
"Tersiksa? maksudnya apa, hah?"sergah Rian dengan mata terbuka lebar.
"Tersiksa karena kamu terlalu agresif di ranjang."jawab Herlan sambil terkekeh.
"Bang Herlaaaaaan!!!"Rian melepaskan gandengan tangan Herlan, dan bersiap memberikan serangan kepada suaminya.
Namun, sebelum itu Herlan sudah melarikan diri terlebih dahulu.
"Nah, ini orangnya! ditungguin lama banget!"sergah Nyonya Laras setelah Herlan tiba di hadapannya.
"Ada apa sih, Ma? pagi-pagi sudah teriak-teriak. Memecahkan gendang telinga. bahkan burung-burung yang berada di pohon mangga itu beterbangan, karena terhenyak mendengar suara teriakan Mama.
"Ada apa, ada apa? Noh lihat, guci kesayangan Mama pecah. Pasti itu ulahmu kan."tuduh Nyonya Laras membuat Herlan langsung menata guci yang sudah pecah dan berserakan di lantai.
"Guci itu pecah bukan karena Herlan. Tapi mungkin karena teriakan Mama. Soalnya teriakan Mama sudah mengguncang seisi rumah ini melebihi tujuh oktaf."sangkal Herlan.
Padahal memang Herlan lah yang tak sengaja menjatuhkan guci itu. Saat Herlan hendak turun ke bawah mengambil air minum.
***
Saat Andini hendak melangkah keluar dari ruang Alvin, Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit dan kram. Membuat dirinya meringis kesakitan. Tetapi ia berusaha menahannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore itu artinya jam kerja Andini telah usai Dan masa magangnya juga sudah selesai di kantor itu.
Setelah merasa keadaannya lebih baik, Andini berniat langsung pulang. Karena dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan sang suami.
Sebelumnya Dimas sudah berjanji kepada Andini kalau mereka sore itu akan pulang ke rumah kedua orang tua Andini. Namun, Andini merasa suaminya tidak nyaman jika mereka menginap di rumah orang tuanya.
Selain itu pula, semenjak mempunyai rumah sendiri walaupun sederhana, Andini merasa tak nyaman berada di rumah orang lain, tempat ternyaman baginya adalah rumahnya sendiri.
Saat Andini sudah berada di lobby kantor, Dimas sudah menunggunya di lobby dan memarkirkan mobilnya di parkiran kantor
Dimas melihat raut wajah pucat istrinya. Dimas tidak membiarkan istrinya berjalan kaki. Walaupun saat ini mereka berada di Lobby kantor, pria itu menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil.
"Mas aku tidak apa-apa. Aku bisa jalan sendiri, jangan gendong-gendong kayak gini malu dilihatin orang, kesannya aku tuh kayak orang jompo."cerocos Andini saat Dimas menggendong tubuhnya masuk ke dalam mobil.
"Pokoknya kamu harus bed rest, jangan banyak bergerak."tutur Dimas sambil membuka pintu mobil. lalu mendudukkan Andini di jok samping kemudi.
"Tapi nggak gini juga, Mas. Masa cuman jalan aja aku nggak boleh."
"Ngak boleh! masih ada kaki aku yang bisa berjalan. Lagian lihat tuh wajah kamu sudah pucat."tegas Dimas yang membuat bibir Andini menyunggingkan senyuman dengan perlahan.
"So sweet banget suamiku."Andini mengelus dagu suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
****
Setelah tiba di rumah, Dimas juga menggendong Andini keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Mas, aku tidak apa-apa. Aku bisa jalan sendiri."lagi lagi Andini protes.
"Pokoknya kamu harus istirahat total. Jangan banyak bergerak."tutur Dimas sambil membuka pintu kamar dengan sikunya, lalu mendorongnya dengan kaki agar pintu kamar itu terbuka lebar.
"Tapi nggak gini juga Mas. Mas terus-terusan menggendong Andini."ucap Andini masih dalam mode protes.
Dimas tidak menyahuti.
Setelah tiba di dalam kamar, Dimas langsung merebahkan tubuh istrinya di atas kasur dengan hati-hati.
Pria itu melepas sepatu yang dikenakan sang istri.
Andini menatap ke arah Dimas dengan bibir yang tak pernah berhenti mengembangkan senyuman. Saat ini ia benar-benar diperlakukan seperti ratu.
Semua orang tidak akan menyangka jika Dimas seorang dosen killer dengan perawakan tegap dan tatapan tajam, serta wajah dengan yang jarang tersenyum memiliki perilaku yang sangat lembut terhadap istrinya.
