Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 251. SUAMI PERHATIAN


__ADS_3

Sesuai dengan rencana mereka sebelumnya, Dimas dan Andini pulang ke rumah mereka. Bahkan, sepasang suami istri itu semalam menginap di rumah pribadi yang selama ini dipersiapkan oleh Dimas.


Pagi ini Dimas bangun lebih awal, pria itu tak membiarkan istrinya bekerja. Dia juga menyiapkan makanan untuk sarapan pagi mereka berdua.


Padahal bukan tidak ada asisten rumah tangga. Tapi Dimas ingin memastikan makanan yang akan dikonsumsi oleh istrinya itu benar-benar higienis. Dan dia ingin memberikan perhatian penuh kepada istrinya.


"Sarapan! tadi aku udah buat nasi goreng untuk kita berdua,"ujar Dimas membuat Andini langsung menoleh ke arahnya.


"Beneran, Mas?"kapan masaknya? kok cepat banget."


"Tadi, pas kamu masih tidur."sahutnya.


"Menu andalan ya, Mas."Andini terkekeh.


"Hehe he... kalau mau menu yang lain, kita ke resto aja!"ajak Dimas.


"Nggak usah, nasi goreng juga udah cukup. yuk sarapan!"Andini menggandeng dengan suaminya menuju meja makan. Terlihat dua orang asisten rumah tangga tersenyum, melihat sang majikan begitu romantis.


Wanita itu segera mengambil sendok, keduanya duduk menghadap sepiring nasi goreng dan makan bersama, sepiring berdua.


"Mumpung hari Minggu, aku tidak pergi ke kantor dan juga ke resto, kira-kira Kamu mau pergi ke mana Sayang?"tanya Dimas sambil menikmati nasi goreng sederhana buatannya.


"Kemana ya, Mas? kalau nonton kamu mau nggak?"Andini balik bertanya.


"Nonton apa?"


"Kita nonton film romantis di bioskop. ada film terbaru loh, Mas."jawab Andini dengan wajah berbinar.


"Oke, ayo aja,"balas Dimas yang membuat senyum istrinya semakin merekah.


"Tapi nonton film romantis ya! Awas kalau tiba-tiba kamu mengajak nonton film horor kayak dulu."Andini mengerucutkan bibirnya.


"Dulu Aku cuman mau ngerjain kamu doang."pria berwajah teduh itu terkekeh.


"Kan, mana waktu pakai bilang ada setan di samping aku segala,"tutur Andini kembali dengan bibir yang semakin mengerucut saat mengingat dirinya dan Dimas di awal pernikahan mereka.


"Hahaha.... tapi endingnya kamu memeluk aku kan!"di Master tawarnya.


"Itu memang tujuan kamu Mas. modus banget, mana tukang nyosor lagi."gerutu Andini.

__ADS_1


"Tapi sekarang kamu suka, kan? Dimas mengangkat alisnya sebelah dengan bibir yang tersenyum genit.


"Suka banget, malah nggak mau jauh. Kayaknya, aku kena pelet dosen killer."


"Untuk mendapatkan hati seorang wanita tidak membutuhkan pelet. Cukup beri kasih sayang yang tulus dan jangan lupa, kasih uang yang cukup juga."di Master senyum bangga.


"Hahaha... tahu aja kalau cewek nggak cuman butuh cinta, tapi juga butuh makan."Andini menempelkan kepalanya pada lengan kekar Dimas.


"Ya, sudah. sekarang kita habisin sarapannya dan berangkat!"ajak Dimas yang membuat Andini kembali duduk dengan tegak dan menyantap nasi goreng.


Setelah itu, keduanya bersiap dan berangkat menuju sebuah Mall.


Selain ingin menonton di bioskop, Andini juga ingin membeli beberapa barang yang diincarnya.


Ia juga mengumpulkan uang pemberian Dimas untuk membeli apa yang ia inginkan. Padahal uang pemberian Dimas itu hanya untuk uang jajan Andini.


Jika Andini membutuhkan sesuatu pasti Dimas akan membutuhi nya. Apalagi Dimas begitu menyayangi istrinya.


"Mas, filmnya belum dimulai, kita ke toko itu dulu yuk! Aku mau beli sesuatu,"ajak Andini sambil menunjukkan sebuah toko yang menjual berbagai barang barang wanita.


