Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 102. STOK SABAR


__ADS_3

Tidak berapa lama setelah mereka meninggalkan toko ponsel itu, mobil yang dikendarai Dimas telah berhenti di sebuah rumah. Rumah minimalis dengan konsep modern itu terlihat cantik dan rapi dari luar.


Andini dan Dimas langsung turun dari mobil dan mata keduanya disambut dengan sebuah mobil berwarna metalik, yang terparkir di halaman rumah mereka.


Dimas Tahu betul itu adalah mobil adiknya Erin.


Dimas menggandeng tangan Andini dan berjalan ke arah teras rumah mereka, yang telah berdiri seorang wanita dengan balutan dress sebatas lutut.


"Erin! panggil Dimas ketika melihat adiknya berdiri di depan pintu rumah.


"Kakak lama banget sih! Aku sudah lama menunggu di sini sudah sampai jamuran!" kesal wanita itu dengan mata memicing.


"Kamu mau ke sini nggak ngabarin Kakak dulu."


"Sengaja! itu apaan? ponsel baru ya? cerocos Erin Seraya merebut paper bag itu dari tangan Dimas.


" Erin! ini punya Kak Andini. " Dimas merampas kembali paper bag itu dari tangan Erin dan membuat Gadis itu langsung menatap tak suka ke arah Andini yang juga sudah memanas.


"Beliin istri terus. Aku kapan dibeliin?


"Ini ponsel jadul! Aku pengen yang kayak gitu. " Erin menunjukkan ponselnya ke arah Dimas.


Andini hanya membuang nafas kasar sambil mengusap dada, menambah kesabarannya. Padahal tadi saja saat di toko ponsel, dirinya sudah dibuat Kesal oleh temannya Dimas. Saat ini Ditambah lagi dengan kehadiran Erin dan kata-kata Erin yang membuatnya semakin kesal.


"Makanya kerja! kamu sudah dewasa, jagain Resto. Kasihan papa kalau harus tetap memantau Resto. Papa yang ke kantor papa juga yang ke Resto, dengan adanya kamu kamu bisa mengurangi pekerjaan Papa. Bukan malah keluyuran."


"Kakak lah yang harusnya jaga Resto dan ke kantor."


" Kakak ngajar, sambil memantau perkembangan kampus Dek! " kamu yang seharusnya gantiin papa.


"Ogah! mending aku kerja di London, buat apa aku kuliah di London Kalau ujung-ujungnya cuman jaga Resto kayak gitu." wanita itu memutar bola matanya dengan angkuh.


"Terserah! yang penting kamu nggak jadi pengangguran. percuma kuliah di London kalau ujung-ujungnya jadi pengangguran."


"Kakak berisik kayak papa."


Erin mengusap Telinganya yang memanas. Dia tidak menyadari kalau yang membiayai kuliahnya itu adalah Tuan Anggara, tapi setiap kali Tuan Anggara menasehatinya, dia selalu membantah dan selalu ada jawaban membuat Tuan Anggara merasa gagal mendidik putrinya.


" Terus kamu ngapain ke sini?

__ADS_1


"Minta uang! Papa tidak mau memberiku uang lagi. bahkan kartuku diblokirnya. Sudah satu minggu Kakak nggak ngasih aku uang." Erin menengadahkan tangannya ke arah Dimas.


" Papa memblokir card kamu, agar kamu mengetahui bagaimana susahnya mencari uang. Jangan tahunya menghabiskan uang saja. Kamu ini sarjana lulusan London, masa kamu tidak ingin membantu Papa di kantor? papa itu sudah tua, sudah waktunya pensiun. Seandainya Kakak memiliki waktu lebih, Kakak akan sering-sering datang ke kantor. Tapi Kakak sibuk mengajar di kampus dan memantau perkembangan kampus."ucap Dimas panjang lebar


"Nggak usah berisik Kak! sekarang Mana uangnya."


Dimas menggelengkan kepala menatap adiknya dengan tatapan kesal.


"Uang terus, buat apa sih Dek? tanya Dimas dengan kesal.


Sementara Andini Hanya Jadi pendengar dengan amarah tertahan.


Dia tidak mau terlalu ikut campur yang hanya akan membuat Erin semakin tak suka padanya.


" Iya buat kebutuhan aku lah Kak."


"Harusnya pengangguran itu tidak boleh punya kebutuhan."


" Kakak ngeselin banget sih. Tuh istrinya Kakak kan pengangguran, tapi dia malah Kakak belikan ponsel baru. Dasar pilih kasih! "


Tangan Andini sudah mengepal, Ia berusaha menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar dan menjambak rambut adik iparnya itu.


