
"Ini buat kamu!"ucap Herlan sambil menyodorkan sebuah buket bunga ke hadapan istrinya. Mata Rian membulat ketika melihat apa yang diberikan suaminya.
"Ini buat aku, bang? tanya Rian masih tidak percaya.
"Iya, ini buat istri Abang yang baru selesai wisuda. Selamat ya!"ucap Herlan dengan senyum mengembang pada wajah tampannya.
"Hmm.... so sweet. Terima kasih banyak bang."Rian menerima buket bunga itu dari tangan suaminya dan memperhatikan buket yang berisi uang kertas buket bunga yang lagi viral zaman now.
"Bang, tau aja kamu kalau aku suka uang,"ucap Rian dengan mata yang masih tertuju ke arah buket yang dipegangnya.
"Mana Mungkin ada orang yang gak suka uang?"balas Herlan sambil menjalankan kembali mobilnya meninggalkan Cafe itu.
"Hahaha... Bang Herlan pintar deh, tapi aku beneran senang banget, kamu seperhatian ini sama aku."Rian memeluk buket itu dengan Senyum mereka.
"Bunganya aja yang dipeluk? suaminya tidak?"celetuk Mamanya Rian yang berada di jok Tengah mobil Herlan.
"Hahaha... kalau sudah memeluk buket pemberiannya, itu sama dengan memeluk orang ya, Ma."ucap Mariska.
"Mana ada sama, bunga ya bunga Herlan ya Herlan."sahut mamanya Rian kembali.
"Ya sudahlah Ma, ngapain berdebat karna itu aja."sahut Papanya Rian yang duduk di samping mamanya Rian di Jok tengah
"Terima kasih ya, bang. Aku nggak nyangka Abang romantis seperti ini.
"Iya dong, kamu kan istri aku satu-satunya,"balas Herlan dengan Tatapan yang terarah ke jalanan.
"Satu-satunya, Alhamdulillah berarti nggak ada wanita lain."
"Wanita lain ada, Cuman mereka bukan siapa-siapa aku selain adik dan ibu aku."
"Bang Herlan bisa aja buat aku meleleh."Rian tersenyum Mbak orang kasmaran. Seolah dirinya tidak peduli dengan keberadaan kedua orang tuanya yang ada di Jok tengah.
"Kalau meleleh, nanti Setelah tiba di rumah aku langsung masukkan ke freezer, biar beku lagi."
"Bang Herlan ih! emangnya aku ini es krim?"
"Iya, kamu itu es krim bagiku, yang manis saat dijilat."sahut Herlan berbisik di telinga Rian.
__ADS_1
"Bang Herlan kumat mesumnya!"Rian memukul pelan dengan suaminya. Herlan hanya terkait sambil terus menjalankan roda empatnya. Sementara kedua orang tuanya harian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Putri dan menantunya yang berada di Jok tengah.
***
Sementara Andini, Dimas, Tuan Miko Pratama, Nyonya Laras, dan Tuan Anggara saat ini masih berada di kampus. Mereka mengabadikan momen wisuda Andini kali ini.
Setelah selesai sesi foto bersama teman-temannya, Andini ingin segera pulang ke rumah kedua orang tuanya. Dia ingin meminta penjelasan dari Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama.
Dimas menghampiri Andini yang saat ini masih ngobrol bersama Mariska dan Robert. setelah ditinggal pulang oleh Rian dan Herlan.
Mariska dan Robert masih ngobrol bersama dengan Andini. Sedangkan Erin dan Bima sudah pulang lebih dulu.
Bima sengaja meminta Erin mereka lebih dulu pulang, karena Bima merasa tidak enak hati setelah mengetahui kalau Dimas kah pemilik kampus di mana dirinya menimba ilmu.
"Sayang kita foto bersama sama Papa Mama juga."ujar Dimas tapi Andini masih tetap diam saja tidak menyahut suaminya sama sekali. Tapi Andini mengikuti langkah Dimas.
Tak ada senyuman di laut wajah Andini. wajahnya datar, tak menunjukkan ekspresi apa-apa."Kamu ini bagaimana, sih? seharusnya acara wisuda itu kamu bahagia dan tersenyum Apalagi kamu mendapat nilai yang bagus."Nyonya Laras berkomentar melihat raut wajah putrinya.
