
"Oh iya. kita langsung masuk yuk, sampai lupa sangking senangnya."ucap Nyonya Laras sambil nyengir. Di rumah Rian dan Erin sangat bergembira mereka Langsung memeluk Andini. "Selamat ya Adik iparku yang cantik dan bahenol, kamu sudah menjadi seorang ibu."ucap Ruan sambil memeluk Andini.
Erin juga melakukan hal yang sama. Wanita hamil itu ingin bertanya kepada Andini Bagaimana proses melahirkan. Apakah melahirkan secara sesar sama sakitnya seperti yang diceritakan oleh Mariska yang melahirkan secara normal.
Tapi niat itu mereka urungkan dulu, karena Andi Ini baru saja tiba di rumah.
Ketika Dimas, Herlan dan juga Bima ngobrol. Ryan dan Erin tampak sedang sibuk menghidangkan menu makan siang menyambut baby Dasa, Danes dan juga Dania. " Ma, makanannya sudah siap."ucap Ryan kepada Nyonya Laras agar mereka segera makan. Mengingat jam makan siang sudah tiba.
Nyonya Laras pun meminta anggota keluarga lainnya agar langsung menuju ruang makan. dengan hati yang bahagia mereka menyantap makanan yang dimasak langsung oleh Nyonya Laras dibantu oleh Erin dan juga Rian.
Ketika mereka sedang menikmati hidangan menu makan siang yang sudah dihidangkan di atas meja, tangis bayi perempuan Adelia terdengar jelas di telinga mereka. Andini langsung beranjak dari tempat duduknya menuju kamar baby nya.
Ternyata baby sitter yang bertugas menjaga baby Adelia sedang mengganti popok. "tidak apa-apa Nyonya tidak perlu khawatir, Saya hanya mengganti popoknya saja."ucap babysitter yang bertugas menjaga dan merawat baby Adelia.
"Mbak boleh saya gendong bayi saya?"Andini bertanya kepada baby sitter.
"Tentu dong nyonya."ucap baby sitter sama memberikan baby Adelia ke pangkuan Andini.
Kemudian adil kembali ke ruang makan dengan membawa duduk Adelia bersamanya. sementara kedua bayi laki-lakinya masih anteng tertidur pulas Di ranjang mereka masing-masing.
"Loh Sayang. kok Putra kita dibawa ke sini? Memangnya mbaknya di mana? tanya Dimas sambil celingukan mencari keberadaan baby sitter.
"Oh ada Mas di kamar, cuma Andini hanya ingin makan bersama putri kita yang terbang lebih dulu dibandingkan kedua Putra kita."ucapkan dini sambil mencium baby Adelia.
****
Satu minggu sudah berlalu paska Andini sudah pulang ke rumah dengan ketiga putra-putrinya.
Hari ini Dimas akan memulai aktivitasnya seperti biasa. Pria yang memiliki profesi sebagai dosen dan juga CEO perusahaan keluarga anggaran akan kembali melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya.
Dimas sudah berpakaian rapi, pria itu terlihat gagah dengan balutan kemeja berwarna biru berkerah dipadukan dengan jas berwarna hitam.
Sementara Andi ini baru selesai membersihkan diri di kamar mandi.
"Tumben pakai kemeja itu Mas? biasanya juga nggak suka pakai baju kemeja berwarna cerah,"ucapkan dini yang keluar dari kamar mandi.
Wanita yang hanya mengenakan handuk kimono itu memperhatikan penampilan suaminya dengan intens.
__ADS_1
"Iya Sayang, lagi pengen saja."jelas Andini membuat Andini tersenyum.
"Ya udah kalau gitu aku juga mau pakai baju warna merah menyala, Biar hatiku semakin cerah dan menyala juga untuk menjaga putra-putri kita."Andini tertawa lalu berjalan ke arah lemari pakaian.
Dimas mengembangkan senyuman. mendengar ucapan istrinya Padahal dia tahu istrinya pasti akan kelelahan merawat ketika bayinya Walaupun dia sudah menyewa tidak babysitter sekaligus. Karena dia tahu Andini pasti akan secara bergantian memberikan ASI nya kepada bayinya.
Dimas menganjurkan kepada Andini agar bayinya dibantu dengan susu formula. karena jika tidak pasti Andini akan sangat kewalahan. tetapi tampaknya ketika bayi Andini, lebih menyukai ASI darinya dibandingkan susu formula yang sudah disiapkan oleh Baby sitter selalu.
"Mas, kayaknya aku nanti bakalan gendut deh. Coba bayangkan aku makan sampai tiga kali tambah setiap kali makan. Rasanya perutku mudah lapar."ucap Andini sambil terkekeh membayangkan dirinya setiap kali makan dia selalu menambah berbeda ketika dia masih gadis.
"Ya, Enggak dong Sayang. Kan kamu makan bukan untuk kamu sendiri, tapi untuk 4 orang sekaligus. Seharusnya bukan hanya nambah dua atau tiga kali. tapi aturan 4 atau 5 kali tambah dari sebelumnya. karena jika kamu sekali makan maka 4 orang yang makan."ucap Dimas sambil terkekeh.
"Waduh empat atau lima kali tambah? Memangnya Mas kira Andini kerbau?
