
"Andini, tunggu!"Dimas segera berlari dan menahan pintu yang sebentar lagi akan tertutup rapat.
Namun, Andini terus mendorong pintu itu sekuat tenaga agar suaminya tidak bisa masuk.
Sayangnya, lagi lagi tangannya kalah jauh dengan Dimas yang memiliki tubuh kekar.
Pria itu terus mendorong pintu sampai akhirnya ia bisa masuk ke dalam kamar sang istri.
"Kenapa Bapak masih mengikuti saya? Kenapa bisa Bapak ada di sini? tanya Andini dengan mata memanas, bulir bening sudah mengenang di pelupuk matanya. Ada rasa sedikit kebingungan di hatinya Mengapa tiba-tiba Dimas mengetahui kalau dirinya berada di rumah kedua orang tuanya.
padahal sebelumnya Andini pergi meninggalkan rumah, langsung ke arena balap dan kemudian mereka pergi ke sebuah jembatan layang, tempat anak-anak jalanan berada itu. Itu berarti Dimas dari tadi mengikuti Andini.
Dimas tidak menjawab. Ia memilih segera menutup pintu kamar itu, dengan rapat agar tidak ada yang melihat dan mendengar percakapan mereka.
"Andini, dengarkan saya dulu."Dimas akan memegang tangan Andini tetapi Andini langsung segera menepisnya.
"lebih baik sekarang bapak keluar dari kamar saya!"usir Andini dengan Gigi mengerat. Andini berjalan ke arah kasur, meninggalkan Dimas begitu saja.
"Andini Saya minta maaf, jika perbuatan saya semalam menyakiti kamu."Dimas mengikuti langkah istrinya.
"Baguslah Jika Bapak menyadari semuanya. Sekarang bapak keluar dari kamar saya!"usir Andini kembali sambil menunjuk ke arah pintu.
"Tidak! kita harus selesaikan dulu semua ini."
"Ceraikan saya dan semuanya akan selesai."
seketika mata Dimas memerah mendengar ucapan istrinya. Tetapi ia harus menahan diri agar Andini tidak takut lagi padanya.
"Kenapa kamu selalu menginginkan perceraian?"tanyanya dengan mata yang meneliti lebih dalam wajah sang istri yang kini telah basah oleh air matanya.
"Andini kecewa sama bapak. Saya tidak menyangka bapak bisa melakukan hal yang jauh dari perkiraan saya."Andini berkata dengan bibir bergetar menahan isakan.
"Kecewa? kamu pikir saya tidak kecewa sama kamu! Semalam kamu mabuk dan pergi bersama laki-laki lain. Saya sebagai suami, wajar marah, jika melihat istrinya seperti itu. Apalagi kamu menyebut-nyebut nama lelaki lain di hadapan suamimu sendiri.
"Tapi semalam saya tidak sengaja mabuk. Saya tidak tahu kalau minuman yang saya minum itu adalah alkohol yang membuat separuh kesadaran saya hilang!"teriak Andini dengan suara parau.
"Itu berarti teman laki-lakimu itu mau menjebak kamu."Dimas mengepalkan tangannya.
"Maksud Bapak Bima?
Tidak mungkin Bima melakukan itu,"sangkal Andini.
"Tidak mungkin kenapa? saya tahu dia mempunyai perasaan lebih padamu. Wajar jika dia menjebak kamu, agar menghabiskan malam bersamanya."
"Cukup! nyatanya yang berniat bejat itu adalah bapak sendiri! Bapak tega melakukan hal yang membuat saya ketakutan."Andini menuju ke arah Dimas dengan lelehan air mata.
"Itu semua wajar, karena saya adalah suamimu dan kamu itu istriku. Asal kamu tahu, selama ini saya menahan diri agar tidak menyentuhmu.
Coba bayangkan betapa tersiksanya saya, tinggal satu rumah dan tidur bersama seorang perempuan yang tidak bisa saya sentuh. Padahal perempuan itu jelas-jelas hak saya sah dimata hukum dan agama,"jelas Dimas dengan suara penuh penekanan.
Seketika Andini terdiam, memang benar apa yang dikatakan Dimas,
Hanya saja, ia masih tak ingin menyerahkan tubuhnya untuk suaminya sendiri.
"Tapi saya belum siap! pernikahan ini terjadi secara tiba-tiba, bahkan saya sebelumnya tidak pernah memikirkan pernikahan. Kenapa Bapak tidak bisa sabar untuk menunggu saya siap menerima pernikahan ini dan menjadi seorang istri."
"Bisa! saya bisa menunggu dan menahan diri sampai Kamu siap. Asal, kamu tidak boleh menghianati saya."
"Saya tidak mengkhianati bapak. Saya dan Bima hanya berteman."Andini menyeka air matanya dengan kasar.
__ADS_1
"Baiklah, Saya minta maaf atas perlakuan Saya semalam. Saya juga sudah memaafkan kesalahanmu,"ucap Dimas dengan suara lembut.
"Kesalahan saya? saya tidak pernah salah!"Ketus Anda Seraya bersikap dada.
"Manusia itu tempatnya khilaf dan salah. Tidak mungkin ada manusia yang tidak pernah berbuat salah."
"Saya adalah manusia satu-satunya yang tidak pernah berbuat salah."Andini membalikan badan, tetapi Dimas langsung memegang tangan dan menarik tubuh sang istri sampai tubuh ramping itu jatuh ke dalam pelukannya.
