
"Mas sikap Kak Herlan ke Rian kayak sikap kamu dulu ke aku, ya," ucap Andini Seraya mengusap punggung tangan Dimas.
"Terus, kamu juga dulu kayak Rian gitu suka nyosor,"balas Dimas sambil terkekeh.
"Enak aja! enggak lah. Aku dulu jaim nggak nyosor aja, kayak si Rian."
"Jangan panggil nama sekarang Rian. Kan sudah menjadi kakak ipar kamu." tegur Dimas
"Dan Rian juga adalah kakak ipar kamu Mas." Andini menutup mulut menahan tawanya.
"Nggak nyangka ya, mahasiswi ku menjadi kakak iparku. Bisa-bisa Outhor Morata akan membuat karya novel yang berjudul "Mahasiswi ku kakak iparku."ucap Dimas sambil tersenyum tipis. Hal itu membuat Andini sudah tidak dapat lagi menahan tawanya.
Mata wanita itu menyipit. Bahkan sedikit mengeluarkan air mata. Sekuat tenaga Ia menahan tawa agar suaranya tidak menggelegar.
Sementara Dimas masih berekspresi datar.
"Mas, kamu nggak pengen ketawa gitu?"tanya Andini.
"Kenapa harus tertawa? tidak ada yang lucu."balas Dimas kembali dengan ekspresi yang sama datarnya.
"Ih, dasar serigala, ini nih kalau terlalu lama bergaul dengan kulkas. Kelamaan berada di dalam Kutub Utara ya begini. Jiwa kamu yang terlalu tinggi, atau aku yang receh sih Mas? Kok kayak begini aja aku ngakak? tanya Andin kembali dengan mata yang tertuju pada wajah datar suaminya.
"Kamu yang receh. Seribu dapat dua."
"Hahaha.... mas, mahasiswa kamu nggak ada yang tahu dosen mereka selawak ini." Andini kembali tertawa sambil menyandarkan kepalanya pada lengan berotot Dimas.
"Ini eksklusif. Hanya untuk istri tercinta." Dimas mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"So sweet, jadi pengen gigit. Andini mengangkat tangan suaminya dan mendekatkan punggung tangan yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pada bibirnya.
"Jangan gigit, nanti aku berubah."
"Berubah jadi apa? memangnya aku vampir." ucap Andini sambil terkekeh memukul pelan lengan suaminya.
Sementara itu dua sepeda motor berhenti tepat di halaman rumah Andini.
Robert, Mariska, Ricky, dan juga Bima langsung meluncur ke kediaman Andini saat mengetahui sahabat mereka akan melangsungkan pernikahan di sana.
Rian tidak membuat undangan terbuka di grup pertemanan mereka sebagaimana dilakukan oleh Robert dan Mariska sebelumnya.
Sehingga mereka baru mengetahui kalau Rian sedang melangsungkan pernikahan saat Andini memberitahunya di group.
Saat mereka turun dari motor dan akan masuk ke dalam rumah yang menjadi tempat akad nikah tersebut, keempat anak muda itu berpapasan dengan beberapa orang yang keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Aduh acaranya sudah selesai ini pasti."ucap Robert dengan wajah sedikit kaget.
"Iya, kita telat dong. Nggak bisa lihat acara sakral si Rian." Timpal Mariska dengan raut wajah kecewa.
"Tenang gush, kita masuk aja buat ngucapin selamat." Ricky mendahului ketiga teman-temannya yang langsung disusul oleh Bima.
Sementara Robert dan Mariska berjalan di belakang mereka.
"Kamu sih, ngasih infonya telat." gerutu Mariska dengan wajah kesal kepada suaminya.
"Aku kan dari bangun tidur nggak pegang ponsel Sayang, kamu juga masa ada notifikasi di ponsel kamu tidak tahu?" Timpal Robert.
"Aku kan tadi pagi nemenin Mama berjemur, biar makin sehat. Ya aku nggak bawa ponsel lah. Kamu itu yang nggak ngapain Kok sampai nggak tahu ada info di group." gerutu Mariska kembali dengan bibir yang semakin mengerucut.
Tadi pagi aku kan nyuci sprei sayang.
"Wih, kamu nyuci sprei Robert? rajin bener." celetuk Ricky secara tiba-tiba yang membuat mata Mariska hampir membulat.
"Iya, aku mau buka laundry bentar lagi." timpal Robert yang buat istrinya malah terkekeh.
"Kamu keren. Sudah mau buka cafe, buka laundry, terus buka apa lagi, nih? sukses dunia akhirat pokoknya." Ricky mengacungkan kedua jempolnya ke arah Robert.
"Bentar lagi aku sama Mariska mau buka pabrik anak."ucap Robert dengan angkuh.
"Good job brother! aku terawang anak pertama kalian itu kembar" ucap Ricky Seraya menunjuk dahinya berpikir.
"Sepertinya kamu sudah ganti profesi, ya
Ricky." Robert menepuk bahu sahabatnya.
Ricky hanya tertawa mendengar Robert yang mengatainya berganti profesi.
"Makanya cepat-cepat cari pasangan jangan jomblo melulu. Nanti bisa-bisa burung perkutut kamu itu tidak mendapat jatah makan." ucap Robert yang kembali terkekeh.
"Eh enak aja, aku yang sukanya daun muda. yang muda biasanya masih empuk." Ricky tersenyum getir.
"Maksud kamu yang kayak aku gini sudah alot gitu?"sergah Mariska kembali mengundang gelak tawa Ricky, Robert dan Bima.
"Kamu malah ketawa lagi." Mariska mencubit lengan suaminya.
"Enggak kok sayang, kamu malah lebih legit." Robert menggigit Bibir bawahnya sendiri.
"Ih dasar otak mesum! Ricky menoyor kepala sahabatnya.
__ADS_1
"Kalau aku mesum wajar, karena aku sudah punya istri. Nah, kamu! berdua yang belum memiliki istri gak boleh mesum." Robert menunjuk ke arah Ricky dan Bima dengan wajah songong.
"Ya ampun, ternyata ada tamu kehormatan." suara itu membuat semua yang mengalihkan pandangan.
Andini bersama dengan Dimas mendekat ke arah ke empat orang yang sedang berdebat yang tak jelas di teras rumah.
"Nah, ini yang pemangku hajat yang telah ngasih undangan." Robert menunjuk ke arah Andini.
"Sorry guys, aku lupa ngasih tau kalian dari semalam." ucap Andini.
"Kalau begini, aku mending perawatan dulu siapa tahu ada cewek cantik di sini yang akan aku ajak menikah." ucap Ricky
"Idih, narsis banget kamu. Ya udah kita masuk aja. Di dalam sudah disediakan makanan, Walaupun nggak terlalu mewah. Kita makan bareng-bareng." ajak Andini Seraya yang mempersilakan semua teman-temannya masuk ke dalam rumah.
"Pak Dimas apa kabar?" tanya Mariska sambil mencium punggung tangan dosennya.
"Kabar Baik, bagaimana dengan kalian?" tanya Dimas kembali dengan mode dosen killer.
"Alhamdulillah, kita baik dan happy Pak." balas Robert Seraya mencium punggung tangan Dimas yang langsung disusul oleh Ricky
Bima ikut mengulurkan tangannya ke arah Dimas. Walaupun tatapan keduanya masih saling melempar bola api, tetapi kedua pria itu berusaha terlihat baik di depan umum.
Apalagi mata Andini seolah mengawasi gerakan keduanya.
Setelah itu mereka semua langsung masuk, karena beberapa tamu yang menyaksikan acara akad nikah telah bubar.
Selamat menempuh hidup baru ya Rian, seru Mariska Seraya mendekat ke arah Rian yang berdiri di samping Herlan.
"Terimakasih, sudah datang. Padahal aku nggak ngundang." balas Rian Seraya menerima pelukan sahabatnya.
"Benar-benar keterlaluan sih kamu. sombongnya menyundul ke langit sampai aku nggak diundang di acara Kramat kayak gini." ucap Mariska yang membuat dahi Rian mengerut.
"Ralat sedikit, bukan acara keramat tetapi sakral woi! ucap ucap Rian yang membuat Herlan hanya tersenyum tipis.
"Maaf typo besty,"
"Typo? Memangnya Outhor Morata suka typo kalau lagi nulis karya?pakai typo segala lagi ngomong." gerutu Rian yang dibalas tawa dari teman-temannya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "AKU IBU MU NAK, "