"Lagi lagi Andini diam.
"Andini, kamu kok diam saja? ayo sini foto bareng Mama."Nyonya Laras menarik tangan Andini berada di depan papan bunga yang yang terpajang di halaman kampus.
Andini tidak menjawab. Wajahnya datar. Membuat Dimas semakin merasa bersalah.
Ricky menghampiri Andini.
"Hai Din, Selamat ya kamu memang sobat yang paling the best."ucap Ricky sambil memberi salam kepada Andini.
"Terima kasih Ricky!"selamat juga buat kamu atas wisuda mu hari ini."ucap Andini kepada Ricky. Ricky hanya nyengir.
"Aku bisa wisuda hari ini berkat kamu juga. karena bantuan kamu membantu aku menyelesaikan skripsiku."bisik Ricky tepat di telinga Andini.
Andini dan Ricky tiba-tiba tertawa. Sementara Robert dan Mariska menarik Ricky dari samping Andini.
" Apaan sih main tarik-tarik segala."
"Sirik aja!"
__ADS_1
"Bukan sirik!"tapi kasih waktu dong sama teman yang lain."komplain Robert. akhirnya Ricky pun mengalah. Dimas melihat interaksi mereka dia mengerutkan keningnya.
"Tiba sama mereka dia tertawa, lah aku suaminya wajahnya datar bahkan aku tidak bisa memberikan ciuman dan pelukan kepadanya saat acara wisuda."gerutu Dimas di dalam hati.
Dimas menyadari akan hal kesalahan yang sudah ia perbuat. Tapi itu semua ia lakukan atas dasar permintaan kedua mertuanya. "Astagfirullah apa yang harus aku lakukan, kalau sudah begini pasti akan panjang urusannya."gumam Dimas dalam hati ia sudah dapat membayangkan kemarahan istrinya.
Dimas membayangkan kalau dirinya akan tidur sendiri. Kalau Andini tidak memaafkan dirinya. Dimas menghampiri Nyonya Laras.
"Ma, sepertinya Andini marah besar kepada Dimas. Dia pasti merasa dibohongi selama ini. lihat saja dia memilih bergabung dengan teman-temannya dibandingkan bergabung dengan suami dan orang tuanya."Dimas mengeluh.
"Sudah,kamu tenang saja. Andini marahnya pasti hanya sebentar kok"sahut Nyonya Laras enteng.
Mamanya Mariska hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Putri dan menantunya. Yang hanya tertawa cekikikan saat acara wisuda itu selesai dilakukan.
Setelah selesai berfoto bersama dengan Mamanya Mariska dan Papanya Mariska mereka memutuskan untuk merayakan acara wisuda di cafe kampung kecil.
Mamanya Robert hari ini tidak dapat menghadiri acara wisuda Robert. karena kondisi kesehatan mamanya Robert saat ini belum memungkinkan untuk dapat menghadiri acara wisuda itu. Tetapi Ciwi tetap datang, untuk memberikan selamat kepada kakaknya.
Sepeninggalan keluarga Mariska dan Robert, Andini duduk sendiri. Dimas menghampiri Andini. Dimas meraih tubuh Andini kepelukannya. Andini berusaha melepaskan pelukan pria yang sudah membohonginya selama ini.
"Lepaskan!!!! teriak Andini sambil mendorong tubuh pria itu dari tubuhnya.
"Tidak, Aku tidak akan pernah melepaskan mu. karena aku sangat mencintaimu Sayang."sahut Dimas
"Terserah! sahut Andini sambil Kembali terus mendorong tubuh suaminya tapi tenaganya kalah kuat dari Dimas.
"Tuan Anggara yang memperhatikan menantu dan putranya itu pun datang menghampiri keduanya. "Dimas Sekarang juga kita langsung ke resto saja. Ayo ajak istrimu kita rayakan keberhasilan Andini di sana."ujar Tuan Anggara.
"Sayang, kamu dengar kan, Papa bilang apa? Ayo kita ke mobil."
"Tidak usah pegang-pegang, aku bisa sendiri."titah Andini sambil menepis tangan Dimas.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN