Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 269. BABY ROBERTO DECAPRIO.


__ADS_3

Setelah mengetahui Mariska lahir dengan selamat dan mendapat izin dari dokter, semua keluarga Robert dan Mariska masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk Mariska dan bayinya.


"Mama!"teriak Mariska saat ibunya masuk ke dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah, anak mama sudah menjadi seorang ibu. Selamat ya sayang."mamanya Mariska mendekat ke arah sang putri.


Mariska langsung memeluk tubuh ibunya dengan sudut mata berembun.


"Ma, ternyata melahirkan itu sakit ya! Mariska jadi teringat perjuangan Mama saat melahirkan Mariska. Mariska minta maaf ya Ma. selama ini Mariska pasti banyak salah,"ucap wanita itu dengan nada sendu


Mariska mencium tangan ibunya beberapa kali dengan air mata haru yang kembali menetes.


"Melahirkan itu sudah kodrat seorang wanita. sudah, jangan sedih-sedih lagi, Mama mau lihat cucu mama, mana?"


"Tuh, lagi tidur kayaknya."Mariska menunjuk arah seorang bayi mungil yang sedang memejamkan mata di sampingnya.


Mamanya Mariska langsung mendekat ke arah sang cucu dengan wajah berbinar, begitupun dengan papanya Mariska yang tak sabar ingin melihat cucu pertama mereka.


"Loh, kok mirip Robert?"Ciledug mamanya Mariska Seraya menoleh ke arah menantunya yang berdiri tak jauh dari sana.


Mamanya Robert dan adiknya ikut mendekat, mereka juga penasaran dengan rupa anak Robert dan Mariska.


"Masa sih Ma? orang mirip oppa Korea."timpal Mariska.


"Oppa Korea dari mananya? orang semuanya mirip Robert bikini,"sangkal mamanya Mariska.


"Mirip oppa Korea dari telinganya,"tambah Robert yang sedari tadi hanya mendengar celotehan mertuanya.


"Iya, hanya telinga sama kukunya doang. sisanya mirip kamu semua."balas mamanya Mariska sambil memutar bola matanya.


"Ya, kan bapaknya juga Robert, Ma. kalau mirip Pak Udin malah patut dicurigai."timpal Robert kembali.


"Pak Udin siapa?"mamanya Mariska mengerutkan keningnya.


"Itu tukang ngangkut sampah tiap pagi di komplek,"balas Robert santai


"Jangan ngaco kamu! timpal mamanya Mariska dengan wajah kesal.


"Lagian, Mama ada-ada saja. lihat muka anak Robert mirip sama Robert kok malah kaget."balas pria itu kembali yang sedikit jengkel ketika mendengar ucapan mertuanya.


"Maksud Mama tuh memperbaiki keturunan dikit kenapa? yang wujudnya kayak gini kan udah ada."

__ADS_1


"Mama! apa-apaan sih? Lagian apanya yang salah dengan anak Mariska? semuanya lengkap dan sehat,"celetuk Mariska dengan nada tak suka.


"Benar kata Mariska, harusnya Mama lebih hati-hati dalam berbicara. ini cucu pertama kita loh,"timpal Papanya Mariska yang membuat mamanya Mariska terdiam dengan wajah jutek.


"Sudah, kalau Ibu nggak Mau gendong, biar saya saja yang gendong cucu saya,"ucap mamanya Robert yang juga merasa tak nyaman dengan ucapan besarnya barusan.


"Idih, apaan? entar yang ada cucu saya malah jatuh lagi digendong situ. berdiri aja nggak bisa, sok-sokan Mau gendong bayi."sinis mamanya Mariska.


Mamanya Robert hanya mengelus dada, yang harus bersabar ketika menghadapi tulisannya itu.


"Oaaa.....oek....."tangis bayi terdengar memecah suasana. anak Robert dan Mariska membuka matanya dan menangis kencang.


"Tuh, kan dedeknya bangun aja,"Mariska menatap kerap bayi yang masih merah itu.


"Biar aku ambil sayang. kayaknya dia pengen nyusu."Robert mengangkat putranya dengan hati-hati dan membawa ke arah Mariska.


"Nih, coba kamu sesuai dulu."Robert menyerahkan bayi mungil itu ke dalam pangkuan istrinya. Mariska membuka kancing bajunya dan mencoba menyusui sang anak


" Aw, geli banget,"ucap Mariska saat bayi mungil itu mulai menghisap ASI nya.


"Masa sih geli sayang, bukannya udah biasa?"Ciledug Robert yang langsung mendapat tatapan horor dari sang istri.


"Nggak boleh gitu Sayang. kasihan anak kita, dia pasti lapar, sudah 9 bulan di perut, baru mau nyobain susu."temple Robert.


"Tapi ASI nya Nggak keluar Robert, percuma.


"Terus gimana dong?"tanya Robert dengan wajah bingung


Bayi mungil itu kembali menangis, karena tak setetes ASI pun yang didapatkannya.


"permisi Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu? tanya seorang suster yang baru masuk ke dalam ruangan itu.


"Sus, anak saya sepertinya pengen nyusu, tapi ASI istri saya nggak ada,"keluh Robert dengan segera.


"Kalau baru melahirkan memang seperti itu, ada sebagian ibu yang memiliki ASI kurang subur. Tapi tenang saja, kita bisa bantu dengan memberikan susu formula,"jelas suster itu membuat Robert dan Mariska membuang nafas lega.


Bayi Mereka terus-terus menangis, sampai setelah diberikan susu formula, baru bayi mungil itu terdiam.


"Sayang, anak kita belum dikasih nama."ucap Robert


"Oh iya. Aku sampai lupa loh."Mariska menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Gimana kalau namanya Roberto Decaprio."ucap Robert.


"Iya Sepertinya itu nama yang bagus."timpal Papanya Mariska


"Kalau mama setuju aja, nama anak dan semuanya itu hak kalian. sudah melihat anak kalian lahir dengan sehat dan selamat saja, Mama sudah bersyukur banget."ucap mamanya Robert dengan wajah terlihat teduh.


"Terima kasih Ma. Mama juga sehat-sehat ya, biar bisa gendong dedek Roberto."Robert memegang kedua bahu ibunya yang duduk di atas kursi roda.


Mamanya robek hanya membalas dengan senyuman, wanita paruh baya itu mengusap lembut tangan Sang putra yang menempel pada kedua bahunya.


***


"Mas, kamu capek nggak?"tanya Andini saat suaminya baru tiba di rumah.


Waktu sudah menunjukkan sore hari, Dimas baru pulang dari kantor, Karena setelah dari kampus sebentar untuk memantau perkembangan kampus, dia langsung pergi ke perusahaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan.


"Kenapa sayang? tumben kayak gitu?"Dimas balik bertanya, pria itu mah tatap istrinya dengan wajah heran.


"Emmmm ... kalau kamu nggak capek kita ke rumah sakit ya!" ajak Andini dengan nada sedikit ragu.


Namun, hal itu malah membuat Dimas semakin mengerutkan keningnya.


"Ke rumah sakit? Kamu sakit apa? perasaan ini bukan jadwal kamu check up."


"Bukan aku yang sakit Mas. kita ke rumah sakit buat melihat anaknya Robert, si Mariska sudah lahiran lho,"tutur Andini dengan wajah berbinar.


Entah kenapa, saat mendengar sahabatnya telah melahirkan, dia begitu senang seperti dirinya sendiri yang baru saja lahiran.


"Beneran? kapan? seketika raut wajah Dimas berubah menjadi berbinar.


"Tadi siang. Makanya kalau kamu nggak capek, kita ke sana sekarang. aku udah nggak sabar pengen lihat anaknya si Mariska sama Robert. Ryan juga mau ke sana sama Kak Herlan, sebenarnya... kita sudah janjian mau ke sana bareng." tutur Andini dengan wajah menunduk.


"Ya, udah ayo kita ke sana sekarang! tapi aku mau mandi dulu, badan aku lengket banget, bau ketek lagi."Dimas mengangkat kedua tangan, menunjukkan ketiaknya yang terlihat basah oleh keringat.


"Ih jorok banget Mas. lihat deh sampai masa gitu kemejanya."Andini menuju Dimas tanpa menyentuhnya.


"Belakangan ini, siang sampai sore panas banget, Makanya kalau nggak di ruang ber-ac pasti keringat banyak. ini aja, Padahal baru keluar dari mobil langsung keringat gini."


"Ya udah mandi dulu sana! biar aku siapkan bajunya."Andini mendorong punggung suaminya agar masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2