Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 165. CEMBURU


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Rian terus meneteskan air matanya. Dia khawatir terjadi sesuatu kepada Papanya mengingat Setelah orang tuanya bangkrut kesehatan Papanya semakin memburuk.


"Sudah, kamu jangan nangis terus. Nanti kita langsung bawa Papa ke rumah sakit." Herlan mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Iya Bang, semoga saja Papa nggak kenapa-kenapa." balas Rian sambil meremas jemarinya sendiri. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu kepada Papanya.


Herlan melajukan mobil miliknya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak tega melihat istrinya Rian terus menangis dan membuatnya menjadi tak karuan.


Mobil mereka berhenti tepat di halaman sebuah rumah sederhana dengan bangunan yang terlihat sudah tua. Rumah itu yang terakhir mereka huni Setelah orang tua Rian bangkrut dan terlilit hutang.


Setelah mobil itu berhenti, Rian langsung keluar dan berlari masuk ke dalam rumah. Tidak memperdulikan Herlan yang berusaha mengejar langkahnya.


"Papaaa...." teriak Rian sambil berjalan ke arah kamar orang tuanya yang terbuka lebar.


"Papa...." seketika Rian Langsung mengatupkan kembali bibirnya ketika melihat seorang dokter sedang memeriksa keadaan Papanya.


Tatapan semua orang tertuju ke arah pintu di mana Rian sedang berdiri dengan wajah sembab.


"Rian," Panggil sang Papa yang sedang terbaring di atas ranjang.


Wanita itu kembali melanjutkan langkah dan meraih tangan kedua orang tuanya.


"Bagaimana keadaan Pala saya dokter?" tanya Rian kepada dokter laki-laki itu yang baru selesai memeriksa kondisi Papanya.


"Rian, papa cuman kecapean dan butuh istirahat full." jelas dokter itu kepada Rian.


Seketika Rian mengerutkan keningnya,ketika mendengar suara serta melihat wajah dokter yang terbilang masih muda itu dari jarak dekat. usia Rianti dengan sang dokter hanya dua tahun saja.


Rian menatap lebih jeli wajah pria yang ada di hadapannya.


"Ehemmmm..... kamu pasti lupa ya sama ak?" tebak pria itu sambil tersenyum tipis.


"Rian , ini Nak Antonio anaknya Ibu Alena." jelas Mamanya Rian yang membuat mata wanita itu langsung membulat


"Apa? Antonio? ini beneran Kak Antonio?" tanya Rian tak percaya.


"Hemmmm... ...sudah kuduga Kamu tidak akan ingat sama aku. Padahal aku terus ingat sama kamu." balas Antonio sambil tersenyum.


"Sorry Kak Antonio, Aku pangling Kakak udah gede aja sekarang, ganteng lagi." Puji Rian dengan mata yang menatap pria yang bernama Antonio itu dari atas sampai bawah.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang baru masuk ke dalam kamar itu yang mendengar ucapannya barusan saat memuji Antonio.


Herlan yang mendengar itu langsung masuk dan mencium punggung tangan kedua mertuanya.

__ADS_1


"Kamu juga udah besar, aku cuman nggak nyangka ternyata orang tua kamu pindah ke sini lagi." balas Antonio kembali.


Sementara Herlan mematung di samping istrinya dengan dahi mengerut. Ia penasaran siapa sosok lelaki yang berbicara akrab dengan istrinya.


"Iya, orang tua aku pindah ke sini. Aku nggak tahu ternyata kamu sudah pulang dari California." ucap Rjan dengan senyum mengembang.


"Belum terlalu lama sih, masih baru aku di sini. Tadi aku sedang ada di rumah saat Mama, kamu memanggil aku ke rumah."


"Dokter Gimana keadaan mertua sa....


"Papa cuman kecapean dan butuh istirahat." Rian langsung memotong ucapannya.


"Beneran? tanya Herlan kembali


"CK... nggak percaya banget sih, iya kan Antonio apa yang aku bilang tadi benar?


"Iya, benar. Papa kamu cuman butuh istirahat full, aku juga sudah menulis resep obat Nanti bisa dibeli di apotek jelas Antonio.


"Terima kasih ya Antonio, aku nggak nyangka banget bisa bertemu kamu lagi setelah beberapa tahun kamu menghilang."


"Bukan aku yang menghilang, tapi kamu. Rumah aku tetap ada di sini. Kamu yang pindah duluan." timpal Antonio.


Herlan menatap dua orang yang sedang berbicara itu dengan wajah heran.


"Dokter ini...


"Dokter Antonio, Bang. Dia teman aku dulu. Kita dekat banget waktu masih tetanggaan. Dia kuliah di California dan sekarang sudah jadi dokter. Hebat kan." jelas Rian dengan bangga.


Herlan hanya mengangguk dengan tatapan tak suka. Dia tak suka cars istrinya memperkenalkan pria itu padanya.


"Rian, pria ini....


"Ini Bang Herlan." Rian memotong ucapan Antonio dan menunjuk ke arah Herlan.


Sementara Herlan menggerutu di dalam hati. kenapa Rian tidak memperkenalkannya sebagai suaminya. Kenapa malah hanya menyebut Abang dan nama saja.


"Oh oke, Ada nomor yang bisa aku hubungi?" aku mau mengontrol dan memeriksa keadaan papa kamu lagi nanti." jelas Antonio yang membuat Rian buru-buru mengambil ponselnya.


"Ada, nomor kamu saja sini. Nanti aku chat kamu." Rian menyodorkan ponselnya ke arah Antonio.


"Oke, nanti aku save juga nomor kamu Antonio." ia mengambil ponsel Rian dan memasukkan nomor ponselnya di sana.


Sementara Herlan melihat itu dengan tangan mengepal. Ia ingin mencegahnya, tetapi tidak enak dengan kedua orang tua Rian.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit dulu ya, Rian. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." ucap Antonio membawa kembali kopernya yang berisikan peralatan medis.


"Terima kasih Antonio, biar aku antar sampai depan." Rian mengajak Antonio keluar dan berjalan bersamaan. Sementara Herlan mengikuti langkahnya dari belakang sambil menahan kekesalan.


Rian melambaikan tangannya mengiringi langkah Antonio yang sudah masuk ke dalam gerbang rumahnya.


"Segitunya banget." ucap Herlan yang berdiri di samping Rian dengan wajah kesal.


Rian langsung menoleh ke arah suaminya yang sedang mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa Bang? Aku senang banget bisa bertemu lagi sama Antonio." ucap Rian sambil senyum-senyum sendiri.


"Senang banget ya," Herlan menatap sinis ke arah istrinya.


"Iya senang, pakai banget lagi."


Pakai tukar nomor ponsel segala. Mana Sini ponsel kamu!" Herlan menyodorkan tangannya ke arah Krian.


"Buat apa bang?"


"Mau menghapus nomor laki-laki tadi." jawab Herlan dengan Ketus.


"Idih, ngapain dihapus?


"Abang ngak mau ada nomor laki-laki lain di ponsel kamu itu.


"Kenapa sih?


"Cemburu?


Ah sini ponsel kamu.


"Ngak mau," Rian langsung menyimpan ponselnya. Membuat Herlan mencebik kesal menatap istrinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"


BAGI SIAPA YANG AKAN MAMPIR KE KARYA BARU EMAK, AKAN ADA GIVEAWAY TGL 6 JULI BAGI BAGI PULSA BAGI PENDUKUNG EMAK YANG PALING AKTIF

__ADS_1


__ADS_2