
Mobil Dimas masih terparkir, suami Andini belum pulang.
"Woy, buruan!"teriak Robert yang melaju bersama dengan Rian.
Kedua pemuda itu menjalankan motornya terlebih dahulu yang langsung disusul oleh Mariska.
Tanpa berpikir panjang lagi, Andini mengambil helm itu dari tangan Bima dan memakainya dengan cepat.
Setelah memastikan Andini naik ke atas motornya, pria itu langsung menjalankan roda duanya.
"Din, pegangan aja takut jatuh! aku sedikit ngebut ini, untuk mengejar-ngejar tuh anak."teriak Bima saat mulai menambahkan kecepatan laju motor CBR nya.
"Sorry ya,"ucap Andini Seraya melingkarkan tangannya pada perut Bima.
Gadis itu tersenyum merekah, Akhirnya ia kembali merasakan berboncengan selepas pulang dari kampus.
Biasanya dia dibonceng oleh Bagas dan diantar pulang sampai ke depan rumah. Kalau tidak dia bawa motor ninja warrior miliknya, yang ia gunakan biasanya balap liar dengan teman teman geng motornya.
Namun, Setelah sekian lama semenjak Bagas jadian dengan Almira, sosok Bima datang seolah menggantikan posisi Bagas saat ini menjadi teman dekat Andini.
Sikap dan gaya Bima hampir sama dengan Bagas, hal itu pula yang membuatnya nyaman berada di dekat pria yang baru dikenalnya belakangan ini.
Andini seolah lupa kepada Dimas yang sedang menghubunginya beberapa kali.
Iring-iringan ketiga motor itu berhenti di sebuah Cafe. Tempat langganan mereka nongkrong.
Rian dan Robert memimpin masuk ke dalam cafe yang tidak terlalu ramai itu.
Mereka memilih meja paling pojok belakang agar lebih nyaman. Mengingat saat ini Andini harus mengerjakan soal hukuman yang diberikan oleh Dimas kepadanya.
Setelah duduk di kursi masing-masing, mereka Langsung memesan makanan dan minuman.
Sementara Andini mulai mengerjakan tugasnya. Tidak bisa dipungkiri kecerdasan dan kepintaran Andini tidak ada imbangnya di antara teman-temannya. Sehingga dalam waktu yang singkat, Andini menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh Dimas kepadanya.
Jika Almira menggerutu dan tampak kesal mendapatkan hukuman itu, berbanding terbalik dengan Andini. Ia merasa bahagia mendapatkan hukuman sekecil itu menurutnya. Tapi menurut Almira itu hukuman yang sangat besar.
Sekitar kurang lebih satu jam lamanya. Andini menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh Dimas kepadanya. Hingga akhirnya ia pun kembali bisa nongkrong bareng bersama teman-temannya.
Sesekali gelak tawa terdengar dari sekumpulan mahasiswa itu. Bima senantiasa terus menatap Andini, Entah mengapa pria itu begitu senang melihat tawa Andini yang begitu lepas.
Tiba-tiba suara deringan ponsel milik Andini terdengar
"Ponsel siapa tuh, yang bunyi? tanya Rian Seraya melihat keras temannya satu persatu.
"Bukan ponsel aku." balas Mariska.
"Ponsel aku juga bukan," timpal Ran.
"Ini ponsel aku."Andini mengambil ponselnya dari tasnya. Netranya membulat ketika melihat Siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
Nama Dimas P
terpampang nyata pada layar ponselnya. Andini segera menutup layar ponsel itu dengan telapak tangan sebelum teman-temannya melihat.
"Siapa Din? Kok nggak diangkat? tanya Mariska yang duduk di.
"Enggak ini Mama aku nelpon, meminta aku untuk segera pulang. Andini segera mereject telepon dari suaminya.
Tak lama ponselnya kembali bergetar.
Namun, kali ini yang masuk hanya sebuah pesan saja.
"Kamu di mana ?Jam segini belum pulang." pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Dimas kepada Andini istrinya.
Setelah membaca pesan singkat itu, Andini langsung melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, ternyata mereka sudah cukup lama berada di cafe.
"Woi aku balik duluan ya. Soalnya mama aku nyariin nih."pamit Andini Serayu memasukkan lembaran kertas soal ke dalam tas dengan buru-buru.
"loh Memangnya sudah selesai?"tanya Mariska
"Sudah kok, tenang saja kamu seperti tidak tahu aja aku."sahutnya sambil mengembangkan senyumnya.
