
"Kamu kenapa nggak Jujur dari awal sama kita, kalau kamu sama Pak Dimas sudah menikah. Jujur aku kecewa sama kamu, Din. padahal Kita ini sahabat dan selalu terbuka, tapi kenapa kamu menutupi hal sebesar ini!"ucap Mariska sambil langsung berlari meninggalkan Andini.
"Ris, kamu nggak mau dengerin penjelasan aku dulu. Ris....,"teriak Andini kembali dengan suara parau dan hampir habis. Namun, Mariska langsung menjalankan motornya dan meninggalkan Andini dengan penuh kehancuran.
Kini giliran Ricky dan Robert yang mendekat, kedua pemuda itu tahu Andi dan tidak ingin didekati kembali oleh Bima.
"Din, jujur kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat kamu Dan kalau Dimas harus menikah dan merahasiakan semuanya."ucap Robert yang berdiri di depan Andini.
"Apa kalian masih mau mendengarkan penjelasan aku? Apa kalian tidak akan meninggalkan aku seperti mereka?"tanya Andini dengan tataku yang tertuju ke arah Mariska dan Rian yang perlahan menghilang dari pandangan
"Kita nggak ada masalah, kamu mau menikah sama Pak Dimas atau kamu mau menikah sama siapapun. kita akan mendengarkan penjelasan kamu," timpal Robert.
"Lebih baik sekarang kamu jelasin sama kita, sama Bima juga, supaya kita bisa jelasin kepada dua keong racun itu supaya mereka nggak marah lagi sama kamu."Ricky menarik tangan Bima agar berdiri di depan Andini.
Lelaki itu menatap penuh kehancuran pada wajah wanita yang baru saja ia anggap pacar.
Betapa hancurnya perasaan Bima saat ini, perasaan yang telah lama dipendamnya dan kini telah diungkapkan.
Namun, sebuah kenyataan menghancurkan semuanya.
"Jadi begini..."Andini menghentikan ucapannya ketika dadanya kembali terasa sesak mengingat kata-kata yang keluar dari mulut suaminya Kalau mereka akan bertemu di pengadilan agama.
"Sudah, nangisnya nanti saja. lebih baik kamu jelasin dulu sebelum hujan turun,"sela Ricky yang membuat semuanya menengadahkan wajah ke arah langit yang mulai mendung tertutup awan hitam. Pertanda kalau hujan akan segera turun.
"Sebenarnya, aku sama Pak Dimas menikah karena dijodohkan oleh orang tua kami. bahkan saat aku masih kecil ke orang tuaku dan orang tua bakti Mas sudah sepakat untuk menjodohkan aku dengan Pak Dimas. makanya kami lebih memilih merahasiakan semua ini."Andini mengelap air matanya dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
"Nah, ini. karena kamu main rahasia-rahasiaan, makanya banyak Hati Yang tersakiti. Termasuk Bima."yang sabar ya Bim, Ricky menepuk dada Bima, iya tahu bagaimana perasaan temannya itu saat ini.
Andini mengangkat kepalanya, menatap ke arah Bima yang terlihat sendu bercampur kacau.
Ada rasa menyesal karena selama ini ia seolah memberi harapan kepada pemuda itu.
"Bima, aku minta maaf ya. Aku tahu, aku salah karena tidak memberitahu status aku yang sebenarnya."Andini kembali menunjukkan wajahnya.
"it's okay Din. Aku juga salah, telah menaruh perasaan kepada orang yang tidak tepat. Mungkin, memang seharusnya aku out dari kampus ini,"ucap Bima yang terdengar begitu putus asa.
"Jangan! sebentar lagi kita skripsi. aku akan sangat merasa bersalah kalau kamu sampai out dari kampus,"ucap Andini dengan penuh penyesalan.
"Biar nanti aku pikirkan lagi. mending sekarang kita pulang sebentar lagi hujan. kamu mau aku antar?"tawarnya, walaupun hatinya terasa sakit dan remuk. tapi Bima masih bisa terlihat tenang dan bersikap baik kepada Andini
__ADS_1
"Sorry Bim, Aku tidak ingin memperkeruh keadaan. kamu pulang dulu aja ya. Biar nanti aku naik ojek aja.
"Ngapain naik ojek woi, nih motor aku kosong. biar si Riki balik bareng Bima Saja."celetuk Robert Seraya memakai helmnya.
"Ya sudah. Kita pulang sekarang ya!"ajak Ricky kembali.
