Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 40. JIWA SOSIAL TINGGI


__ADS_3

Setelah mereka melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian, membelah jalanan ibukota. Kini mereka sudah tiba di sebuah jembatan layang di mana anak-anak jalanan sering berkeliaran di sana.


Ada yang mengamen, ada yang cari barang-barang bekas, ada yang berdagang asongan, ada yang jualan koran semuanya bercampur aduk di sana. Mereka anak-anak yang tidak beruntung.


Di samping tingkah anak-anak geng motor club yang dipimpin oleh Morris yang selalu dipandang orang bertingkah urakan. Tapi Siapa yang tahu, niat hati mereka sangat tulus dan baik untuk membantu para anak-anak jalanan yang kurang beruntung.


Sebelum mereka tiba di sana, mereka membeli beberapa bungkus makanan yang layak untuk diberikan kepada anak-anak jalanan yang kurang beruntung itu. Tampak Andini menghentikan motor CBR miliknya, diikuti dengan ketiga temannya.


"Hai semuanya...." Panggil Andini. Ya, nama Andini sangat dikenal para anak-anak jalanan di sana karna ia sering sekali mengajari mereka dan juga membagi bagi rejeki untuk mereka.


"Kak Andini......! teriak seorang anak kecil Memanggil nama Andini dengan histeris sambil berlari memeluk Andini. Jika diperkirakan anak kecil ini berusia sekitar enam tahun.


Kedekatannya dengan Andini cukup dekat. Ya, anak-anak jalanan di sini selalu mengharapkan Andini datang menghampiri mereka. karenanya Andini kerap sekali memberikan makanan atau apa saja yang dapat membantu anak anak jalanan.


Sering sekali juga Andini memberikan buku-buku bacaan, dan buku tulis serta alat tulisnya. Berharap anak-anak jalanan yang ada di sana dapat membaca walaupun mereka tidak sekolah.


Tidak berapa lama, anak-anak jalanan di sana sudah pada berkumpul, mengelilingi Andini, Morris, Robert dan Rian. Sementara dari kejauhan Dimas masih memperhatikan gerak-gerik Andini bersama ketiga temannya.


Dimas mengerutkan keningnya ia melihat kedekatan Andini dengan anak-anak jalanan yang ada di sana. Membuat Dimas mengerutkan keningnya. Ia bingung Mengapa sang istri bisa begitu dekat dengan anak-anak jalanan itu, apalagi ketika Andini membagikan makanan yang mereka beli sebelumnya.


Tampak anak-anak jalanan itu mengenal dekat Andini. Di sana ada sorak kegirangan menyambut kedatangan Andini dan ketiga temannya. Setelah membagikan makanan itu, mereka makan bersama.


Andini mengembangkan senyumnya menatap anak-anak jalanan tersenyum bahagia mendapatkan makanan, yang tentunya itu tak seberapa dibandingkan harta kekayaan yang dimiliki oleh Morris. Begitu juga dengan ketiga temannya.


Tapi, tidak seperti Andini. Andini yang notabennya terlahir dari keluarga sederhana, ia merasa bersyukur akan apa yang ia dapatkan saat ini. Apalagi melihat kondisi anak-anak jalanan yang ada di hadapannya. hingga bulir bening mengalir begitu saja di wajah cantik Andini, memperhatikan beberapa orang anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, tapi mereka terpaksa harus mengais rezeki dengan sendiri agar mereka dapat makan.


Sungguh miris, hati kecil Andini berkata ia benar-benar merasa kurang bersyukur telah memiliki kedua orang tua, Opa dan keluarga yang begitu menyayanginya.


Beberapa menit kemudian setelah anak-anak itu selesai menyantap menu makanan yang mereka bawa sebelumnya. Tampak Andini dan ketiga temannya menyempatkan diri untuk mengajari anak-anak untuk sekedar baca tulis. Dan sepertinya mereka disambut hangat oleh para anak-anak jalanan itu.

__ADS_1


Morris melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Ia Pun meminta kepada Andini untuk menyudahi acara mereka mengajari anak-ana, setelah beberapa menit melakukan proses belajar mengajar membaca, tulis.


