
"Hoek...."suara itu menghentikan gerakan Andini yang sedang memoles wajahnya. Ia tahu, suara itu berasal dari kamar mandi.
Andini segera bangkit dan menerobos pintu kamar mandi begitu saja.
"Hoek...."suara itu kembali terdengar.
matanya membulat ketika melihat Dimas sedang muntah-muntah sambil berpegangan kepada wastafel.
Padahal ini masih pagi dan mereka belum sarapan apapun, tapi Dimas sudah muntah-muntah.
"Mas, kamu kok muntah-muntah gini?"Andini segera mendekat dan memijat tengkuk suaminya.
"Hoek...."Dimas kembali mengeluarkan isi perutnya yang memang belum terisi apa-apa.
"Ya ampun, Mas. Kok bisa sampai begini? Andini terus membantu memijat tengkuk suaminya sampai Dimas merasa perutnya tidak begitu mual lagi.
Pria itu segera mencuci mulutnya dan berdiri tegak di hadapan Andini yang menatapnya dengan wajah khawatir.
"Mas mual banget, kepala Mas juga pusing."tutur Dimas dengan wajah yang terlihat pias, buliran keringat menetes dari pelipis dan dahi pria itu.
"Kasihan banget suamiku."Andini merangkul tangan Dimas pada bahunya dan membantu suaminya keluar dari kamar mandi.
"Mas, kamu istirahat dulu. Biar aku buatkan teh hangat."wanita itu membantu suaminya merebahkan tubuh di atas kasur.
Namun, Dimas malah menarik tubuh Andini sehingga keduanya tertidur di atas kasur dengan posisi Andini yang berada di atas tubuh kekar Dimas.
"Mas, aku buatkan teh dulu!"Andini berniat bangkit, tetapi Dimas malah memeluknya dengan erat dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Di sini dulu, aku kangen."pria itu menelusupkan wajahnya pada ceruk leher sang istri dan memejamkan matanya.
"Kangen apaan? orang kita berdua terus.
"Iya kangen saja. Di sini dulu sebelum berangkat kerja.
"Loh manjanya Bapak ngidam." Andini terkekeh sambil mengusap lembut kepala suaminya.
"Mas, gak mau jauh dari kamu sayang." ucap Dimas dengan manja.
"Idih, manja banget!"
"Mas memang lagi pengen dimanja."balas Dimas sambil mengendus leher istrinya
"Mas ih! nggak pantes banget kayak gini."Andini terbahak ketika melihat tingkah manja suaminya.
"Masih mual nggak? tanya Andini dengan mata yang tertuju karena wajah Dimas.
"Lumayan Nggak, udah jam berapa sekarang?
"Sudah jam 07.00 Mas." jawab Andini setelah melihat jarum jam yang ia pakai di pergelangan tangannya.
"Mas siap-siap dulu, kita harus segera berangkat." Dimas melepas pelukannya dan bangkit dengan perlahan.
"Kamu duduk aja di sini Mas, biar aku ambilkan kemejanya." Andini bangkit dan mengambil kemeja Dimas yang telah Ia siapkan sebelumnya.
"Pakaikan!"titah Dimas sambil merentangkan kedua tangannya
__ADS_1
"Siap, bos!"Andini segera mendekat dan memakaikan kemeja berwarna biru itu pada tubuh suaminya.
"Kamu kalau disuruh memakaikan kemeja sama Alvin Jangan mau, ya!"ucap Dimas saat istrinya mulai mengancingkan kemeja itu satu persatu.
"Ya enggaklah, Mas. Ngapain harus mau, lagian Pak Alvin belum pernah tuh nyuruh aku buat memakaikan kamu jadi dia." sahut Andini.
"Bagus, aku pengen kamu segera berhenti magang, biar tidak bertemu si mata keranjang." terus tutur Dimas dengan raut yang terlihat kesal
"Tenang saja, hari ini mungkin hari terakhir aku magang di sana."
"Eh iya, udah habis masanya, ya. Alhamdulillah Kalau gitu, kamu tinggal fokus sama skripsi dan setelah itu wisuda.
"Aku minta yang jadi dosen pembimbing aku nanti kamu aja ya, Mas. Aku nggak mau sama yang lain.
"Tenang aja, Mas juga tidak akan membiarkan istri Mas dibimbing sama dosen lain, apalagi sama Pak Roni.
"Memangnya, Pak Roni Kenapa Mas? tanya Andini penasaran.
"Tidak apa-apa, cuman Mas kurang suka aja cara dia menatap mahasiswa.