"Bima,"Panggil Andini sebelum lelaki itu naik ke atas motornya.
Bima menghentikan langkah dan melihat keadaan dini dengan sayatan luka.
"Sorry, tapi aku harus mengatakan ini... sebuah hubungan harus ada keputusan, lanjut atau tidak. Sorry banget kita harus putus,"bagai petir di siang bolong menerpa, walaupun ia tahu hubungannya dengan Andini tidak akan bisa dilanjutkan, tetaplah Entah kenapa iya tetap saja merasa sakit ketika mendengarkan itu.
Hatinya terasa sakit, bagai tersayat-sayat lalu ditaburi dengan air garam. Pedih rasanya, air mata bahkan seakan menerobos keluar, tetapi sebagai laki-laki, baginya pantang mengeluarkan air mata.
Ricky naik ke atas motor dan menepuk bahunya, berusaha menguatkan.
"Nggak apa-apa Din. Semoga hubungan kamu sama Pak Dimas segera membaik."lelaki itu mengembangkan senyumnya pada wajah kacaunya.
"Terima kasih ya, Bim."
Bima hanya menganggukkan kepalanya dan menjalankan motor itu dengan kecepatan tinggi.
"Din, cepat naik. sebentar lagi hujan nih!"ucap Robert.
Andini memilih pulang ke rumahnya yang ditempatinya bersama dengan Dimas. karena rencananya setelah pulang dari kampus mereka akan kembali ke rumah itu.
Andini memberi arahan kepada Robert untuk menuju rumah tersebut, karena sebelumnya lelaki itu tidak pernah datang ke rumah yang ditempatinya bersama dengan Dimas.
Robert menghentikan motornya di depan gerbang sebuah rumah minimalis tetapi terlihat mewah.
"Terima kasih ya, hati-hati,"ucapkan dini saat sahabatnya itu memutar kembali motornya.
Robert hanya mengacungkan jempol dan kembali melajukan motornya.
Andini membuang nafas berat sebelum masuk ke dalam rumah itu, Ia harap suaminya ada di sana.
Jaki Andini perlahan melangkah, nafasnya kembali terasa sesak dengan air mata yang seolah mendorong akan keluar.
Tangan Andini mulai membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, Andini membuang nafas lega, itu artinya suaminya ada di rumah.
__ADS_1
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, mencari keberadaan pria bertubuh tegap yang kini ia harapkan.
Rumah terlihat sepi, tidak ada pergerakan atau bunyi apapun di sana.
Andini melangkah dengan perlahan, mendekat ke arah kamar yang pintunya sedikit terbuka.
Wanita itu memejamkan mata sebentar dan meremas jemarinya.
Lalu, iya melangkah dengan perlahan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Terlihat seorang pria sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.
Hati Andini terasa sakit, air mata kembali membenci wajah cantiknya.
"Mas,"Panggil Andini dengan lirih. langkah kaki Andini perlahan mendekati Dimas.
Dimas menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya, menyusun baju ke dalam koper.
"Mas, kamu mau ke mana?"tanya Andini dengan dada yang terasa semakin sesak. seolah dirinya sulit untuk bernafas.
"Apa jawabannya Saya penting untukmu?"tanya Dimas kembali dengan nada datar.
"Aku mohon jangan pergi."Andini mendekat dan memiliki tubuh tegap itu dari belakang.
"Cukup Andini! simpan saja semua tangismu, Jangan basahi baju saya dengan air matamu itu,"ucap Dimas dengan nada dingin.
"Mas, jangan seperti ini. aku melakukan itu semua hanya supaya Bima tidak dipermalukan dan tidak keluar dari kampus karena taruhan dengan Bagas,"tangis Andini tumpah di balik punggung tegap itu.
"Kamu menjaga perasaan dan mempertahankan orang lain, tetapi kamu tidak menjaga perasaan saya dan mengorbankan hubungan kita. seharusnya Dari awal saya tidak bodoh, mengharapkan kamu untuk menjadi istri yang baik untuk saya."
"Mas, aku minta maaf. Aku sangat menyesali semua ini, aku mohon kamu jangan pergi. Aku sudah memutuskan Bima dan kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Kamu tahu, Saya pernah terluka dan hampir gila karena wanita. Dan saya tidak mau merasakannya kembali. Lebih baik saya pergi saja dari kehidupan kamu, daripada rasa saya yang tak terbalas ini semakin mendalam."Dimas melepaskan tangan Andini yang melingkar erat pada perutnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN