Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 232. KEPERGOK


__ADS_3

Erin segera bangkit dari duduknya ketika mendengar suara di rumah motor yang berhenti di halaman rumah itu.


Erin yang sedang menonton sebuah drama Korea di ruang televisi, langsung menuju pintu ketika mendengar suara motor sang suami.


Bima mengangkat tangannya akan mengetuk pintu, tetapi pintu itu sudah terbuka sebelum tangannya menyentuh pintu tersebut.


Bibir pria itu mengembangkan senyuman ketika melihat istrinya muncul di balik pintu.


"Tahu aja kamu, kalau aku sudah pulang."ucap Bima sebagai kalimat pertama yang ia keluarkan saat bertemu dengan sang istri.


"Kan motornya kedengaran,"balas Eren berdiri tepat di hadapan Bima.


"Oh, begitu ya. lain kali aku dorong motornya dari depan gerbang deh."


"Ngapain?"wanita itu menakutkan kedua alisnya.


"Biar kamu nggak denger."Bima terkekeh.


"Dih, gitu banget. Sudah buruan masuk; ngapain berdiri di luar terus?"Erin masih mengerutkan rekeningnya dengan bibir yang mengembangkan senyuman.


"Nggak disuruh masuk sama yang punya rumah."


"Apaan sih, alai banget! wanita itu menarik tangan suaminya agar masuk ke dalam rumah.


"Kamu tadi lagi ngapain?"tanya Bima penuh selidik saat mereka masuk ke dalam rumah.


"Lagi nonton."


"Nonton apaan? Bima menatap wajah istrinya.


"Tuh,"Erin menunjuk ke arah televisi yang masih menyala, memutar drama Korea yang sedang dia tonton yang dibayar bawakan oleh artis Korea kesayangannya Huereng.


Namun, tiba-tiba saja drama itu ngomong tersebut adegan berciuman di atas ranjang.


Sontak Bima langsung menutup kedua mata Erin dengan telapak tangannya.


"Apaan sih?"wanita itu segera melepaskan kembali tangan Bima yang menutupi matanya.


"Itu adegan panas, kamu nggak boleh lihat."


"Adegan panas apaan? adegan kebakaran gitu?"


"Bukan kebakaran, tapi..."


"Ciuman?"Erin melihat ke arah televisi yang masih memutar adegan tersebut.


"Iya, kamu ngapain sih nonton film kayak gitu?


"Memangnya kenapa? adegan tadi cuman pemanis aja. Adegan lainnya nggak gitu kok."elak Erin.


"Ellleh, alasan saja. Jangan-jangan kalau aku lagi nggak ada di rumah kamu suka nonton film begituan, ya? tuduh Bima


"Film begituan apa sih?"Aku tuh nggak mesum kayak kamu! Lagian, tumben banget pulang jam segini? biasanya lama pulangnya."Ciracas Erin sambil melihat ke arah jam tangan yang dikenakannya.


"Si Robert sama si Mariska lagi ke rumah sakit, makanya kafe tutup lebih awal."jelas Bima

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mengelola resto dan hotel yang diwariskan apa-apa kepadaku? bukankah itu lebih bagus daripada kamu bekerja kepada orang lain?"tanya Erin sambil menatap sang suami.


"Mengelola sebuah hotel dan restoran yang begitu besar bukanlah mudah. Aku ingin mempelajarinya terlebih dahulu di cafe milik Robert dan Mariska. Aku ingin mengetahui, makanan apa yang paling diminati. Aku tidak ingin gagal nanti mengelola hotel dan restoran yang diwariskan oleh kepada kita." sahut Bima menuturkan.


Erin hanya manggut-manggut. Karena apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya. Dalam mengelola sebuah usaha kalau tidak ahli di bidangnya, maka hasilnya juga kurang memuaskan. Sehingga Erin tidak mempermasalahkan kalau Bima masih tetap bekerja di cafe milik Robert dan Mariska.


"Oh iya, ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit? tanya Erin kembali dengan wajah penasaran.


"Kepo!"Bima menarik ujung hidung mancung istrinya.


"Ikh, Orang nanya serius!"Erin membalas mencabut perut suaminya.


"Mamanya Mariska lagi sakit, sudah jangan nanya lagi! mending sekarang kita praktek."Bima menatap wajah istrinya lekat-lekat.


"Praktek apaan?"Erin membalas tatapan suaminya dengan dahi mengerut.


"Praktek kayak di film tadi."Bima memegang kedua Pipi istrinya dan mulai mendekatkan wajah.


Erin tersenyum dengan pipi merona, ketika Bima semakin mendekatkan wajahnya. Wanita itu sudah bersiap menerima serangan dari suaminya.


Bima semakin mendekatkan wajahnya dengan mata yang menatap sayu, ke arah bibir ranum sang istri yang seolah menjadi sasaran empuk baginya.


Wajah Bima makan mendekat dan sedikit lagi akan menyentuh bibir kemerahan delima milik sang istri.


