
Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan pria bertelanjang dada.
"Kamu ngintip saya!"tuduh Dimas yang Langsung mengembalikan kesadaran Andini, yang sudah dari tadi mematung menatap Dimas dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Iya, kan kamu ngintip saya? kamu mau lihat tubuh sixpack saya, kan?"
Dimas menatap wajah Andini dengan aku. Padahal Andini tadinya hanya menunggu dirinya di luar pintu kamar mandi, karena Dimas terlalu lama keluar dari kamar mandi mengingat Andini, ingin sekali mengeluarkan hajat yang sudah tidak tertahan lagi.
"Amit-amit jabang bayi. Buat apa Saya mengintip bapak, Yang ada bapak yang mengintip saya nanti, jika mandi dan akhirnya keenakan! Awas kalau bapak mengintip saya nanti, aku akan memberikan Bapak pelajaran.
"Kalau tidak mengintip Terus kamu ngapain di pintu kamar mandi?
"Bapak terlalu lama berada di kamar mandi, mandinya sudah seperti seorang perempuan, kalah malah perempuan. Lihat tuh jam Sudah jam berapa, hampir satu jam Bapak berada di kamar mandi.
Apa Bapak pikir aku tidak butuh kamar mandi juga pagi-pagi seperti ini?
Karena setiap pagi rutinitas saya setiap bangun tidur, pasti akan membuang hajat yang tidak tertahan akan keluar di jam pagi-pagi seperti ini. Apakah Bapak paham itu? Tapi bapak sengaja lama-lama kan. Di kamar mandi itu artinya. Bapak membiarkan saya menahan rasa sakit perut yang saya." ucap Andini sambil memicingkan matanya.
"Awas ya kalau kamu bintitan berarti beneran ngintip saya!"Dimas memberikan tatapan mautnya, lalu ia melangkah ke arah lemari pakaian, meninggalkan Andini yang sedang melayangkan tinju di udara dari jauh ke arah punggung Dimas.
"Kalau berani jangan cuman dibelakang, sini!" tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
Andini terkesiap ketika Dimas mengetahui apa yang dilakukannya barusan
"Astaga! jangan-jangan mata dia ada di belakang juga."ucap Andini dalam benaknya, dengan mata yang menatap heran ke arah suaminya.
Gadis itu segera masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Setelah mengeluarkan hajat yang tidak tertahan sebelumnya. Ia langsung melakukan ritual mandinya. Andini membuka pintu sedikit untuk memastikan Apakah suaminya masih ada di kamar atau tidak.
"Hufff.... dia nggak ada di kamar."Andini membuang nafas lega ketika matanya tidak menangkap sosok suaminya.
__ADS_1
Andini segera keluar hanya dengan menggunakan handuk sebatas lutut, Andini segera memakai pakaian lengkap dengan tergesa-gesa, takut jika suaminya tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Setelah mengoleskan bedak baby tipis pada wajah yang masih terlihat imut, Andini keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"Cieeee... pengantin baru jalannya sampai ngangkang."Ciledug Herlan dari belakang. membuat Andini segera membalikkan badannya, matanya langsung menatap tajam ke arah Herlan
Bagaimana tidak, Herlan asal bicara saja, dia tidak tahu apa yang terjadi di antara Andini dan juga Dimas malam tadi tapi mulutnya ngerocos aja.
"Harusnya yang nikah sama Pak Dimas itu kamu aja, bukan aku." ketus Andini.
"Amit-amit Memangnya kamu kira aku terong makan terong? aku masih normal kali balas Herlan
"Normal, kok masih jomblo." cibir Andini.
"Siapa bilang? bentar lagi aku bakal bawa cewek aku buat dikenalin sama papa dan mama."
"Jangan cuma ngomong, buktikan!"Andini bersedekap dada.
"Okey, kalau terbukti aku bawa cewek ke sini. uang jajan kamu dipotong." ancam Herlan membuat mata Andini membulat
"Pasti protes dong, aku akan ngomong kepada Papa dan Mama uang jajan kamu dipotong lima puluh persen, itu karena tingkah kamu.
