Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 253. PIL KB


__ADS_3

"Aku mau ke kamar mandi dulu, kamu tunggu saja di sini!"ucap Nisa setelah mereka tiba di dalam kamar.


Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, sementara Ricky membuka ponselnya dan duduk di tepi ranjang.


Dia membuka sosial media miliknya dan berselancar di dunia maya.


Ricky tersenyum merekah ketika melihat akun media sosial milik sang istri dan memperhatikan beberapa foto wanita cantik itu.


Kebanyakan Nisa upload foto ketika dirinya sedang berada di luar. seperti sedang berada di jalan, di cafe dan di tempat lainnya. Bahkan, Tak ada satupun foto Nisa ketika berada di kantor dan duduk di kursi kebesarannya.


Biodata wanita itu pun tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pimpinan perusahaan.


Nisa benar-benar tidak menunjukkan identitas diri yang sebenarnya.


"Kamu lagi ngapain? Kenapa senyum-senyum sendiri?"Nisa yang baru keluar dari kamar mandi dan membuat Ricky saya ketemu mengangkat kepala, lalu menatap ke arah istrinya.


"Aku lagi lihatin cewek cantik."jawab Ricky sambel terKekeh.


"Cewek cantik? siapa? Nisa segera mendekat ke arah Ricky dan merampas ponsel suaminya.


Wanita itu langsung melihat layar ponsel milik Ricky dan memperhatikan sebuah foto wanita yang mengenakan dress berwarna putih sedang duduk di atas hamparan rambut hijau.


"Kamu stalking akun akun, ya? tuduh Nisa dengan senyum yang merekah.


"Iya, fotonya cantik-cantik. Aku khawatir ada cowok yang naksir sama kamu."


"Tidak usah khawatir, yang penting aku nggak naksir sama mereka. Lagian, akun ini udah lama nggak aku buka. Sekarang, aku sudah jarang main medsos."


"Tetap aja, foto-foto ini masih bisa dilihat orang lain,"balas Ricky.


"Ya, sudah deh. nanti aku hapus Kalau akunya masih bisa dibuka,"tutur Nisa yang membuat Ricky serasa menjadi seorang raja.


"Benaran?"tanya pria itu dengan mata berbinar


"Iya, entar aku ingat-ingat lagi password nya apa."


"Oke, Terima kasih sayang. aku ke kamar mandi dulu, mau gosok gigi."Ricky bangkit dan mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Setelah itu, iya masuk ke dalam kamar mandi. Ricky mengambil sikat dan pasta gigi.


Namun, pasta gigi di kamar mandi itu terlihat kempes dan menipis, iya memencetnya beberapa kali tapi tidak ada pasta gigi yang keluar sedikit pun.

__ADS_1


Ricky berjalan ke arah tempat sampah dan membuang cangkang pasta gigi yang sudah habis itu.


Namun, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya penasaran. Ricky mengambil sebuah benda dari dalam tempat sampah.


Keningnya mengerut ketika memperhatikan sebuah kaplet pil lebih kecil yang sudah habis.


Otaknya berpikir keras, berusaha mengingat-ingat kaplet Apa yang kini sedang dipegangnya.


seketika matanya membulat ketika ia mengingat bahwa kaplet kecil itu adalah kaplet pil KB


"Iya, ini tablet pil KB. aku masih ingat, dulu mama sering minum pil seperti ini."gumamnya dengan mata yang terlihat memerah.


Ricky menatap kaplet pil kosong itu dengan mata memanas, entah sedih, kecewa, dan marah perasaan itu menyatu, membuat tangannya menggenggam benda itu dengan erat.


Bahkan, iya sudah melupakan niatnya ke kamar mandi untuk melakukan apa.


Pria itu melangkah dengan lebar, membuka pintu kamar mandi lalu keluar dengan sorot mata nyalang


Tapi, iya tetap berusaha mengendalikan diri, iya tak ingin melempar bom secara langsung kepada istrinya.


Terlihat, Nisa sedang duduk manis di depan cermin meja rias, tangannya sedang sibuk memoles produk kecantikan pada wajahnya.


"Sudah selesai? cepat banget? tanya wanita itu saat melihat suaminya dari pantulan cermin meja rias di hadapannya.


"Aku menemukan sesuatu di kamar mandi,"ucap Ricky dengan nada datar, bahkan kocak pria itu seketika hilang.


"Menemukan apa? bisa bangkit, lalu membalikkan badan menghadap ke arah Ricky yang sedang menghafalkan tangannya, menggenggam sesuatu dengan erat.


"Aku menemukan ini!"Ricky membuka kepalan tangannya dengan menunjukkan kaplet pil tadi ke hadapan Nisa.


Seketika mata wanita itu membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka.


