
Andini mandi sangat cepat, Bahkan ia menskip beberapa ritual yang biasa ia lakukan saat membersihkan diri.
Setelah itu, iya keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa. Tak peduli luka yang ia alami.
Namun, iya ntar diam sejenak ketika melihat suaminya sudah tidak ada di kamar.
"Mas, kamu di mana? Mas, kamu nggak ninggalin aku kan? panggilnya dengan wajah tegang.
Tidak ada jawaban apapun atas pertanyaannya, bahkan kamar itu terlihat kosong.
Andini segera memakai bajunya dengan cepat kilat dan keluar dari kamar.
Wanita itu melangkah dengan cepat, padahal luka di bagian lutut kakinya masih belum sembuh. Bahkan mendahului Herlan yang juga sedang menuruni anak tangga.
"Buset! kemarin tidak sadarkan diri karena kecelakaan, sekarang sudah jadi manusia super lagi."ledek Herlan ketika melihat adiknya berjalan dengan sangat cepat.
"Kak Herlan diam! ini gawat."Andini berbicara tanpa menoleh sedikitpun ke arah kakaknya.
"Mas, Tunggu Aku. Kamu di mana? teriak Andini dengan pandangan yang ia edarkan ke sekeliling rumah.
"Mas, jangan tinggalin aku lagi dong!"teriaknya kembali dengan wajah yang semakin terlihat tegang, bahkan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Kenapa Dimas malah meninggalkannya?
Padahal Ia meminta untuk menunggu sebentar saja.
Andini berjalan dengan cepat keluar dari rumah, Bahkan ia hampir menabrak tubuh Sang Ibu yang berpas-pasan dengannya di depan pintu.
"Astagfirullah. Andini, Kenapa berjalan seperti ini?"Nyonya Laras mengusap dadanya karena kaget.
"Ma, Mas Dimas ninggalin aku lagi..... aku harus segera menyusulnya."carocos Andini dengan suara bergetar, air mata kembali lolos dari netra kecoklatan itu.
"Segitunya banget takut ditinggalin lagi."Andini langsung menoleh ke arah sang ayah yang sedang terkekeh.
Namun, matanya langsung membulat ketika melihat Dimas sedang duduk santai di samping Tuan Miko ratama sang ayah.
Wajah Andini seketika berubah menjadi merona, Andini menutup wajahnya dengan tas selempang yang ia kenakan, bukan hanya malu kepada Dimas, tetapi ia juga malu kepada kedua orang tuanya yang kini sedang menertawakannya.
Sangking paniknya, Andini tidak melihat ke arah kursi di teras rumah yang biasa dijadikan tempat santai oleh keluarganya.
"Nyesal kan udah menyia-nyiakan suami setampan dan sebaik Nak Dimas. wanita itu kadang perlu dikasih pelajaran biar paham,"ujar Tuan Miko Pratama dengan Tatapan yang tertuju ke arah putrinya.
"Papa apa apaan sih? Andini tuh cuman mau ikut keluar doang. Kan hari ini libur kuliah, masa Andini diam di rumah terus, kan bosan,"elak wanita itu Seraya memainkan rambutnya.
"Ngeles terus. Kemarin aja pas ditinggalin, mengurung diri di kamar, nangis meraung-raung sambil mencakar tembok."
"Mama! emangnya Andini ini kucing apa?"kesal Andini dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Kamu tuh bukan kucing, tapi macan! tuh lihat,, rambutnya aja berantakan kayak gini. gak malu mau ketemu mertua, tapi kok rambutnya kayak macan bangun tidur."Nyonya Laras mengibaskan rambut putrinya.
"Mama, Andini kan tadi buru-buru jadi nggak sempat menyisir rambut."
"Ma, Pa, kita berangkat dulu ya."Dimas bangkit dan mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Nak Dimas, kalau Andini nakal Lagi, ikut aja di pohon kencur ya,"gurau Nyonya larasat Dimas mencumbung tangannya.
"Siap, Ma."Dimas tersenyum ramah.
Setelah bersalaman, keduanya segera masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke rumah sakit.
"Mas, rambut aku jelek ya?"tanya Andini Seraya menyisir rambut dengan jemarinya.
"Tidak !"jawab Dimas singkat dan masih fokus mengemudi.
"Singkat banget sih!"gerutu Andini dengan bibir mengerucut.
"Mas, kita ke pengadilan agama dulu yuk!"
"Mau ngapain?"
"Mencabut gugatan cerai yang kemarin."
"Kita harus segera ke rumah sakit, Papa sudah menunggu."Dimas masih menatap karang jalanan.
"Kamu kenapa sih? maksa banget."
"Aku tuh cuman mau memastikan kalau gugatan cerai itu sudah dihapus dari pengendalian agama."
"Segitunya kamu takut kehilangan saya? Dimas milik sekilas ke arah istrinya.
"Ihh..... ngeselin banget sih. Aku cuman nggak mau jadi janda di usia muda."
"Kalau di usia tua, mau dong?"Dimas tersenyum tipis.
"Ikh, amit-amit. Pokoknya aku mau sekali seumur hidup!"Andini memeluk lengan berotot Dimas dan menyandarkan kepala pada tangan kekar itu.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit tempat Tuan Anggara dirawat.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas keluar terlebih dahulu, sementara Andi Ini masih dia menunggu pintu mobil dibukakan.
Setelah beberapa saat, pintu mobil tak kunjung terbuka.
Andini melihat ke arah kaca mobil, ternyata suaminya sedang menerima telepon dan berjalan terlebih dahulu.
Wanita itu membuka pintu mobil sendiri dan setelah keluar, iya menutupnya kembali dengan kasar sampai menimbulkan bunyi keras.
__ADS_1
Dimas yang sedang menerima telepon tak mengalihkan pandangannya sedikitpun karena Andini yang sedang meremas jemari, menahan kekesalannya.
"Sabar Andini, sabar! anggap saja ini ujian....fyuhhhh...."wanita itu membuang nafas kasar dan segera mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam rumah sakit.
Andini berusaha mensejajarkan diri dengan Dimas yang melangkah dengan lebar.
"Mas, kamu jalannya cepat banget sih,"protes Andini saat mereka telah tiba di depan pintu kamar pasien yang menjadi tujuan.
"Kamunya aja yang jalannya lambat."Dimas membuka pintu dan kembali berjalan terlebih dahulu.
"Hello Dimas, Selamat pagi! siapa seorang wanita yang mengenakan dress selutut dengan dada terbuka lebar, bahkan belahan dadanya terlihat.
Alena berjalan dengan anggun ke arah Dimas sambil merentangkan tangannya, seolah akan memeluk.
Andini yang melihat itu, membulatkan mata dan segera berdiri di hadapan Dimas, menghalangi Alena yang akan memeluk suaminya.
"Minggir!"Alena menyenggol tubuh ramping Andini agar menjauh.
"Eh, Tante, Mas Dimas ini suami saya. jangan coba-coba menjadi pelakor."
"Tante, tante. Saya ini bukan tante kamu,"sangkal Alena dengan kesal.
"Biarin, kamu tuh memang udah tante-tante. mending cari laki-laki lain sana! kayak nggak laku aja mau godain suami orang. Eh, atau jangan-jangan Tante ini benar nggak laku."Andini terkece yang membuat Alena menghafalkan tangannya dengan sorot mata tajam.
"Jaga bicaramu ya? Dimas ini mantan pacar saya dan dia masih mencintai saya dan"
"Hah? mantan pacar? Kenalin, istri sah Mas Dimas."Andini mengeluarkan tangannya ke arah Alena dengan angkuh.
"Sombong banget kamu. lihat saja, saya akan pastikan Dimas kembali lagi ke dalam pelukan saya. karena Dimas masih mencintai saya."ucap Alena dengan angkuh.
"Silakan kalau bisa!"
Andini berjinjit dan memberi kecupan singkat pada wajah tampan suaminya yang membuat Alena semakin memanas.
"Dasar cabe-cabean!"Alena menggerakkan tangannya, akan menjambak rambut Andini, tetapi Dimas langsung menahan lengan wanita itu.
"Alena, cukup! pergi dari sini sebelum aku mengusirmu dengan kasar."ucap Dimas dengan nada datar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.
__ADS_1