"Kebiasaan ini anak, pulang duluan. Ya sudah kita semua cabut aja, yuk!"ajak Rian yang langsung membuat semua teman-temannya bangkit.
"Nggak usah Bim, aku lagi buru-buru."
"Justru karena kamu buru-buru makanya aku antar. Kalau nunggu taksi atau ojek online malah kelamaan.
"Iya Din, pulang bareng Bima aja. Lagian ini sudah sore entar kamu kelamaan."ucap Mariska
Andini menghela nafas panjang kemudian Ia pun menyetujuinya.
Setelah itu mereka melaju dengan roda dua meninggalkan kafe.
Langit yang mulai merah membuat Bima semakin mempercepat laju motornya. sehingga mereka tiba lebih cepat.
Seperti biasa, Andini menghentikan motor Bima dari jauh.
Ia tak membiarkan pemuda itu mengantarnya sampai ke depan rumah. Takut Dimas melihatnya.
"Thanks ya, kamu hati-hati di jalan!"Andini segera turun dari motor dan menyerahkan helm kepada Bima.
"Kamu juga hati-hati,"balas Bima lalu menjalankan kembali roda duanya.
Andini berlari sekencang mungkin menuju rumah. Gadis itu menghembuskan nafas lega, kali ini Dimas tidak menghadangnya di depan gerbang.
Andini segera masuk ke dalam rumah secara diam-diam, berharap Dimas tidak mengetahui kedatangannya.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"suara bariton seseorang hampir saja membuat jantungnya copot.
Gadis itu langsung menghentikan langkah dan membalikkan badan perlahan.
Matanya membulat ketika melihat Dimas sedang berdiri dengan tatapan tajam dengan tangan bersedekap di dada.
"Kenapa jam segini baru pulang? tanyanya kembali dengan wajah datar.
"Emmm .. tadi saya habis ngerjain tugas dari bapak di luar."Andini meremas jarinya aura negatif sudah dirasakannya.
"Memangnya siapa yang menyuruh kamu mengerjakan tugas itu di luar ?"tanya Dimas kembali dengan Tatapan yang semakin menusuk.
"Tidak ada yang menyuruhnya. Tapi saya lebih memilih mengerjakan tugas di luar supaya lebih rileks dan dapat mengerjakannya dengan nyaman."
"Mengerjakan tugas di luar, nongkrong bersama teman-temanmu dan pulang bersama laki-laki lain. Begitu?"
Degh....
Jantung Andini semakin berdebar kencang, desiran darahnya seolah terhenti. Ia bingung dari mana Dimas mengetahui kalau ia pulang bersama Bima.
"Saya pulang bersama laki-laki, tapi itu tukang,"elak Andini masih berusaha membela diri.
"Tukang ojek dan kamu melingkarkan tanganmu pada perut tukang ojek itu?"
Andini tersentak ketika mendengar ucapan suaminya. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi tapi ia sebisa mungkin untuk mengelak.
"Bapak Ini apaan sih? saya kan cuman mau ngerjakan tugas di luar biar nggak boring."kesel Andini.
"Kenapa kamu tidak izin terlebih dahulu sama saya?".
"Ya ampun ribet banget, harus izin segala. saya juga pulang kan, nggak nginep."
"Andini setidaknya kamu menghargai saya sebagai suamimu. Biasakan kalau mau pergi itu izin dulu sama suami."wajah Dimas itu mulai terlihat kesal menatap istrinya bertingkah sesukanya.
"Apa-apaan harus izin gak bebas banget."
"Saya masih memberi kamu kebebasan loh. saya mengijinkan kamu nongkrong bersama teman-teman kamu, tapi dengan satu syarat izin dulu dan taati peraturan saya. Kalau saya bilang pulang jam segitu, kamu harus pulang jam segitu. Tolong hargai saya sebagai suamimu."tegas Dimas membuat mata Andini memanas, dadanya terlihat naik turun menahan tangis dan kekesalan.
"Kenapa jadi ribet seperti ini sih? seharusnya Bapak tuh menikah dengan wanita yang lebih dewasa, yang mau diam di rumah. Bukan mahasiswa seperti saya, yang punya kegiatan di luar. Apalagi saya wanita yang bertingkah urakan. Bapak sudah mengetahui kebiasaan buruk saya, Mengapa tetap mau menikah dengan saya? ucap Andini dengan nada sendu.
"Saya tidak pernah menuntut kamu menjadi wanita seperti itu. Saya hanya meminta dua hal izin dan menurut."tegas Dimas dengan penuh penekanan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1