
"Kamu yakin mau berjuang bersamaku Sayang? tanya Robert
"Kita mulai dari awal dan berjuang sama-sama."Mariska menggenggam tangan suaminya dan tersenyum hangat.
"Terimakasih sayang, aku merasa jadi orang yang paling beruntung. Karena Tuhan mengirimkan kamu menjadi jodohku."ucap Robert.
"Jangan terlalu berlebihan, nanti aku terbang!"
"Nggak apa-apa terbang, nanti jatuhnya pas di atas tubuhku."
"Dilarang mesum!"
"Siapa yang mesum? pikiran kamu saja yang kotor."
"Aku yakin gini, juga karena terkontaminasi oleh kamu."ucap Mariska
"Tapi kamu suka kan?"Robert terkekeh
"Tau, ah!"
"Ayo kita mesum bersama. Robert menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam ruko.
***
"Sudah belum? tanya Mariska dengan lemah.
"Bentar lagi Sayang. Nanggung nih."
"Cepetan dong, aku udah nggak kuat nih,"lirih Mariska kembali.
"Tahan, bentar lagi kok Sayang."
"Kamu kuat banget sih?"
"laki-laki itu harus kuat Sayang, Kalau nggak kuat nanti kalah sama perempuan."
"Tau, ah! aku ngantuk nih."Mariska duduk di atas lantai dengan wajah lesu.
sampai malam tiba, mereka masih ada di ruko kosong yang hanya terdapat beberapa rak saja.
Karena sebelumnya Robert menyuruh Leni untuk membawa barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.
Robert turun dari tangga kecil, setelah membuka beberapa poster dari tembok toko.
"Sayang, kamu ngantuk?"tanya Robert seraya mendekat ke arah sang istri.
"Iya, badan aku lengket banget nih, belum mandi."wajah wanita itu terlihat memelas.
"Sebentar lagi selesai, tinggal buka yang bagian itu lagi!"Robert menunjuk ke arah poster yang terpajang di bagian dalam.
"Ya udah, hati-hati ya!"
"Iya, ayo sini. Robert menarik tangan Mariska ke bagian tengah ruko.
Mariska mengikuti langkah suaminya dengan gontai, matanya terasa berat dan kantuk mulai menyerang.
Tadi sore, Ia masih bisa membantu Robert membersihkan ruko. Tapi setelah matahari terbenam matanya ikut mengantuk.
Robert membuka jaket yang dikenakan, dan menaruh jaket itu di atas lantai yang sebelumnya sudah ia sapu.
"Kamu duduk saja dulu di sini. Kalau mau tiduran juga boleh," titah Robert Seraya menunjuk ke arah jaket yang telah diletakkan di atas lantai.
__ADS_1
"Kok jaketnya dibuka? nanti kamu kedinginan loh.
"Nggak kok, kalau pakai gerak mana mungkin dingin. Sudah, kamu tiduran saja dulu di situ kalau ngantuk. Maaf ya aku nggak bisa ngasih alas tidur yang bagus. Nanti, kalau Cafe ini sudah jadi, aku beli kasur deh. Supaya kita bisa tidur bareng." serunya sambil terkekeh.
"Ngaco kamu! masa tidur di cafe sih.
"Nggak apa-apa. Dimanapun tetap nyaman kalau sama kamu sayang." Robert mencolek dagu istrinya
"Lebai! Sejak kapan sih kamu suka sama aku? atau jangan-jangan sebelum kita nikah juga kamu sudah suka sama aku? Ayo ngaku, aja!"sergah Mariska sambil mencondongkan wajah ke arah suaminya.
"Kamu tebak aja sendiri!"
"Iya, kan. Kamu sudah suka sama aku saat kita masih ngampus atau kamu malah suka sama aku pas pertama kali kita ospek, dan kita dihukum bareng disuruh jalan jongkok?" Mariska terkekeh sangat mengingat masa itu.
Dimana mereka belum saling mengenal karena bukan berasal dari SMA yang sama.
"Dulu aku lebih suka jahilin kamu sih, karena kamu tuh orangnya cerewet." Robert menarik hidung mancung istrinya.
"Pantesan kamu tuh suka banget bikin aku kesel."
"Tapi sekarang aku lebih suka bikin kamu mendesah." Robert terkekeh sementara Mariska langsung mencebik kesal.
"Jangan kumat ya, Aku nggak bawa kemenyan nih. Mariska melempar tatapan tajam.
"Aku nggak butuh kemenyan Sayang, aku butuhnya bibir manis kamu." Robert menyentuh bibir seksi istrinya.
"Kamu ngeselin banget sih."
Mariska memberikan pukulan bertubi-tubi pada tubuh suaminya.
"Sssst....ah .." Robert malah mengeluarkan suara *******.
"Kamu, Ah! Nakal banget. Menurut kamu?"
Sudah buruan sana! Aku sudah ngantuk banget nih. Mariska mendorong pelan punggung suaminya.
****
Sementara di tempat lain Andini yang baru menerima sambungan telepon selulernya sangat panik.
"Mas, Opa masuk rumah sakit. Kita harus segera ke sana!"ajak Andini dengan wajah tegang bercampur khawatir.
"Iya, kita berangkat sekarang. Sebentar ya, Dimas mengambil jaket dan kunci mobilnya.
tak lupa pula pria itu mengambilkan jaket untuk sang istri.
"Pakai ini, biar kamu nggak kedinginan. Dimas menyerahkan jaket berwarna pink kepada istrinya."
Andini langsung memakai kain tebal itu dengan cepat.
"Mas, buruan dong." pinta Andini kembali dengan Tak sabar.
jika mendengar kakeknya masuk rumah sakit Andini langsung tak enak pikiran, ia ingin cepat-cepat datang ke tempat di mana kakaknya dirawat.
"Iya kamu tenang dulu, ya. Jangan terlalu panik begini. Dimas mengunci rumah lalu keduanya masuk ke dalam mobil.
"Mas, aku takut banget Opa kenapa-kenapa. Aku belum siap kehilangan Opa. Karena aku tidak akan bisa lagi menemukan manusia seperti Opa." ucap Andini dengan suara bergetar dan sudut mata yang mulai basah.
Kamu pasang sabuk pengaman ya, aku mau ngebut.
Andini hanya mengangguk, lalu tangannya bergerak cepat memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
"Mas, cepat dong." titah Andini dengan Tak sabar tangan Gadis itu bergetar mengeluarkan keringat dingin.
"Iya, kamu sabar sebentar dong. Kalau terlalu mengebut, nanti malah kita yang bahaya." Dimas fokus mengemudi dan menyalip beberapa kendaraan di hadapannya.
Pria itu menggenggam jemari istrinya, yang terasa dingin dan berusaha menenangkan. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai mereka masuk ke arah rumah sakit.
Dimas memarkir dengan mobilnya dengan benar, dan setelah itu Andini langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Tak mempedulikan Dimas yang berusaha mengejar langkahnya. Wanita itu langsung menuju ruangan tempat sang kakek.
Di depan ruangan itu ada kedua orang tuanya Herlan dan juga salah satu asisten rumah tangga menunggu dengan wajah tegang.
"Ma, Pa, gimana keadaan Opa?" tanya Andini dengan panik
"Apa tadi sempat pingsan, dan sekarang ditangani dokter jelas Nyonya Laras.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka seorang dokter dan dua suster keluar dari ruangan tersebut.
Setelah mendapat izin dari dokter, Andini dan keluarganya masuk ke dalam ruangan itu karena Pak Pratama juga sudah siuman.
"Opa, opa jangan sakit kayak gini." Andini memeluk tubuh sang kakek dan menumpahkan tangisnya.
Tuan Pratama mengusap kepala cucunya dengan lembut.
"Herlan dimana? tanya pria berusia senja itu dengan suara lemah. Andini kembali menegakkan kepalanya dan melihat ke arah sang kakak.
"Herlan di sini Opa." jawab Herlan yang berdiri di belakang Andini.
"Herlan, Opa mau bicara sama kamu." ucap Tuan Pratama yang membuat Andini langsung mengerut.
Tidak biasanya sang kakek menanyakan Herlan di saat sedang sakit. Biasanya pria tua itu hanya akan menanyakan Andini yang menjadi cucu kesayangannya.
"Herlan Ke sinilah." Panggil Tuan Pratama kembali seraya menggerakkan tangannya. Herlan mendekat dan berdiri di samping Andini.
"Mampus kau Kak, kayaknya opah bakal nyuruh Kakak cepat kawin." bisik Andini sambil terkekeh ketika membayangkan apa yang akan dikatakan kakeknya kepada sang kakak.
"Siapa takut." bisik Herlan dengan angkuh
"Ada apa Opa?" tanya Herlan seraya membungkukkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kakek.
"Herlan, Kamu tahu kan usia opa sudah tidak mulai lagi?" tanya Tuan Pratama dengan lirih.
"Iya Opa, karena yang muda adalah Herlan.
tapi Opa harus tetap sehat ya." pria itu memberikan senyum hangatnya.
Opo tidak tahu kapan opa akan berpulang. Tapi sebelum itu, Opa ingin melihat kamu menikah karena kamu adalah cucu Opa yang paling besar.
Harlen menggaruk kepalanya yang tak gatal ia sudah mencium bau-bau tidak bersahabat.
"Opa nggak mau menjodohkan Herlan dengan anak teman Opa, kan? tanya Herlan dengan wajah tegang. Ia takut jika dirinya akan bernasib sama dengan sang adik yaitu dijodohkan.
"Kamu tenang saja, Opa tidak akan menjodohkan kamu dengan siapapun. Kamu bebas mencari calon istri. Tapi Opa mau kamu menikah wanita itu secepatnya. Kalau bisa besok langsung saja. Karena Opa merasa waktu Opa tidak akan lama lagi." ucap Tuan Pratama membuat cucunya langsung kalang kabut.
"Oke Opa, aku ke rumah pacarku dulu. Aku akan langsung mengajak dia menikah sekarang juga." Herlan membalikkan badannya dan segera keluar dari ruangan itu.
"Wi dih, ternyata diam-diam kak Herlan sudah punya cewek." seru Andini dengan Tatapan yang tertuju ke arah sang kakak yang menghilang di balik pintu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"