Dimas merangkul tubuh Andini dengan erat, tidak memberikan peluang sedikitpun untuk istrinya memberontak.
"Pak lepasin!"
"Tidak! saya akan menunggumu sampai siap saya sentuh, tapi jangan larang saya untuk melakukan ini."Dimas mendekap tubuh Andini dan mendekatkan wajahnya.
Pria itu melabuhkan kecupan pada wajah istrinya.
"Pak geli, ih!"Andini memalingkan wajahnya ketika Dimas menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Kenapa geli?"
"Itu jenggotnya sudah panjang!"Andini melepaskan tangan Dimas yang mengendor.
"Nanti saya cukur. Sekarang Kita pulang yuk!
"Ogah, Saya mau nginep di sini."Andini berjalan ke arah ranjang yang sudah lama tidak Ia tidur
"Kalau begitu saya juga mau menginap di sini."Dimas mengikuti langkah istrinya.
"Bisa nggak sih Pak Nggak usah ngikutin saya?"
"Berarti kamu yang harusnya mengikuti saya."
"Udah jangan ngambek terus. Mumpung hari Minggu bagaimana kalau kita jalan-jalan!"
Andini langsung menatap ke arah suaminya. tumben sekali Dimas mengajaknya jalan-jalan padahal ini sudah sore hari.
Apakah es kutub utara sudah mulai mencair?
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Mau tidak? kalau tidak mau ya sudah
"Mau....mau banget."wajah Gadis itu langsung berbinar.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang!"Dimas membalikkan badan dan berjalan terlebih dahulu.
"Eh tunggu, Andini menatap punggung suaminya dengan heran, bagaimana sebenarnya perasaan Dimas padanya.
Pria itu selalu cuek seolah tak punya perasaan apapun, Tapi saat Ia menginginkan cerai Dimas seperti sangat membenci kata-kata itu.
Jika memang Dimas mencintainya, Kenapa tidak pernah mengatakan langsung padanya.
"Ah sudahlah,"Andini menghentakkan kaki dan segera mengejar langkah suaminya keluar dari kamar.
"Aku ingin jalan-jalan naik motor tidak perlu naik mobil.
"Ya sudah, tidak apa-apa, tapi ingat di sini saya yang bawa motornya. Walaupun kamu juara satun balapan motor tadi, tapi saya selaku suamimu yang akan mengendarai motornya, dan kamu duduk manis di boncengan."ucap Dimas membuat Andini terhenyak.
"loh Dari mana Bapak mengetahui kalau saya juara satu balapan? sudah tidak perlu dipertanyakan Ayo naik."ucap Dimas yang sudah mengambil kunci motor Andini dari dalam kamar Andini sebelumnya.
__ADS_1
Karena ia juga sudah berencana mengajak Andini jalan-jalan dengan menggunakan motor ninja warrior milik istrinya. Walaupun sebelumnya istrinya sudah memiliki motor CBR yang baru dimenangkan oleh sang istri.
Tapi karena Dimas sering melihat Andini menggunakan motor ninja warrior ke kampus sebelum pernikahan mereka berlangsung, sehingga Dimas ingin menggunakan motor itu langsung berboncengan dengan Andini.
"Bapak yakin mau memenuhi keinginan saya?"Andini menatap karah suaminya yang masih fokus memasangkan helm untuk istrinya.
"Selama permintaan kamu tidak memberatkan saya, Kenapa tidak?"
"Saya mau jalan-jalan ke Jepang karena Saya ingin melihat bunga sakura yang bermekaran di sana. Bapak keberatan tidak? Andini mengangkat alisnya sebelah meskipun Dimas tak menoleh ke arahnya.
"Berarti harus ada imbalannya dong, untuk saya."Dimas melirik ke arah istrinya dan tersenyum tipis. Senyum yang jarang diketahui Andini.
"Loh kok gitu?
"Iya, karena itu menyeberang lautan."
"Dasar pelit!"
"Saya bukan pelit, tapi harus sama-sama Untung dong."
"Memangnya berapa imbalan yang harus saya bayar? kalau mahal, mending saya ngumpul uang dan pergi sendiri. Saya rasa dengan beberapa kali adu balapan motor, seperti siang ini, aku akan bisa jalan-jalan ke sana.
"Saya tidak meminta imbalan uang."
"Terus?"Andini menatap wajahnya dengan intens.
"Sudahlah. Saya tahu kamu belum siap."Dimas mengarahkan mobilnya ke sebuah Mall
"Kita ke mall, Pak?
"Iya ke Jepang nya nanti saja setelah kamu lulus kuliah."
"Masih lama dong."Andini memanyunkan bibirnya.
"Kalau kamu sudah siap, besok juga berangkat."
Dimas menghentikan motornya setelah memarkirkan roda dua itu dengan benar.
"Saya sudah siap kok."
"Beneran? pria itu mendekatkan wajahnya ke arah sang istri.
"Iya, saya siap banget malah."Andini mencondongkan tubuhnya ke belakang ketika Dimas semakin mendekat wajahnya ke arah Andini.
Pria itu menatap wajah Andini dengan intens.
sorot mata Andini itu telah ketakutan. Pipinya memerah, keringat dingin mulai menetes pada dahi dan pelipisnya.
Mungkin Andini masih merasakan ketakutan akibat ulahnya semalam.
"Kamu belum siap."Dimas kembali menjauhkan wajahnya dan menepuk kepala sang istri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1