"Mau beli apa sayang?"tanya Dimas sebelum keduanya melangkah menuju toko tersebut.


Setelah itu, dia langsung menuju ke bagian sepatu dan mengambil sebuah sepatu keluaran terbaru.


Senyumnya merekah ketika ia memperhatikan sepatu itu. dia juga memilih ukuran yang pas dan segera berjalan ke arah kasir untuk membayarnya.


"Cuma beli itu doang?"tanya Dimas yang seketika menghentikan langkah istrinya.


"Iya, Mas. Sudah lama aku pengen sepatu ini,"jawab Andini dengan senyum yang masih mengembang.


"Sudah lama? kok kamu gak ngasih tahu Mas kalau pengen sepatu itu?"


"Aku masih ngumpulin uangnya, Mas. aku sisihkan sebagian uang yang kamu kasih dan sekarang sudah terkumpul. Aku bayar dulu ya!"Andini akan kembali melanjutkan langkahnya, tetapi Dimas segera menang dengan wanita itu sampai istrinya kembali menghentikan langkah.


"Astagfirullah! jadi apa gunanya black card yang Mas kasih kepadamu, kalau tidak untuk kamu gunakan sayang. Mas bekerja untuk kamu juga dan anak-anak kita."ucap Dimas menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang seolah tidak memiliki uang untuk membeli sesuatu yang dia inginkan.


Andini mengerutkan keningnya.


"Kamu mencari uang itu tidak mudah, Mas. jadi aku tidak ingin boros boros.

__ADS_1


"Jangan kamu kira suami kamu ini miskin sayang, kamu sudah mengetahui yang sebenarnya tentang suami kamu. Tapi kamu masih berlaga seperti orang yang tidak mampu membeli sesuatu."ucap Dimas sembari langsung berjalan menuju kasir dan membayar sepatu Andini.


"Ingat Sayang, semua kebutuhan kamu itu tanggung jawab Mas. Termasuk pakaian, dan semua apa yang kamu inginkan. uang yang kamu punya simpan Saja."


"Nggak apa-apa, Mas. Aku punya uang sendiri kok."tolak Andini.


"Pakailah uang suamimu sebelum dipakai orang lain."tutur Dimas sambal terkekeh.


"Maksudnya? Andini menatap suaminya dengan wajah bingung.


"Kalau kamu tidak mau memakai uang suamimu, jangan menyesal kalau ada wanita lain yang memakai uangnya,"jawab Dimas dengan tawa tertahan.


"Enak aja! amit-amit jabang bayi. Maksudnya, kamu mau selingkuh gitu? kamu mau ngabisin uang kamu buat jajan di luar, gitu?!"sergah Andini dengan wajah penuh amarah.


"Hahaha... bercanda, sayang. Aku hanya tidak ingin dibilang suami pelit, kere, membiarkan istrinya membayar belanjaan sendiri."Dimas merangkul bahu wanita itu dengan mesra.


"Benar?"nggak ada niat buat ngasih uang ke cewek lain? nggak ada niat buat jajan di luar? nggak ada niat buat celak celup selain nyelupin teh kantong mother your child?"tanya Andini beruntun.


Namun, Dimas malah ingin tertawa ketika mendengar pertanyaan istrinya.


"Iya, sayang. Aku tidak mau mencoba rasa lain, takut tidak cocok,"jawab Dimas dengan bibir yang tersenyum tipis.


"Yakin? kalau ada yang cocok gimana?"Andini menatap wajah suaminya dengan intens.


"Nggak mungkin lah, Aku kan nggak mau nyoba yang lain, Jadi tidak mungkin menemukan yang cocok selain kamu."


"Bener ya! Awas aja kalau ingkar, dua telurnya aku potong, bakal aku jadikan bakso!"ancam Andini dengan wajah yang dibuat sesangar mungkin.


"Wow, istriku psikopat!"Dimas kembali terkekeh.


"Aku bisa jadi apa aja, tergantung pemesanan,"jawab Andini yang membuat Dimas tertawa dengan tangan yang mengusap lembut bahu sang istri.


Sementara kasir itu hanya tersenyum melihat tingkah suami istri itu.


Bersambung...


sambil menunggu karya ini update kembali, Monggo mampir ke karya baru emak. " Divorce on the wedding day.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2