Nisa segera menutup mulut dengan kelima jari lentiknya, tetapi raut wajah wanita itu masih terlihat syok


"Kamu menemukan ini di mana?"tanyanya dengan nada sedikit bergetar.


"Ini punya siapa? Ricky balik bertanya.


Nisa terdiam dengan bibir mengatup.


"Ini punya siapa?"tanya Ricky sekali lagi dengan nada terdengar lebih tinggi.

__ADS_1


Sementara Nisa masih terdiam, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan suaminya.


"Ini punya kamu kan?"Ricky mengangkat kaplet pil itu tepat di hadapan wajah Nisa .


"Iya, itu punya aku,"jawabnya jujur setelah menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Kenapa? Kenapa kamu menggunakan alat kontrasepsi seperti ini? kamu tidak mau punya anak dari aku? kamu tidak mau punya keturunan dari lelaki miskin seperti aku?"sergah Ricky dengan nada penuh kehancuran.


Jujur saja, walaupun ia kini hidup serba ada, tetapi ia selalu minder karena itu semua bukanlah hasil kerja kerasnya sendiri, melainkan milik sang istri dan mertuanya.


"Bukan begitu, kamu dengarkan dulu penjelasanku."Nisa menatap wajah suaminya yang memerah.


"Jelaskan!"Ricky menggerakkan kedua tangannya, seolah mempersilahkan.


"Aku menunda kehamilan karena aku merasa masih banyak pekerjaan, Aku punya tanggung jawab besar atas perusahaan, aku harus bekerja lebih giat karena tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk memimpin perusahaan. Jadi, aku merasa jika aku hamil sekarang dan langsung punya anak, aku akan repot sendiri."jelas desa panjang lebar tetapi ucapan wanita itu malah membuat hati Ricky memanas


"Seharusnya, Kamu memang tidak menikah dengan aku. Aku hanya benalu dalam kehidupan kamu, aku tidak bisa apa-apa, Bahkan aku tidak bisa memimpin perusahaan seperti kamu. Aku sadar, aku ini hanya laki-laki biasa,"balas Ricky dengan nada sendu.


"Maaf, aku tidak bermaksud merendahkan kamu. Tapi, Aku harap kamu bisa mengerti. kamu tahu keadaan perusahaan saat ini? Bagaimana jika aku hamil dan berhenti bekerja? sementara kamu masih belajar. perusahaan akan hancur jika tidak ada seseorang yang benar-benar bisa memimpin."tegas Nisa yang lagi-lagi membuat hati di sekitar saya.


"Tapi, Kenapa kamu tidak membicarakan ini baik-baik sama aku. Kenapa kamu membiarkan aku berharap kepada sesuatu yang tidak mungkin. Jujur, Aku mengharapkan kehadiran seorang anak di antara kita."raut wajah Ricky terlihat sangat serius.


"Untuk saat ini aku tidak bisa, Aku punya banyak planning dalam perusahaan. Kecuali jika suamiku bisa memimpin perusahaan maka aku akan berhenti bekerja.


Ricky terdiam dengan hati bak diremas-remas ketika mendengar penuturan istrinya, saat ini dia benar-benar merasa tidak berguna.


"Memang seharusnya kamu tidak menikah dengan laki-laki hina seperti ku."tutur Ricky dengan hati yang semakin memanas.


"Maksud kamu apa? kamu tidak bisa menerima keputusanku?"kamu menginginkan seorang istri yang bisa memberikanmu keturunan secepatnya?"sergah nih dengan geram.


"aku hanya ingin kamu membicarakan setiap hal yang akan jadi keputusanmu. Termasuk dalam hal ini, Aku sangat merasa tidak dihargai sebagai suami kamu."


"Kamu aja yang terlalu sensitif, hamil atau tidak itu keputusan aku. karena aku yang akan merasakan semuanya."sorot mata Nisa mulai menunjukkan amarah.


"Tapi kamu tidak bisa mengambil keputusan sendiri, setidaknya dengan kamu membicarakan ini terlebih dahulu, kamu tidak membiarkan aku terus berharap kepada hal yang mustahil.


"Aku capek! seharusnya kamu juga bisa lebih mengerti aku. Aku bekerja keras, Bahkan aku bekerja lebih dari mu. seharusnya kamu ngerti Itu!"tegas Nisa dengan nada yang terdengar semakin meninggi.


"Iya, aku sadar. Kamu ini sibuk kerja, kamu seorang pemimpin perusahaan. Tapi ingat, di luar itu semua Kamu adalah istri aku, jadi keputusan seperti ini harus kita bicarakan bersama."Ricky menatap wajah istrinya yang terlihat geram, bahkan sorot mata wanita itu menggambarkan amarah tertahan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2