Dimas lebih memilih menghentikan perdebatan itu, daripada Malah semakin panjang.


Dimas Tahu adiknya sudah kurang ajar dan perlu diberi pelajaran.


"Pulanglah, ngapain Di Sini. wanita itu mengibaskan rambutnya dan berjalan dengan Anggun ke arah mobilnya.


Setelah Erin pergi, Andini langsung membuka kunci rumah dan masuk terlebih dahulu.


" Andini Maafkan sikap Erin, tadi ya." ucap Dimas Seraya mengejar langkah istrinya yang masuk ke dalam kamar.


"Iya! Aku punya stok maaf satu gudang. Bahkan aku punya pabrik maaf.


" Kamu marah sama Erin?


" Kalau aku jawab iya, kamu mau apa? wanita itu menengadahkan wajah menatap ke arah suaminya yang sudah tampak emosi dan kesal


" Sekali lagi maaf, Erin memang harus diberi pelajaran biar lebih bisa menghormati kamu."

__ADS_1


"Beri pelajaran sana! katanya dosen, kok ngajarin adik sendiri nggak bisa! "


"Erin memang sedikit bebal. Dulu Cuman Mama yang bisa berbicara dengan baik padanya. Aku dan Papa tidak bisa berbicara selembut Mama yang bisa didengar Erin. Namun sayangnya Allah lebih sayang sama Mama dan memisahkannya dari kami, "


Erin baru masuk SMA ketika Mama Tiada dan....., Saat itu pula, Erin mulai berubah. Ia seperti mencari sosok seorang ibu dari orang lain. Mencari kasih sayang seorang ibu yang tidak bisa aku dan papa berikan."wajah Tampan itu terlihat Sendu.


" Sudahlah, Erin menginginkan ponsel itu tadi, berikan saja itu ponselnya. Biar aku beli sendiri nanti ponselku. Lagian uang tabungan ku masih badan ada hasil adu balap sebelum sebelumnya, yang aku tabung untuk kuliah S2 di luar negeri, tapi sayangnya keburu di nikahkan." ucap Andini masih dengan nada sangat kesal


"Nggak bisa gitu, kamu mengira aku tidak bisa membeli ponsel untuknya? hanya saja Aku ingin memberikan pelajaran kepadanya, karena dia sudah keterlaluan dan tidak tahu cara menghargai orang lain.


" Sudahlah, aku pun nggak mau lagi memakai ponsel itu, Kalau ponsel yang mas belikan itu menjadi perdebatan." ucap Andinin sambil langsung keluar dari dalam kamar.


Dimas mengikuti langkah istrinya. " Kamu mau ke mana? tanya Dimas kepada Andini.


"Tidak mau kemana-mana, hanya saja Aku ingin mencoba berdamai dengan hatiku." sahutnya dengan nada sewot


Andini duduk di teras rumah, sore hari yang indah banyak para tetangga yang berlewatan karena sudah pada pulang bekerja.


Ada beberapa ibu-ibu tetangga yang bertegur sapa dengan Andini, Andini menyahuti mereka dengan ramah.


" Wah, lagi santai nih neng?" ucap seorang ibu paruh baya bertegur sapa dengan Andini.


" Iya Bu, sedikit melelahkan hari ini. Jadi aku memilih untuk duduk dan istirahat di sini, singgah Bu." ucap Andini sambil mengembangkan senyumnya.


Wanita paruh baya itu pun akhirnya singgah dan duduk berdampingan dengan Andini di teras rumah mereka.


Keduanya saling bercerita, banyak nasehat yang diberikan oleh ibu paruh baya itu untuk Andini yang baru memulai Biduk rumah tangga. Andini mengembangkan senyumnya, bersyukur memiliki tetangga seperti ibu Sinta.


" Andini hanya manggut-manggut saja, ketika mendengar sang Ibu paruh baya itu. Banyak faedah dari Nasehat Ibu Sinta untuk Andini. Agar lebih besar di dalam menjalani biduk rumah tangga yang masih baru beberapa bulan ia jalani.


Dimas mendengar apa yang dibicarakan istrinya dengan ibu Sinta, Dimas pun mengambil faedah Apa yang diucapkan oleh ibu Sinta kepada Andini. walaupun ibu Sinta dan Andini tidak mengetahui kalau Dimas mendengar apa yang mereka bicarakan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK

__ADS_1


__ADS_2