Dari kejauhan Dimas mengembangkan senyumnya. "Ya Allah dibalik tingkah Andini yang seperti itu, ternyata jiwa sosial istriku begitu tinggi."gumam Dimas dalam hati sambil mengembangkan senyumnya. Tapi ia juga merasa khawatir kalau Andini benar-benar meninggalkannya.


"Ya udah kita balik ya woi, lain kali saja kita makan-makannya lagi. Aku janji deh Besok kita makan besar. Kalau tidak, untuk kamu Robert dan Rian aku TF aja deh, yang aturan uang makan besar kita sore ini. Soalnya aku ingin menjemput Ibu dan Ayah aku di bandara yang baru datang dari California. Mereka sudah mengirim pesan kepadaku."ucap Morris Tidak enak hati kepada temannya.


"It's okay no problem!"sahut Andini


"Iya, ya no problem, uang tunai aja juga bagus tuh." sahut Rian sambil terkekeh.


"Ya sudah kalau begitu, sudah aku TF masing-masing satu juta rupiah." ucap Morris sambil menunjukkan layar ponselnya kalau dirinya sudah mentransfer uang ke masing-masing kedua sahabatnya. Karena sebelumnya Morris berjanji ingin mentraktir mereka makan besar dia salah satu restoran ternama yang ada di kota ini


"Thank you bro, ucap Rian dan Robert secara bersamaan. Sementara Andini hanya mengembangkan senyumnya lalu menggelengkan kepala.


Morris meninggalkan ketiga temannya terlebih dahulu, diikuti dengan Andini. Saat ini tujuan Andini ingin langsung ke rumah kedua orang tuanya. Ia tidak ingin kembali ke rumah yang selama ini mereka tempati bersama suaminya.


Ada rasa takut di hatinya, kalau Dimas akan melakukan hal yang sama seperti malam tadi. Karena, ia tiba-tiba teringat akan perlakuan kasar Dimas. Di sepanjang perjalanan Andini meremas jemarinya, rasa takutnya semakin bertambah.


Andini segera memarkirkan motornya, dan Ia pun segera turun berlari ke dalam rumah kedua orang tuanya.


"Mama! teriaknya Seraya memeluk sang ibu.


"Astagfirullah. Kamu ngagetin aja."Nyonya Laras menepuk tangan Andini yang sedang memeluknya.


Andini sama sekali tidak merespon omongan sang ibu, Andini menangis sambil meluk tubuh ibunya dengan erat.


"Kamu kenapa?


datang-datang Kok nangis."wanita paruh baya itu melepaskan pelukan sang putri dan melihat wajah sebab anaknya.

__ADS_1


"Dimana suamimu?


"Mama jangan tanyakan dia!"sangkal Andini Seraya mengusap air matanya yang kasar.


"Assalamualaikum,"ucap seseorang yang baru masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam. Nak Dimas, baru juga ditanyain."


Dimas mendekat dan mencium punggung tangan mertuanya.


Andini terhenyak. Ia bingung Mengapa tiba-tiba Dimas ada di sana. Andini memicingkan mata ketika Dimas melihat ke arahnya.


"Ini Andini kenapa menangis begini? tidak biasanya anak cerewet ini nangis."Ibu Laras menatap ke arah putrinya dengan heran.


"Ma, jangan biarin dia ngikutin Andini lagi!"Andini itu membalikkan badan dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Andini Kenapa sih? dan motor yang dibawanya motor siapa tuh? bukankah motornya masih berada di garasi ini? tanya ibu Laras dengan wajah bingung.


"Ma, Saya sangat minta maaf. Mungkin ada perbuatan saya yang membuat Andini tidak nyaman, tapi saya ingin memperbaiki semuanya. Izinkan saya menemui Andini Ma."pinta Dimas.


"Oh,begitu. Ya sudah kalau ada masalah selesaikan dengan baik-baik ya. Kalau Andini bebal jangan sungkan panggil mama aja, Nanti mama bantu."ucap Ibu Laras yang mengetahui bagaimana watak putrinya.


"Iya Ma. Terima kasih."Dimas segera melangkah dengan lebar menuju kamar sang istri.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2