"Mata keranjang juga ya, Mas?
"Bisa dibilang begitu, hampir sama dengan Alvin."
"Untung saja Mas sudah ganteng, baik, dan penyayang juga.
"Siapa lagi yang memuji kalau bukan diri sendiri ya, Mas."
"Ya kamulah, masa nggak mau muji suami sendiri." sahut Dimas
"Iya ganteng ku, sayangku, cintaku, I love you bertubi-tubi, serigala ku!"Andini mengunyal-unyel pipi suaminya dengan gemas.
***
Bang Herlan!! Rian berjalan mendekat ke arah suaminya yang sedang memasang dasi.
"Idih genit banget."Herlan melirik sekilas para istrinya yang berjalan sambil meliukkan tubuhnya.
"Abang ganteng banget sih!"Rian berdiri di hadapan Herlan dan membelai pipi suaminya.
sementara Herlan masih fokus memasang dasi sambil berkaca pada cermin besar di kamar itu.
"Abang pilih yang mana? yang atas atau yang bawah?"Rian bernyanyi dengan suara yang dibuat seseksi mungkin.
Herlan menghentikan gerakan tangannya dan langsung menatap ke arah Rian dengan wajah heran.
"Kamu kenapa sih? tanyanya dengan dahi mengerut.
"Yang atas memang asik, tapi yang bawah lebih menarik."Rian kembali bernyanyi sambil mengedipkan mata, dengan bibir yang bergerak maju mundur.
Herlan semakin heran dengan tingkah istrinya yang tidak seperti orang yang hilang kewarasan.
Pria itu mengangkat tangan dan menempelkan punggung tangannya pada dahi sang istri. "Nggak panas."gumam Herlan sambil menaruh kembali tangannya.
"Abang, gantung adek bang! sudah lama, abang tak gantung adek!"
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Kok aneh banget?"tanya Herlan kembali dengan bibir yang akan memecahkan tawa.
"Ayolah Abang, gantung adek!"
"Astaga.... dari kemarin saya tanya nggak pergi-pergi."Herlan meniup ubun-ubun istrinya yang membuat Rian langsung terdiam.
"Hahaha.... dikira aku kesurupan apa, Bang." Rian terbahak.
"Iya, kesurupan setan gila!
"Hahaha..... canda bang." Rian membenarkan dasi suaminya yang tadi belum beres.
"Kamu tuh kadang-kadang suka aneh memang."
"Aku mau sesuatu Bang, boleh nggak?
"Mau apa? Herlan menatap ke arah wajah Rian yang baru selesai merapikan dasinya.
"Aku mau makan Indomie pakai telur." jawab Rian sambil menengadahkan kepala agar tatapan mereka bertemu.
"Masih pagi, sarapan Nasi aja atau roti atau bubur gitu, nggak baik makan mie instan pagi-pagi." ucap Herlan yang membuat bibir istrinya langsung mengerucut.
"Tapi aku maunya makan Indomie Bang, pakai telur. Nggak mau yang lain, Lagian kalau sesekali doang kan nggak apa-apa, kali." ucap Rian dengan wajah memelas.
"Ya udah, tinggal buat aja di dapur. Apa mau aku yang buatkan?" tawar Herlan yang membuat bibir istrinya langsung mengembangkan senyuman.
"Aku aja yang buat, aku mau Indomie pakai telur, tapi telurnya yang kembar." ucap Rian kembali membuat dahi Herlan langsung mengerut
"Telur kembar, maksudnya telurnya dua butir gitu?"
"Bukan bang, telurnya satu butir tapi kuning telurnya dua."
"Ngaco, ini ngaco. Mana ada telur kayak gitu." Herlan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ada Bang, aku suka lihat di konten masak-masak gitu yang telurnya kembar.
"Nyarinya di mana? tinggal pakai dua telur aja sudah selesai, jangan aneh-aneh."
"Aku mau telur kembar Bang, biar anak kita juga nanti kembar." Rian mengusap perutnya dengan wajah mendamba kan anak kembar yang ada di rahimnya.
"Memangnya bisa gitu, Kalau orang makan telur kembar anaknya bisa kembar? Herlan kembali menautkan kedua alisnya.
"Iya, kali aja bisa ketularan kembar."
"Nggak ada, nggak ada pendapat kayak gitu." udah buat Indomie sama dia telur aja yang gampang."
"Kalau ada yang sulit Kenapa harus milih yang gampang?" celetuk Rian
"Astagfirullah, ini orang hamil aneh banget." Herlan menyentuh dahi istrinya dengan jari telunjuknya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS