
Acara opening Hotel itu berlangsung cukup lama dan hampir tengah malam.
Semua tamu undangan yang datang serta pengunjung mulai kembali kediaman masing-masing. Termasuk Dimas dan Andini yang kini telah tiba di rumah mereka.
"Aduh, Akhirnya nyampe juga."Andini membuang nafas lega ketika kakinya telah menginjak teras rumah.
"Alhamdulillah, acaranya lancar ya." ucap Dimas sambil membuka kunci rumahnya.
"Iya Mas, Alhamdulillah semoga kedepannya lebih lancar lagi." timpal Andini seraya mendekat ke arah suaminya.
Dimas membuka pintu dan mempersilahkan sang istri masuk terlebih dahulu. Setelah itu ia ikut masuk dan mengunci kembali pintu rumahnya.
Keduanya masuk ke dalam kamar secara bersamaan. Dimas langsung melepas tuxedo yang dikenakannya.
Sementara Andini berjalan ke arah meja rias untuk menghapus make up yang menempel pada wajahnya.
Namun, sebelum itu Dimas sudah mendekat dan menahan tangannya, akan melepas bulu mata palsu.
"Mas ngapain?" tanya Andini dengan Tatapan yang terarah ke wajah suaminya yang sedang tersenyum menggoda.
"Jangan dulu dihapus sayang, kita lembur dulu.
"Lembur, aku sudah nggak betah nih pakai make up sama baju kayak gini."
"Mas mau menikmati keindahan milikku, bajunya biar Mas aja yang buka." Dimas menurunkan resleting pada gaun yang dikenakan istrinya.
"Mas, modus banget."
"Biarin, kalau kayak gini, kan kesannya kayak pengantin baru yang mau malam pertama." Dimas mengendong tubuh istrinya naik ke atas kasur yang diiringi tawa keduanya.
****
"Rianti , kaos aku di mana? tanya Herlan setelah membuka kemejanya dan akan berganti dengan kaos tipis yang biasa ia kenakan saat tidur.
"Tahu! cari aja sendiri."balas Rianti sedikit Ketus.
Herlan langsung menoleh ke arah istrinya yang sedang duduk santai di atas kasur sambil bermain ponsel.
Biasanya Rianti selalu menyiapkan pakaian untuk suaminya. Namun, kali ini wanita itu malah cuek seakan tak peduli.
__ADS_1
"Dek, kaos Abang di mana? Kok tumben nggak nyiapin baju? tanya Herlan kembali dengan langkah yang semakin mendekat ke arah istrinya.
Pria itu hanya mengenakan sarung yang melingkar pada pinggangnya, karena ia akan berganti pakaian.
Rianti menahan senyumnya ketika mendengar panggilan Herlan yang begitu lembut. Namun, tekadnya sudah bulat untuk masuk ke mode bad mood karena sikap Herlan sewaktu di hotel tadi.
"Ya cari sendiri lah, baju-baju sendiri." balas Rianti tanpa menoreh ke arah Herlan yang bertelanjang dada di sampingnya.
"Kamu kenapa sih? tidak biasanya seperti ini."Herlan duduk tepat dihadapan istrinya.
"Ya nggak apa-apa, kenapa memangnya?
"Biasanya kamu nggak kayak gini loh. kamu selalu nyiapin pakaian aku."Herlan menatap ke arah istrinya dengan heran.
"Kan bisa nyiapin sendiri! kenapa juga harus aku terus,"balas Rianti kembali dengan Tatapan yang masih tertuju karena layar ponsel yang digenggamnya.
Herlan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pria itu mendekat dan merampas ponsel dari tangan Rian.
"CK .. Kenapa diambil? tanya Rianti dengan wajah kesal.
"Kamu harus ngomong dulu. Kenapa kayak gini? Herlan menyembunyikan ponsel itu di belakang punggungnya agar Rian tidak dapat merampasnya kembali.
"Kalau ada apa-apa ngomong. Jangan cuekin aku, jutekin aku kayak gini. Kenapa! Ayo ngomong! kuping aku masih gede nih!"Herlan mendekatkan telinganya ke arah sang istri yang langsung di tarik oleh Riyanti.
"Nggak lucu! ketus wanita itu dengan bibir mengerucut.
"Siapa yang ngelawak? Kamu kenapa sih? sini ngomong! biar Abang dengerin."Herlan menopang dagu pada tangannya dan menatap Rian dengan intens.
Wanita itu tersenyum tipis saat Herlan menatapnya seperti itu.
"Nggak mau lah, kamu juga nggak mau cerita.
"Cerita apa? tuh kan sekarang manggilnya aja udah beda. Nggak mau ah, kamu aja nggak mau cerita! Herlan mempraktekkan gaya bicara sang istri.
"Memangnya kenapa? Mau dipanggil apa? Di panggil, Herlan gitu? biar sama kayak mantan kamu itu,"carocos Rian dengan wajah kesal.
"Oh aku paham. Jadi kamu kayak gini gara-gara Larissa? gara-gara tadi aku ketemu Larissa pas di resto, iya begitu?
"Bukan! ketemu mah siapa aja kali."
__ADS_1
"Terus kenapa kamu tiba-tiba begini. Biasanya juga sebelum tidur kamu siapin baju aku peluk aku.
"Tau ah, nggak ngerti banget perasaan perempuan." Rian merebahkan tubuhnya dengan kesal.
"Mau ngerti gimana coba, orang kamu nya aja nggak cerita." Herlan ikut merebahkan tubuhnya dan menghadap ke arah Rian.
"Kamu juga nggak mau cerita." kesal Rianti.
"Cerita apa? cerita si kancil? atau cerita Tom and Jerry?
"Itu mah dongeng!
"Terus apa? jangan buat aku bingung dong."
"Cerita yang waktu di resto. Kenapa coba tiba-tiba kamu memotong ucapan Larissa, pas dia mau cerita tentang kalian." tutur Rian yang membuat suaminya mengangguk paham.
"Oh, jadi itu masalahnya. Kenapa nggak ngomong dari tadi. Herlan mencubit gemas pipi istrinya.
"Kenapa kamu juga nggak ngerti?
"Ini nih, kebiasaan cewek tuh kayak gini uring-uringan nggak jelas. Pas ditanya jawabannya nggak kenapa-kenapa. Padahal aslinya suruh cowoknya yang nebak sendiri akar permasalahannya." Herlan membuang nafas kasar.
"Cowoknya aja kurang peka."
"Kan pas, di ujungnya kayak gini. Kurang peka lah, kurang perhatian lah, apa setiap cowok itu harus menjadi paranormal? biar bisa membaca Apa yang dipikirkan ceweknya? Herlan menyentil pelan dahi sang istri.
"Ya Sudah, buruan cerita yang sebenarnya apa yang dikatakan Larissa. Kenapa tiba-tiba kamu motong ucapan Larissa? pasti ada sesuatu kan?" tuduh Rian dengan mata yang menatap intens wajah suaminya.
"Aku motong ucapannya Larissa karena aku nggak mau aja dia terlalu lama duduk di depan kita."
"Benar? Terus yang sebenarnya ingin Larissa ceritakan itu apa? tanya Rian
Herlan tidak langsung menjawab dia memilih diam yang membuat Rian penasaran.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"