"Bukan gitu Sayang, Coba bayangkan bayi kita menyusui dari kamu. Kalau kamu tidak memiliki asupan gizi yang cukup untuk Empat orang sekaligus, bisa aja kan putra dan putri kita tidak merasa kenyang menyusu dari kamu."sahut Dimas mau selalu memberikan alasan kepada istrinya. Agar Andini menambah porsi makannya dan tidak takut gendut.
***
Sementara itu seorang wanita Tengah sibuk memandikan bayinya. bayi yang masih merah itu perlahan tumbuh.
Robert yang mendengar itu, segera mengambil handuk yang tergeletak di atas kasur bersama dengan pakaian bayi yang telah disiapkan oleh Mariska sebelumnya.
"Pa, Cepat! dedeknya kedinginan nih!"teriak Mariska kembali dengan Tak sabar.
Robert yang sedang memakai celana, menaikkan resletingnya lebih dahulu, setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk menyerahkan sehelai rambut kecil kepada istrinya.
"Ini handuknya."Robert menyerahkan handuk kecil itu ke arah Mariska.
"lama banget sih, cuma ngambil handuk doang juga."protes mereka sering mengambil handuk itu dengan kasar dari tangan Robert.
"Orang lagi pakai celana disuruh ngambil handuk. makanya lain kali kalau Mau mandiin dedek, handuknya dibawa aja ke kamar mandi."balas Robert yang tidak mau disalahkan.
"Namanya juga lupa, kayak kamu belum pernah lupa saja."Mariska membungkus putranya dengan handuk dan menggendong bayi itu.
Mariska keluar dari kamar mandi sambil menggendong Roberto.
Robert mengikuti Mariska dari belakang dengan mata yang memperhatikan sang istri.
__ADS_1
Saat ini, Mariska hanya mengenakan daster tipis yang terlihat basah karena cipratan air saat memandikan Roberto.
Rambut wanita itu hanya dijepit oleh jepit rambut dan terlihat berantakan. Wajahnya terlihat polos tanpa polesan make up. Bahkan bibirnya sedikit pucat tanpa lipstik.
"Sayang, kamu belum mandi ya? tanya Robert sering mendekat ke arah Mariska yang sedang memakaikan bedak pada tubuh Roberto.
"Belum sempat, Memangnya kenapa? Mariska balik bertanya.
"Kok belum sempat? biasanya juga kamu kan paling duluan mandi. Kok jam segini masih kusut begitu." ucap Robert yang seketika menghentikan tangan Mariska yang akan memakai baju pada bayinya.
Wanita itu menatap ke arah Robert dengan wajah datar, tetapi sorot matanya terlihat tajam.
"Apa kamu bilang? aku kusut? hanya karena aku belum mandi. Asal kamu tahu ya! sejak subuh aku sudah bangun, masak sarapan untuk semuanya, setelah itu Roberto bangun, buatkan dia susu, mandiin dia juga. Harusnya kamu ngerti dong, di rumah ini aku nggak cuman ngurus anak kamu doang loh, aku juga harus nyiapin sarapan dan segalanya. tadi aja adik Kamu itu belum bangun. Padahal mereka harus ke kampus. Ya terpaksa aku harus buat sarapan." cerocos Mariska tanpa jeda.
"Kenapa kamu nggak bangunin aja? biar buat sarapan sendiri.
"Susah, kamu nggak akan ngerti posisi aku. aku nggak enak kalau harus bangunin mereka."
"Tapi nggak gini juga lah sayang. Sudah jam segini kamu masih belum mandi."balas robotnya membuat hati mereka semakin memanas.
"Memangnya kenapa kalau aku belum mandi? Bau? kamu nggak mau dekat-dekat? Ya udah menjauh sana! aku banyak pekerjaan disini, Kamu nggak nyadar apa? mama kamu nggak bisa ngapa-ngapain. Kalau aku nggak giat semuanya berantakan. Kalau kamu mau aku tetap wangi dan rapi, coba kamu ambil pembantu atau Baby sitter untuk bantu bantu aku di sini. Atau kita tinggal di rumah mama aku aja Biar ada yang bantuin aku urus semuanya." cerocos Mariska kembali dengan nada kesal.
"Ya sudah, maaf. lain kali bangunin Ciwi aja ya. Biar Dia bantuin kamu."Robert duduk di jati ranjang di samping istrinya.
"Awas jangan dekat-dekat! aku ini bau belum mandi." ketus Mariska dengan tangan yang sedikit mendorong tubuh suaminya.
"Siapa bilang kamu bau? tetap wangi kok walaupun belum mandi."Robert merapatkan tubuhnya pada Mariska.
"Jangan dekat-dekat, ikh! aku udah terlanjur sakit hati sama omongan kamu."
"Aku minta maaf sayang. Maaf ya Sayang." istrinya dari samping.
"Belum juga sebulan aku ngurus anak kita, kamu sudah bilang kayak gitu. Seharusnya kamu yang berinisiatif sendiri bantuin aku gitu, kalau nggak bisa mengasih pembantu atau baby sitter ." omel Mariska kembali dengan kesal.
"Iya sayang, maaf. Udah jangan marah lagi, kamu wangi banget kok." Robert semakin mengeratkan pelukannya dan mencium beberapa anggota tubuh sang istri.
bersambung....
__ADS_1