
Masa magang tinggal sebentar lagi, Andini menginginkan nilai terbaik untuk hasil akhir masa magangnya.
Walaupun setelah itu ia tidak akan melanjutkan pekerjaan di kantor. Namun, hal tersebut akan menjadi sebuah kebanggaan baginya. Oleh karena itu ia selalu berusaha profesional dalam bekerja.
Walaupun beberapa hari ini sikap Alvin sedikit aneh padanya.
Pria itu lebih posesif dan meminta Andini untuk selalu stay di ruangannya, meskipun sedang tidak ada pekerjaan.
Hal itu pula membuat Andini merasa tidak nyaman, dan ingin segera keluar dari kantor tempatnya magang.
Apalagi saat ini Andini sedang hamil membuat ia lebih nyaman di rumah dan bersantai. Rasanya jika pikirannya pusing perutnya terasa keram.
Sebagaimana sore ini setelah jam kantor istrinya selesai, Dimas sudah standby di depan kantor tempat Andini bekerja.
Pria itu tidak ingin membiarkan istrinya lama menunggu, jika ia belum tiba.
Tok...
Tok...
Tok...
Andini mengetuk kaca mobil suaminya yang masih tertutup.
Dimas menoleh ke arah samping di mana istrinya sedang berdiri. Pria itu langsung menutup ponselnya dan tersenyum merekah.
Andini melambaikan tangan lalu menggambar bentuk hati pada kaca mobil di depannya. Yang membuat Dimas semakin mengembangkan senyuman.
Pria itu segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan sang istri masuk.
"Sudah lama Mas?" tanya Andini Seraya duduk di samping suaminya dan mencium tangan yang langsung dibalas cuman kening dari sang suami.
"Apanya? Dimas balik bertanya
"Mencintaiku." balas Andini sambil terkekeh.
"Baru kemarin." timpal Dimas yang mulai menjalankan kembali mobilnya.
"idih Terus yang kemarin-kemarin lagi, apa?
"Yang mana?
"Mas, ih otak kamu dehidrasi kayaknya.,x Andini menyentuh kepala suaminya dengan ujung jari telunjuknya.
"Iya, tapi bukan butuh air minum."
__ADS_1
"Terus butuh apa dong ?" Andini menatap keras suaminya.
"Butuh yang manis-manis.
"Ya sudah, kita beli jus es krim atau apa gitu.
"Lollipop." usul Dimas.
"Kamu mau Lollipop, Mas?" Andini hampiri membulatkan matanya.
"Iya, Lollipop ini." Dimas menyentuh bibir istrinya.
"Idih, dosen mesum!
"Mesum juga sama istrinya doang." Dimas mengusap kepala Andini dengan lembut.
"Loh, Mas kok kita arahnya ke sini?" tanya Andini saat mobil mereka melaju ke arah yang berbeda.
"Kita mau ke butik, terus habis itu ke salon." jelas Dimas.
"Kamu mau perawatan, Mas ke salon?
"Bukan aku, tapi istriku biar tambah cantik."
"Aduh pipiku merona." Andini memegang kedua pipinya.
kenapa? kamu kan istri aku pemilik Hotel itu." sahut Dimas.
"Aku rasanya nggak pantes aja gitu Mas, pantasnya yang datang sama kamu itu wanita yang tingginya. Kayak model, wajahnya tirus, kulitnya mulus." cerocos Andini yang membuat Dimas langsung menoleh ke arahnya.
"Memangnya kamu gimana?
"Iya aku pendek, pipiku cabi, kulitku juga tidak terlalu mulus." wanita itu berbicara dengan bibir mengerucut.
"Tapi aku suka sama kamu." balas Dimas yang membuat Andini bergerak tak karuan bak terkena aliran listrik.
"Mas, Sejak kapan sih pinter menggombal."kedua pipi Andini terlihat merona.
"Aku kan sudah bilang, itu bukan gombalan tapi ungkapan."
"Ih, so sweet banget. Kalau Rian dengar ini pasti langsung klepek-klepek dia." ucap Andini.
"Rian kan sudah punya suami. Pastilah Kak Herlan juga lebih romantis dari aku."
"Nggak mungkin, aku tahu Kak Herlan orangnya kayak gimana. Paling dia ledekin si Rian terus. Kak Herlan kan hobinya kayak gitu. Sama aku aja terus perang mulut." cerocos Andini.
__ADS_1
"Kalau sama istri beda lagi. Kayak Mas sama Erin, Erin selalu menganggap aku itu Ketus, jutek, galak nyebelin tapi nyatanya.....
"Nyatanya emang gitu kan? Andini memotong ucapan suaminya yang diiringi tawa renyah.
"Berani kamu ya ngatain Mas kayak gitu! Dimas menarik bahwa Andini sampai tubuh keduanya merapat.
Tak lama kemudian pria itu menghentikan mobilnya di sebuah butik yang cukup mewah.
Dimas langsung membukakan pintu untuk sang istri. Dan keduanya berjalan bersama masuk ke dalam butik tersebut.
Andini berdetak kagum ketika mengamati bangunan tersebut.
Walaupun dia tidak terlalu menyukai fashion tapi ia iya terpesona dengan model fashion yang ada di butik itu.
"Halo Dimas, silakan masuk." sapa seorang wanita dengan senyum hangat.
"Halo Sintia, Ini istriku. Tolong pilihkan gaun yang cocok untuknya. Jangan yang terlalu terbuka, usahakan panjangnya sampai mata kaki, lengannya panjang dan dadanya tertutup." cerocos Dimas yang membuat dahi Andini langsung mengerut.
"Nggak sekalian aja pakai kebaya, Mas?" ucap Andini sedikit kesal.
Padahal Ia sudah membayangkan gaun cantik dengan lengan terbuka dan belahan dada rendah.
"Sintia, ada kan jenis gaun yang aku sebutkan tadi?" tanya Dimas kepada wanita yang memiliki rambut panjang itu.
"Tentu saja, mari ikut bersama aku." ajak wanita itu dan berjalan terlebih dahulu.
"Mas, Sintia itu siapa? kok kayak dekat banget sama kamu, jangan bilang kalau dia itu mantan kamu? tanya Andini sedikit berbisik.
"Dia teman SMA aku." jawab Dimas.
"Wah teman kamu jadi orang saksi semua ya Mas. Ada yang jadi dokter, jadi desainer, jadi detektif, jadi pengusaha. Kamu ini sekolah di mana sih Mas?" tanya Andini penasaran.
"Whitney high school ." sahut Dimas
"What? pantesan jadi orang sukses semua itu kan di California Mas."ucap Andini dengan mata membulat.
"Tapi kesuksesan itu tidak bisa diukur di mana kita bersekolah, melainkan sebesar apa usaha kita untuk mencapai kesuksesan itu. Dimas senyum tipis dan merangkul bahu istrinya.
"Iya sih, mas. Tapi pendidikan yang menjadi sumber utama kesuksesan. Aku mau nanti anak kita sekolah di sana juga ya, Mas ." Andini menatap suaminya dengan mata berbinar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"