADS_1


"Tolong lepaskan aku! lepasin aku!" teriak Andini dengan sekencang mungkin.


"Diam." ucap pria itu sedikit berbisik.


Andini tidak dapat mengenali suara itu karena pria tadi berbicara dengan suara berbisik.


"lepasin aku!" teriak Andini kembali dengan suara yang mulai terdengar serak.


Pria itu terus menyeret tubuhnya Andini, menghentikan langkah kakinya. Agar pria itu juga menghentikan langkahnya.


Namun, tangan kekar itu, malah semakin kuat menarik tubuh yang perlahan terjatuh di atas tanah.


"Tolong lepaskan aku! Tolooooong....


mata Andini masih ditutup dengan rapat tangannya ditarik dengan kuat.


Tanah kering dan juga bebatuan terasa Membentur tubuhnya. Andini benar-benar merasa.


"Siapa pria itu, dan kenapa menutup Andini?


"Toloooong.....! teriakan Andini kembali dengan suara yang serak.


Kakinya terasa sakit, ketika orang itu terus menarik tangannya Bahkan ia merasa sepatunya copot karena bersangkut ranting di pinggir bangunan tua itu.


"Aw! teriak Andini ketika kulit kakinya terasa sobek.


entah benda apa yang mengenai kulit telapak kakinya, tapi itu terasa sangat perih.


"Sakit!" teriaknya dengan suara bergetar. buliran bening menetes dari kedua mata yang tertutup rapat


"Sakit, tolong kaki aku sakit banget."rintih Andini. Tetapi tidak menghentikan pria yang sedang menarik tubuh dengan kasar.


Andini merasa tubuhnya kini penuh luka. karena mungkin baju dan celana yang dikenakan robek, akibat bergesekan pada tanah dan batu batu kerikil.


Tak lama ia merasa seperti berada di lantai. tubuhnya tak lagi merasa menabrak bebatuan


Bruk!


Suara pintu yang ditutup dengan keras membuat Andini semakin ketakutan.


Kain yang menutupi kedua matanya ditarik dengan kasar, dan terlepas dari kepalanya.


Gadis itu langsung membulatkan matanya, ketika melihat pria berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.


"Siapa kamu ?" sergah Andini yang melihat seorang pria bertubuh kekar berdiri di hadapannya.


Pria itu memakai tregos yang menutupi wajahnya, sehingga Andini tak dapat mengenali wajah pria itu.


Andini akan bangkit, tetapi kakinya yang sakit, membuatnya tak mampu berdiri

__ADS_1


"Aw! kaki aku, astaga! Mama....sakit!" teriaknya ketika melihat kakinya berdarah bahkan lantai putih yang kotor itu, terdapat bercak darah dari kakinya.


Pria itu mendekat. Sorot matanya terlihat menyeramkan.


Andini menatap dengan jeli. Pria di hadapannya, berusaha mengenali wajah siapa yang ada di balik tergos hitam itu.


"Apakah itu Bagas?


Tapi baju yang digunakan pria itu beda dengan baju yang tadi dipakai Bagas."


Terlebih lagi, dari postur tubuhnya terlihat berbeda. Pria di hadapannya kali ini terlihat lebih dewasa dan berperawakan sangat kekar.


langkah pria itu semakin mendekat. Andini beringsut mundur dengan wajah ketakutan.


"siapa kamu?" Jangan mendekat!" bentak Andini dengan suara seraknya.


Namun, pria tidak menghentikan gerakan pria itu sedikitpun. Tangan pria itu menyentuh dagu Andini dan mendekat wajahnya


"Mari kita habiskan waktu bersama."bisiknya dengan suara sensual yang ketika langsung membuat bulu kuduk Andini berdiri.


"Jangan macam-macam, lepasin aku!"


"kau tak akan kulepaskan, bibirmu manis sekali." bisiknya kembali lalu menyentuh bibir Andini dengan ibu jarinya.


"Kenapa pria itu melakukan hal yang sama dengan Bagas saat di kelas?"


Pria tersebut semakin mendekat wajahnya, bibirnya terlihat bersiap untuk menyambar bibir Andini.


Andini meludahi wajah pria itu. Sampai membuatnya kembali menjauhkan wajahnya.


"Dasar cewek sialan!"


Plak!!


sebuah tamparan keras mendarat di wajah cantik Andini. Kulit putih wanita itu, langsung memerah.


"Sialan!" siapa kamu berani menampar aku?" Andini memegang pipinya yang terasa memanas. Tangannya mengepal sempurna. dadanya terlihat naik turun.


Jika kakinya tidak terluka, pasti ia sudah bangkit dan melawan pria itu, walaupun sebenarnya ia merasa sangat takut.


"Aku akan menghabisi mu." ucap pria itu seraya mengundurkan tangannya ke arah Andini.


Sretttt


Seketika baju yang dikenakan Andini robek, saat pria tadi menariknya dengan kasar.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2