"Mas, bantu ganti pakaian ya! kamu jangan mandi dulu, sepertinya suhu tubuh kamu masih hangat."Dimas akan berjalan ke arah lemari pakaian. namun Andini segera menahan lengannya.
"Kenapa? Apa kamu mau sesuatu?"tanya Dimas sambil menghadap kembali ke arah istrinya.
"Aku mau kamu duduk di sini Mas!"Andini menarik tangan suaminya agar duduk di ranjang.
"Kamu ganti pakaian dulu."
"Nanti aja, kamu duduk dulu di sini!"Andini menarik kedua tangan Dimas sampai membuat pria itu duduk di sampingnya.
"Mas, kok kamu baik banget sama aku? memperlakukan aku seperti ratu. Kamu sangat jauh ekspektasi aku, saat kita pertama kali menikah."tutur Andini dengan Tatapan yang tak beralih dari wajah tampan suaminya.
"Memangnya ekspektasi kamu seperti apa?"Dimas tersenyum tipis.
"Dulu aku pikir Mas itu adalah orang yang kejam, suka marah-marah, suka mukul, suka cekik, suka banting...."
"Mas banting aku, Mas.... "Dimas memotong ucapan istrinya yang membuat Andini seketika terdiam.
Namun, tak lama kemudian wanita itu memecahkan tawanya ketika melihat ekspresi Dimas yang seolah sedang meledek.
"Hahaha... Mas aku lagi serius ini." Andini memukul pelan pipi suaminya.
"Lagian kamu ada-ada aja, Memangnya kamu pikir aku ini psikopat apa."
"Tapi aku serius nanya,Mas kamu kok dulu mau menerima perjodohan itu? mau menikah sama mahasiswi kayak aku, sedangkan kamu kan, seorang dosen pasti banyak dong yang mau sama kamu."
"Kalau aku maunya sama kamu gimana?
"Dulu kan kita kenal singkat banget, lalu langsung menikah. Saat itu juga kita belum punya perasaan apa-apa."
"Itu cuman kamu doang." balas Dimas membuat istrinya sedikit tercengang.
__ADS_1
"Maksud kamu Mas?" tanya Andini dengan wajah heran.
"Apa Kamu pikir Mas mau menikah begitu saja dengan wanita yang tidak Mas cintai?"Dimas menatap intens wajah istrinya.
"Jadi...?
"Jauh sebelum perjodohan kita terjadi, Mas sudah mengenalimu, walaupun kamu belum mengenalku.
"Gimana tuh, ceritanya?"tanya Andini kembali terlihat semakin bingung.
"Waktu itu, Mas dan orang tua kamu sudah saling mengenal, Bahkan Mas sudah kenal orang tua kamu Sejak aku kecil.
"Terus? tanya Andini kembali Tak sabar.
sepertinya, cerita ini sangat menarik untuk ia dengar.
"Jadi, ketika Papa membicarakan perihal perjodohan kepada mas, orang tua kamu selalu mengabari aku tentang apa yang terjadi sama kamu. Termasuk Kamu kuliah di mana. Dan setelah itu Mas ingin mengenal kamu sebelum perjodohan kita terjadi. Makanya Mas mengajar ke kampus di mana kamu berkuliah, Dan saat itu wow sekali..."Dimas menjeda ucapannya dan tertawa kecil.
"Wow Kenapa Mas? Andini menatap wajah suaminya dengan serius.
"Wow.... gadis yang akan menjadi istri Mas sangat barbar sekali. Berpenampilan layaknya seperti laki-laki, bergaul dengan geng motor. bahkan teman kamu perempuan ajak hanya Mariska dan Rian. Padahal Mas pikir kamu adalah gadis kalem dan pendiam.
"Masa? orang aku kalem dan pendiam begini!"Andini menutup hidungnya dengan beberapa helai rambutnya.
Lalu ia mengerucutkan bibirnya yang membuat Dimas tambah gemas.
"Kalam dari mananya? kalam dari Hongkong! orang kamu udah kayak kelinci gitu lompat sana lompat sini!
"Apaan sih? Terus kenapa kamu mau sama aku? Kenapa? Andini mendekatkan wajahnya ke arah Dimas.
"Karena kamu cantik dan menggemaskan." Dimas memeluk tubuh istrinya dan melabuhkan kecupan lembut pada dahi Andini.
"Aku bau asem loh Mas. Aku nggak mandi dari kemarin." Andini mengendus-endus aroma tubuhnya sendiri.
"Jangan dulu mandi, suhu kamu masih hangat." ucap Dimas
Tapi badan aku lengket Mas. Ngak bakalan bisa tidur nyenyak.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS
__ADS_1
.