
Andini ketar-ketir tidur satu kamar dengan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya, tapi ia merasa masih seperti orang asing. tak sudi rasanya iya tidur sekamar, apalagi tidur seranjang dengan orang yang selama ini membenci dirinya. Bahkan mengolok-olok setiap harinya jika berada di kampus.
"Pokoknya aku harus safety biar nggak jebol. tak sudi aku dijamah dosen killer seperti dia."gumam Andini dalam hati.
"Bapak jangan macam-macam ya!"Andini segera menarik tangannya dari genggaman Dimas.
"Baru begitu saja sudah keringat dingin, Bagaimana jika aku langsung....."Dimas tidak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya masih terlihat datar, mungkin pria itu tidak punya ekspektasi lain, selain berwajah datar dan keras.
Andini memperhatikan keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya dari telapak tangannya dan sudah terlihat jelas peluh mengalir begitu saja di pelipisnya.
Saat Dimas mengucapkan kalimat tadi, ia merasa ketakutan sampai mengeluarkan keringat dingin.
"Andini, Ayo ajak suami kamu makan dulu!"perintah Nyonya Laras dari kejauhan.
Andini hanya membuang nafas kasar sebelum memicingkan matanya ke arah sang ibu.
Dimas melirik ke arah Andini yang sedang memanyunkan bibirnya. Entah mengapa Dimas senang sekali untuk membuat Andini semakin kesal.
"Kamu mau makan?"tanya Dimas secara tiba-tiba
"Nggak saya sudah tidak punya selera makan."
"Baiklah tidak masalah."Dimas berjalan ke arah meja yang sudah terdapat banyak hidangan di dalam rumah itu, tanpa menghiraukan Andini yang sedang menatap punggungnya yang sedang dengan Geram, tidak hanya geram. Tapi ia juga sangat kesal, rasanya ia ingin terbang ke luar angkasa agar tidak berada di tempat itu dan melihat lelaki yang selama ini, selalu mengolok-oloknya dan juga lelaki yang dibenci oleh Andini.
Astaga! mimpi apa aku ini bisa menikah dengan lelaki seperti dia, bisa mati berdiri aku kalau lama-lama menjadi istrinya. Ah jika aku bertingkah urakan, Mungkin dia akan bosan dan akan menceraikan Aku. Tak apalah Aku janda tapi perawan."gumam Andini tersenyum licik
"Aaatgghhh.... dasar nyebelin! Andini melempar tinju ke udara, berusaha menuntaskan amarahnya kepada pria yang baru saja sah menjadi suaminya.
Andini mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan bergabung bersama keluarganya yang juga sedang menikmati hidangan.
Sementara Andini diam dengan lamunannyal.
Hari telah berganti menjadi malam, pernikahan dilaksanakan secara sederhana itu telah usai.
Walaupun tidak ada acara apa-apa lagi, setelah akad nikah,tetapi karena ada sanak saudara yang hadir tetap saja acara berlangsung seharian. Sungguh membosankan, Ingin rasanya Andini keluar dari rumah dan mengendarai motor ninja miliknya. Apalagi teman-teman geng motornya sudah berulang kali mengirimkan pesan, kalau mereka sudah menunggu di lokasi di mana mereka sering ngumpul.
__ADS_1
Andini baru keluar dari kamar mandi, Gadis itu baru selesai membersihkan diri sebersih mungkin.
Bahkan ia membawa baju ganti ke dalam kamar mandi karena tak ingin lekuk tubuhnya yang ia anggap seksi dan menggoda terlihat oleh suaminya sendiri.
Padahal di dalam agama itu sudah tidak masalah, karena pernikahan mereka sudah sah di mata agama.
Netranya membulat ketika melihat Dimas telah duduk dengan santai di atas kasur miliknya sambil bermain ponsel.
"Bapak kok ada di kasur saya sih?"Andini berjalan keranjangnya sambil berkacak pinggang.
"Memangnya kenapa?"Dimas melirik kearah Andini sekilas dan kembali Menatap layar ponselnya, seolah-olah dia tidak peduli akan omelan dari Andini.
"Entah kenapa pria itu senang sekali bermain ponsel, bukan hanya bermain ponsel tapi selalu membuat Andini kesal dan sebel. Jangan jangan dia lagi nyari referensi buat..... Oh no! aku harus waspada."gumam Andini di dalam hati, Gadis itu menggerakkan kedua bahunya ketika membayangkan adegan, Ah sudahlah.
"Pokoknya Bapak tidak boleh tidur di atas kasur saya!"
"Bapak boleh tidur di kamar Herlan.
"Kenapa tidak boleh?"
"Kenapa harus di sana?"
"Kamu tahu, tamu itu adalah raja
"Tapi bukan berarti harus merajai begini!"bales Andini dengan geram.
"Terserah saya, Kalau kamu tidak suka, ya tinggal tidur di sofa atau bawah aja, ingat aku ini suami kamu. Kamu harus patuh kepadaku, Apa kau mau berdosa dan durhaka kepada suamimu? lagi-lagi Dimas bisa skakmat Andini membuat Andini tak bisa berkutat.
Mata Andini memanas, dadanya naik turun menahan amarah, garis itu mengepalkan tangannya dan berjalan sambil menghentakkan kaki seolah memberikan getaran bagi lantai yang diinjaknya.
"Bapak yang tidur di sofa!"titah Andini dengan geram.
"Kalau saya tidak mau gimana?"Dimas masih berwajah datar, padahal Andini sudah mengeluarkan tanduk dan taringnya.
"Saya tidak mau tidur satu ranjang dengan bapak."
__ADS_1
"Bapak....bapak... bapak! Kamu kira aku bapak kamu? ingat aku ini suami kamu. ucap Dimas kepada Andini.
"Kalau kamu tidak mau tidur bersamaku di ranjang ini, tinggal cari tempat lain. bereskan." ngapain dibuat jadi ribet. Dimas merebahkan tubuhnya dengan santai di kasur milik Andini. membuat Andi ini semakin kesal dan ingin sekali memaki suaminya.
"Pokoknya bapak nggak boleh tidur di kasur saya!"Andini naik ke atas kasur dan menarik tangan Dimas. Namun, tenaga yang kalah jauh dengan Dimas malah membuat dirinya yang tertarik oleh suaminya sendiri.
Brukkkk
Andini terjatuh tepat di atas tubuh Dimas yang sedang tertidur dengan posisi terlentang, hingga bibirnya bertemu dengan bibir Dimas. Aroma maskulin tercium di Indra pencium Andini membuat Andini seketika terdiam.
'Sialan!!! Kenapa sih Apes banget hidup aku, bibirku yang manis sudah direnggut oleh pria asing ini." teriak Andini
Andini segera bangkit dari atas tubuh Dimas dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada tubuh suaminya dengan sebuah bantal.
"Aw! berani kamu memukul!"Dimas segera merebut bantal itu dari tangan Andini dan mengangkat bantal itu tinggi-tinggi ke arah istrinya.
"Hah.... Bapak Jangan KDRT."Andini segera bangkit dan turun dari ranjang.
"Siapa juga yang KDRT. ucap Dimas sambil bangkit dan turun dengan mengejar Andini yang berlari ke arah pintu.
"Mama.... tolong Andini,"teriak Andini dengan langkah yang semakin mendekat ke arah pintu kamarnya.
Dimas segera mengejar Andini dan menangkap tubuh gadis itu sebelum tangannya menyentuh kena pintu.
"Mama, Tol.....mphhh...."Dimas segera membekap mulut Andini dengan tangan yang lebar agar suara Andini tidak terdengar oleh penghuni rumah.
"Berisik! Nanti orang tua kamu mikir nggak nggak."bisik Dimas pada telinga Andini yang membuat Gadis itu merinding kegelian.
lagi lagi Dimas membekap mulut Andini, membuat Andini sedikit kesulitan untuk menghirup oksigen. Andini menggigit tangan Dimas dengan kuat, berharap Dimas melepaskan tangannya.
"Aw! dasar anak kucing."Dimas mengibaskan tangannya ke udara yang terdapat bekas gigitan Andini.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN