Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 153. 30 TUSUK SATE


__ADS_3

"Mas, stop!"teriak Andini yang membuat Dimas langsung menginjak rem mobil yang dikendarai. Mereka berhenti mendadak.


"Astagfirullah. Kamu kenapa teriak-teriak sih? sergah Dimas sambil mengusap dada.


Kakinya refleks menginjak rem saat mendengar teriakan sang istri.


"Hehehe.... maaf Mas. Aku ngomongnya kekencangan ya?


"Bukan ngomong itu mah, Tapi teriak."


" Maaf, Mas kaget ya? Andini mengusap dada suaminya yang terlihat naik turun dengan cepat. Detak jantung pria itu berdebar kencang.


"Aku kaget, takutnya tadi di depan ada apa-apa gitu yang mau ketabrak,"jawab Dimas yang diiringi Helan nafas kasar.


"Kamu kok kaget gitu? padahal kan kamu tadi fokus banget nyetir. Masa nggak lihat kalau jalanan kosong, Pasti lagi ngelamun ya?"


"Enggak!


"Masa? Kok bisa kagak sampai lihat mau nabrak sesuatu. "Andini menatap wajah suaminya dengan intens."


"Mas tidak melamun. Ini berhenti mau ngapain? kalau nggak ada apa-apa ya, sudah kita jalan lagi. Nanti, Jalanan macet loh gara-gara mobil kita parkir sembarangan.


"Emmm .. Sebenarnya aku mau itu mas!"Andini menunjukkan ke arah tukang sate yang berjualan di pinggir jalan.


"Sate? tanya Dimas setelah mengikuti arah telunjuk istrinya.


"Iya aku lapar. Kayaknya kalau makan sate enak gitu."mata Andini berbinar dengan bibir yang melet-melet.


"Ya sudah kita beli, tapi Mas pinggirkan dulu mobilnya."Dimas kembali menjalankan roda empat itu dan berhenti tepat di depan gerobak tukang sate.


"Mas aku turun dulu ya!"


"Nggak usah, biar Mas aja."Dimas menahan tangan Andini yang akan membuka pintu


"Aku ikut!"


"Ya sudah, kita turun bareng.


keduanya keluar secara bersamaan dan menghampiri tukang sate itu.


"Bang satenya tiga puluh tusuk." ucap Andini setelah berdiri di depan gerobak sate.


" Tiga puluh, banyak sekali? protes Dimas dengan mata yang menatap aneh ke arah sang istri.


"Biarin mas, kayaknya sate ini enak banget. dari baunya aja bikin aku pengen makan sama si abangnya juga."balas Andini yang membuat tukang sate itu membulatkan mata dan menatap kearah Andini sambil bergidik ngeri.


"Tenang bang, istri saya ini manusia kok." ucap Dimas ketika menyadari tatapan Abang tukang sate itu.


"Kenapa Mas? Abang ini mengira aku hantu? tanya Andini dengan wajah sewot.


"Kan tadi kamu ngomong mau makan sama abangnya juga ya mungkin Dia mengira kamu ini zombie kali." Dimas terkekeh


"Mana ada zombie cantik begini." ucap Andini sambil mengibaskan rambutnya.


"Maaf Mbak, saya nggak ngomong kayak gitu. sangkal tukang sate itu sambil terus mengipas sate yang sedang dibakarnya.


"Iya, Di maafin. Saya kan cantik, baik, dan tidak sombong. Sudah buruan tiga puluh tusuk satenya plus bumbu yang melimpah, dan jangan lupa kasih sambal cabe yang banyak juga." cerocos Andini yang membuat Dimas langsung menatap tajam ke arahnya.


"Jangan makan yang pedas, nanti asam lambung Kamu naik." sangkal Dimas yang membuat bibir istrinya langsung mencebik kesal .


"Nggak apa-apa Mas, cuman sedikit doang.


"Sedikit apaan, tadi ngomongnya banyak. Bang, jangan dikasih sambal cabe. Bilang saja sambal cabe nya habis." ujar Dimas kepada tukang sate yang masih sibuk mengipasi Berapa tusuk sate di atas bara api.


"Mas apaan sih, Andini menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Aku cuman mau kamu sehat.


"Aku sehat kok, kata siapa aku sakit?

__ADS_1


"Mas, Mbak ini satenya." ucap tukang sate itu yang melerai perdebatan suami istri di hadapannya


"Wah terima kasih banyak bang. Andini langsung mengambil plastik yang berisi tiga puluh tusuk sate itu dari tangan penjual.


"Mas, bayar ya." Titahnya sambil nyengir ke arah Dimas.


Setelah itu, ia langsung masuk ke dalam mobil sambil membawa sate yang sudah mengunggah seleranya.


"Tiga puluh tusuk sate itu mau habis semua sama kamu?" tanya Dimas setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping istrinya.


"Iya dong Mas, kalau Mas mau juga boleh.


"Astaga! terus bakso itu mau dikemanakan?" Dimas menuju ke arah plastik sudah terlantar di jok belakang.


"Aku sudah Nggak selera sama baksonya lagi.


"Kok gitu? kasihan loh baksonya


"Kamu makan aja Mas. Aku udah nggak mau.


****


Ting!


Suara ponsel menandakan ada pesan masuk membuat jiwa kepo Rian meronta-ronta.


wanita itu langsung menoleh ke arah ponsel suaminya yang tergeletak di atas nafas.


Larissa tulisan dari notifikasi pesan itu membuat motor yang langsung membulat.


Wanita itu mengarahkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, Herlan belum keluar.


