
"Mas, kamu akan ikut sama aku kan ke dalam? kamu akan tetap menemani aku kan? aku takut Mas,"Andini semakin mengeratkan tautan jemari mereka.
Dimas terdiam dengan air mata yang perlahan menetes, ia tak sanggup membendung tangisnya saat melihat keadaan sang istri saat ini.
"Sayang, Maaf aku tidak bisa ikut. Kamu tidak usah takut ya!"di dalam ada dokter Dirga dan banyak dokter serta perawat lain."Dimas berusaha terlihat tegar, meskipun ia begitu mengkhawatirkan istri dan ketiga anak kembarnya yang ada di rahim istrinya..
"Tapi aku takut Mas,"lirik Andini dengan tangis yang kembali memecah.
"Andini, kita masuk sekarang ya!"ucap dokter Dirga yang akan menjadi dinding pemisah bagi sepasang suami istri itu.
Branker Andini kembali didorong masuk ke ruangan itu. Andini semakin mempererat genggamannya pada jemari Dimas, sementara kaki suaminya tidak melangkah sedikitpun hingga pada akhirnya tahu Tanjung hari itu terpisah dengan perlahan.
keduanya saling menatap dengan mata kabur terhalang buliran bening yang mengenang di pelupuk matanya.
Pintu ruangan itu ditutup dengan perlahan, seolah menjadi benteng besar yang menghalangi sepasang suami istri yang sama-sama menangis di tempat yang berbeda.
Dimas menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas ke atas lantai.
__ADS_1
Pria itu terduduk lesung sambil menyadarkan tubuhnya pada tembok yang menjadi pembatas ruangan itu.
Erin dan Tuan Anggara datang membantu Dimas untuk bangun dan duduk kembali di kursi tunggu.
Sementara itu, dokter langsung memeriksa keadaan Andini lebih lanjut lagi sebelum melakukan operasi.
Wanita yang masih sadar itu diganti pakaiannya.
Seorang dokter menyuntikkan anestesi pada punggung Andini. Wanita itu hanya sedikit meringis, tetapi air matanya mengalir begitu deras.
Bukan karena rasa sakit dari jarum suntik itu Ia membuat air matanya tak berhenti menetes, tapi rasa sakit oleh keadaan membuatnya benar-benar merasakan kesakitan yang sangat luar biasa.
Lampu operasi mudah dinyalakan, menandakan tindakan akan segera dimulai.
Andini sudah tidak berasa merasakan apa-apa lagi, jiwanya seakan entah berada di mana.
Beberapa dokter dan perawat melakukan tugasnya dengan benar.
__ADS_1
Mereka membedah perut wanita yang membuncit itu.
Mereka akan mengambil bayi bayi kembar tiga milik Andini satu persatu.
Beberapa menit dokter sudah bergelut dengan pasiennya, akhirnya mereka mengeluarkan seorang bayi mungil dari dalam perut ibunya.
Disusul lagi dengan baik kedua, lalu bayi ketiga. Ketiga putra-putri Andini dan Dimas, kini sudah dibersihkan oleh dokter setelah suara dengungan tangis ketika putra-putri Dimas menangis saling bersahutan. memenuhi seisi ruangan.
"Alhamdulillah, jujur saya tidak tahu kalau bayi kembar pasien ini bayi kembar tiga." ucap salah satu suster yang ikut membantu dokter untuk melakukan tindakan operasi sesar Andini.
Ketiga bayi itu segera dibersihkan dan diperiksa lebih lanjut oleh dokter anak. kemudian dipindahkan ke ruang baik.
Sementara di luar ruang operasi, tampak Dimas yang mendengar suara tangis bayi saling bersahutan di sana. langsung bangkit dan dia langsung mengucap syukur.
"Pak, Selamat ya, Pak. Putra dan putri anda sudah lahir. "dan operasinya berjalan dengan lancar."ucap salah satu suster datang menghampiri Dimas.
"Bagaimana dengan istri saya suster? tanya Dimas kembali karena dirinya sangat mengkhawatirkan istrinya.
__ADS_1
"Istri anda juga baik-baik saja. sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Tolong dijaga ya pak, Jangan sampai Ibu Andini terlalu banyak pikiran. karena itu dapat berakibat fatal, dalam proses persalinannya.
Bersambung