"Erin, kita ke rumah sakit sekarang!"suara seseorang membuat Bima segera menjauhkan kembali bibirnya yang hampir menempel pada bibir sang istri.


Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Seketika wajah Bima memerah, pria itu Mbak maling yang ketahuan ketika melihat mertuanya berdiri di depan pintu kamar dan menatap ke arah mereka.


Tuan Anggara keluar dari kamar sambil berbicara seperti tadi, pria itu tidak tahu apa yang terjadi di ruangan itu.


Dia tidak tahu kalau menantunya sudah pulang.


Bima mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan rasa malu pada mertuanya.


Dia tidak biasa bermesraan, terlebih lagi bermesraan di depan orang lain.


"Emmmm... sebentar, papa lupa pakai kacamata jadi penglihatan Papa nggak jelas."Tuan Anggara membalikkan badan, lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Padahal Ia melihat apa yang terjadi tadi, hanya saja dia melihat wajah Bima yang terlihat malu, jadi pria itu lebih memilih pura-pura tidak melihat.


Bima membuang nafas lega saat mertuanya mengatakan seperti tadi. Sementara Erin tertawa kecil ketika melihat ekspresi suaminya.


"Ia tahu, Bima bukanlah orang yang romantis dan suka mengumbar kemesraan. Jadi, iya sudah dapat menebak Bagaimana perasaan suaminya tadi.


Tak lama kemudian, Tuan Anggara keluar lagi dengan memakai kacamatanya.


"Erin, Bima, Kakak kalian masuk rumah sakit, kita harus ke sana sekarang!"ajak Tuan Anggara dengan wajah serius.


"Kak Dimas masuk rumah sakit? tanya Erin dengan wajah yang mulai terlihat panik.


"Bukan Kak Dimas, tapi Kak Andini. kita sekarang ke sana, ya! Bima, kalau mau mandi dulu nggak apa-apa Biar Papa tunggu."


"Iya, Pa. sebentar ya!"Bima segera berjalan dengan langkah lebar, menuju kamarnya dan diikuti Erin dari belakang.


"Kamu mau mandi dulu? tanya Erin setelah mereka berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Ngak, Aku mau ganti baju aja."jawab Bima sambil membuka baju kaos yang dikenakannya.


"Kenapa nggak mandi? tanya Erin kembali


"Takut kelamaan. Andini masuk rumah sakit kita harus cepat-cepat ke sana."Bima berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil kaos berwarna biru.


"Kamu kok banget? Apa karena Kak Andini yang masuk rumah sakit?"Erin memasang wajah cemberut.


Seketika Bima membelikan badan ke arah istrinya.


"Iya, Andini Kan istri Kak Dimas. dia juga sama aja keluarga kita."balas Bima Seraya memakai kaos yang diambilnya tadi.


"Oh, bukan karena Kak Andini itu mantan kamu."Erin masih memasang wajah cemberutnya


"CK .. mantan apaan sih? Aku sama Dia cuman teman. Sudah , Jangan berpikir negatif terus kita berangkat sekarang, Papa sudah menunggu."Bima berjalan terlebih dahulu akan keluar dari kamar.


Namun, dia berhenti Setelah tiba di depan pintu kamar ketika dirinya tidak mendengar langkah sang istri.


Pria bertubuh tegap itu membalikkan badan, melihat kerah Erin yang masih berdiri dengan wajah kemasan.


"Ayo! Kenapa masih berdiri di situ?


"Sibuk banget yang lagi khawatir mantannya masuk rumah sakit."balas Eren dengan nada sewot.


"Astaga, masih aja bahas itu. Andini itu cuman masa lalu aku, kamu dan anak-anak kita adalah masa depan aku."Bima mendekat ke arah istrinya.


"Modus!"Erin masih mengerucutkan bibirnya.


"Nggak percaya banget. Ya, udah. biar aku gendong kalau kamu nggak mau jalan."tanpa basa-basi lagi Bima mengangkat tubuh Eren dengan ringan dan membawanya keluar dari kamar.


"Astaga!! ngapain pakai gendong segala sih? protes Erin sambil menggerakkan kedua kakinya meminta diturunkan.


"Loh, kenapa Erin digendong gitu? tanya Tuan Anggara yang ternyata sedang menunggu di depan pintu kamar putrinya.


Seketika langkah Bima terhenti, pria itu menurunkan tubuh istrinya dengan perlahan.


"Katanya Erin pegal, nggak mau jalan. makanya Bima gendong."jelas pria itu yang membuat Erin langsung menatap tajam ke arahnya.


Sementara Tuan Anggara tersenyum merekah. Dia merasa bahagia ketika melihat putrinya diperlakukan dengan baik.


Walaupun pernikahan mereka terjadi karena sebuah tragedi hingga membuatnya marah dan kecewa berat.


Namun, Tuan Anggara tak ingin menaruh kebencian.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang! Bima, Kamu yang bawa mobil ya, Ini kuncinya!"Tuan Anggara menyerahkan kunci mobil yang dipegangnya ke arah Bima.


"Baik Pa."pria itu segera menerima kunci tadi dari tangan mertuanya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2