Tangannya bergerak dengan perlahan Meraih ponsel Herlan, yang membuat jiwa keponya semakin meronta. Pasalnya selama menikah, ia belum pernah memegang ponsel suaminya sedikitpun.


"Rianti!"Panggil Herlan yang membuat jantung wanita itu hampir berhenti berdetak.


"Eh, sudah selesai mandinya Bang?" tanya Rian sambil memasukkan ponsel suaminya ke dalam selimut


"Iya, kamu kenapa? istrinya dengan dahi mengerut.


"Nggak apa-apa kok. Itu bajunya sudah aku siapin Bang. Mariska menunjuk ke arah pakaian suaminya yang sudah ia siapkan di atas meja.


"Terima kasih." ucap Herlan yang langsung memakai baju beserta celana di hadapan istrinya


Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah nakas dan mencari sesuatu.


Wajah Rian terlihat tegang ia menggigit bibirnya sendiri ketika langkah Herlan semakin mendekat


"Ponsel aku mana ya?" perasaan tadi di sini tanya Herlan sambil berjongkok dan mencari ponselnya di bawah nafas


"Emmm... ponselnya ya, Bang? Boleh aku pinjam ponsel kamu?" tanya Rian yang membuat Herlan kembali menegakkan tubuhnya.


"Pinjaman ponsel ku? buat apa? tanya Herlan kembali dengan wajah heran, tidak biasanya Rian berkata seperti itu.


"Nggak apa-apa, aku cuman pengen pegang ponsel kamu saja.


"Cuman pegang doang?"Herlan mengangkat alisnya sebelah


"Pegang, sambil buka gitu?


"Ponsel aku ada di kamu, ya. Herlan duduk di depan istrinya.


"Iya, aku boleh pinjam? Mak Rian mengeluarkan ponsel suaminya dari dalam selimut.


"Kok ponsel aku diumpetin?


"Bukan diumpetin, aku cuman mau minjam.


"Buat apa sih?" tanya Herlan kembali sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Ya cuman mau minjam aja, nggak boleh? nih ponsel aku kalau abang mau minjam nggak apa-apa buka aja. Nih aku buka PIN-nya Rian menyerahkan ponselnya ke hadapan Herlan.


"Ini ceritanya kita tukaran ponsel gitu?


"Iya, tapi cuman sebentar doang.


"Buka PIN ponsel kamu juga dong! Rian menyodorkan ponsel Herlan ke hadapan suaminya.


"Ponsel aku nggak ada apa-apanya loh, nggak ada yang menarik juga."


"Sudah, buka aja tuh." Rian kembali yang membuat Herlan terpaksa membuka PIN pada layar ponselnya.


Namun, setelah itu Ia baru menyadari ada notifikasi pesan pada ponsel miliknya.


Setelah PIN pada layar ponsel Herlan terbuka, Rian langsung menjauhkan kembali benda canggih itu dari hadapan suaminya.


"Tunggu! itu ada pesan dari siapa? tanya Herlan dengan wajah penasaran


"Sudah, abang diam dulu! Rian mendekat ponsel itu pada wajahnya yang membuat Herlan semakin penasaran.


"Ada apa sih! tanya Herlan kembali merapatkan tubuhnya pada sang istri dan berusaha melihat ke arah layar ponsel yang seolah menempel pada wajah Rian.


Rian membuka pesan pada ponsel Herlan membuat tangannya gemetar dan seketika benda canggih itu terjatuh di atas pahanya.


Herlan langsung melihat ke arah ponsel selanjutnya yang menampakan sebuah foto.


Mata pria itu membulat ketika melihat foto dirinya dengan Larissa di sebuah kamar.


Herlan mengalihkan pandangannya ke arah Rian yang mulai merah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Siapa yang mengirim foto ini? tanya Herlan dengan wajah panik dan langsung mengambil ponselnya dari atas paha Rian.


"Kamu lihat saja sendiri!" ucap Rian dengan suara bergetar


"CK... Larissa Kenapa bisa mengirim foto seperti ini sih? gumam Herlan dengan wajah kaca.


"Karena foto itu ada sama dia, dan Larissa masih cinta sama kamu Bang." cerocos Rian sambil mengusap ingusnya yang mulai meleleh.


"Rianti, ini foto udah lama. Dan foto ini juga tidak seperti apa yang kamu pikirkan." jelas Herlan sambil menunjuk karena foto pada layar ponsel tersebut.


"Di foto itu terlihat dirinya sedang berbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi sampai batas lehernya.


Sementara Larissa duduk di tepi ranjang dengan menggunakan gaun berwarna merah maroon dengan belahan dada rendah.


"Memang apa yang aku pikirkan? tanya Rian dengan air mata yang terus mengalir.


"Kamu pasti mikir kalau aku dan Larissa sudah melakukan hal yang macam-macam kan?


"Kamu sendiri yang berpikir seperti itu, berarti kenyataannya memang seperti itu."


"Tidak semua yang kamu katakan itu salah coba kamu lihat foto ini di mana.


Rian menoleh ke arah layar ponsel yang kini sedang dipegang.


Wanita itu mengusap air matanya karena ia tak bisa melihat dengan jelas pandangannya kabur terlarang air mata yang menggenang.


Seperti di kamar ini, ukuran ranjangnya sama warna temboknya juga sama Rianti memperhatikan foto itu dan menyamakan kamar di dalam foto tersebut dengan kamar yang kini sedang ditempatinya.


"Iya, beneran. Kamar ini Jadi kalian Nina ninu di sini. Huaaa...."tangis Rian Malah semakin memecah.


Herlan segera membekap mulut istrinya yang terdengar baik sebuah toa.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2