"Minta sana sama suami kamu!"Herlan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Andini yang menjadi kesal.
Andini menuruni anak tangga dengan gontai, menghampiri sang ibu yang sedang menatap hidangan di atas meja makan.
"Ya ampun, pengantin baru lemas banget kelihatannya."celetuk Nyonya Laras ketika melihat putrinya duduk di kursi dengan lesu.
"Apaan sih mah? Andini mengerucutkan bibirnya. Terlihat Andini langsung menyantap sarapan paginya tanpa peduli suaminya berada di hadapannya.
"Ya sudah, kalau sudah siap sarapan kita berangkat. Nanti, takut terlambat."ajak dimas seraya melirik jam tangannya.
"Ck.... nggak bisa gitu libur sehari aja."Andini mengerucutkan bibirnya. Belum siap Andini menghadapi teman-temannya, setelah pernikahan tertutup yang baru terlaksana olehnya.
__ADS_1
"Kamu mau honeymoon? nanti kita cari waktu yang tepat."ucap Dimas membuat Andini langsung menatap tajam ke arahnya.
"Iya Andini. benar kata Dimas, nanti kalau mau honeymoon Kalian cari waktu yang tepat saja. Sekarang Dimas lagi banyak pekerjaan." ucap Nyonya Laras yang membuat Andini mengepalkan tangan dengan Gigi mengerat, menahan kekesalannya.
"Ya sudah, Ma kita berangkat dulu. Ayo Sayang."ajak Dimas yang membuat Andini terdiam mematung, ketika mendengar panggilan sayang dari sang dosen killer yang merupakan sudah sah menjadi suaminya.
"Kenapa Dimas tiba-tiba berubah menjadi sok manis seperti itu? alibi! Pasti karena di hadapan Mama dan Papa begitu juga dengan Opa.
"Andini, Jangan bengong aja. Sudah cepat berangkat, Nanti telat. Jangan mentang-mentang suami kamu seorang dosen, dan juga putra dari pemilik kampus, jadi bisa masuk kuliah seenaknya."omel Nyonya Laras yang membuat Andini ingin segera pergi.
"I....Iya Ma. Andini berangkat dulu."Andini segera bangkit dan mencium punggung tangan ibunya, Begitu juga dengan Dimas yang mengikuti gerakan yang sama mencium punggung tangan sang mertua.
Andini berjalan terlebih dahulu dan mengambil helm di sebuah lemari.
"Ngapain kamu bawa helm?"tanya Dimas dengan dahi mengerut.
"Memangnya kenapa? Saya akan naik motor, masa aku nggak pakai helm, nanti jadi kena tilang dong. Terus kalau saya kena tilang, jadi bolos kuliah . Tentunya Aku tidak mau, di samping Karena Mama akan mengomel, aku juga wanita yang cerdas, dan berprestasi di kampus. Dan sering sekali mengharumkan nama kampus, ingat itu pak dosen!" ucap Andini menyombongkan diri. Membuat Dimas menetap tajam ke arahnya.
"Siapa yang nyuruh kamu naik motor?"tanya Dimas kembali dengan nada datar.
"Tidak ada yang nyuruh, Lagian pak dosen tahu sendiri kalau saya ke kampus selalu menggunakan motor kesayangan saya ini."Andini langsung memakaikan helm, sarung tangan dan hendak menaiki motor ninja miliknya.
Andini sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan teman-teman geng motor yang selalu setia menunggu dirinya, saat jam mata kuliah Telah usai. Andini selalu meluangkan waktunya untuk berkumpul dengan teman-temannya. Di samping Andini wanita yang sangat cerdas, dia juga tidak pernah melupakan sesuatu yang namanya tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa.
Hal itulah yang membuat dosen-dosen lainnya selalu senang dan respon terhadap Andini, walaupun penampilan dan sikapnya seperti terlihat urakan, tapi namanya tidak pernah mencoreng nama baik kampus.
Namun, belum juga Ia menghidupkan motor ninja miliknya. Dimas menarik tangannya sampai membuat gadis itu turun dari motor Ninja nya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN